Memuat...

Ulama Dunia Serukan Gencatan Senjata Ramadhan antara IIA dan Pakistan

Hanoum
Ahad, 8 Maret 2026 / 19 Ramadan 1447 03:08
Ulama Dunia Serukan Gencatan Senjata Ramadhan antara IIA dan Pakistan
Ali Mohiuddin al-Qaradagh. [Foto: AMU TV]

DOHA (Arrahmah.id) -- Ketua Persatuan Ulama Muslim atau International Union of Muslim Scholars (IUMS) menyerukan gencatan senjata selama bulan suci Ramadhan antara Imarah Islam Afghanistan (IIA) dan Pakistan menyusul meningkatnya bentrokan bersenjata di perbatasan kedua negara. Seruan tersebut diharapkan dapat meredakan eskalasi konflik dan membuka peluang dialog damai di kawasan yang selama beberapa minggu terakhir dilanda pertempuran.

Dalam pernyataannya, seperti dilansir AMU TV (7/3/2026), Ketua IUMS mendesak kedua pihak untuk menghentikan permusuhan selama Ramadhan sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan suci umat Islam. Ia menekankan bahwa konflik bersenjata yang terjadi saat ini justru menambah penderitaan masyarakat sipil dan memperburuk stabilitas regional. Seruan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya pertempuran lintas batas antara IIA dan militer Pakistan.

Seruan itu muncul ketika bentrokan bersenjata antara pasukan IIA dan tentara Pakistan telah berlangsung selama beberapa hari di berbagai wilayah perbatasan timur Afghanistan. Sumber lokal melaporkan pertempuran sporadis terjadi di provinsi Khost, Paktia, Paktika, Nangarhar, dan Kunar dengan saling tembak artileri dan serangan udara dari pihak Pakistan.

Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak Pakistan menuduh pemerintah IIA di Kabul memberikan tempat aman bagi kelompok militan Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) yang kerap melancarkan serangan di wilayah Pakistan. IIA membantah tuduhan tersebut dan menyebut serangan militer Pakistan ke wilayah Afghanistan sebagai pelanggaran kedaulatan negara.

Konflik ini bahkan berkembang menjadi konfrontasi militer terbuka yang oleh sejumlah analis disebut sebagai bagian dari perang perbatasan Afghanistan–Pakistan yang dimulai pada Februari 2026. Pertempuran tersebut melibatkan serangan udara, operasi darat, serta pertempuran di sejumlah pos militer di sepanjang garis perbatasan kedua negara.

Sebelumnya, kedua pihak sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025 setelah perundingan yang dimediasi oleh Qatar dan Turki. Namun kesepakatan tersebut rapuh dan beberapa kali dilanggar sehingga bentrokan kembali terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Muslim berharap seruan gencatan senjata selama Ramadan dapat menjadi momentum untuk menghentikan kekerasan dan membuka kembali jalur diplomasi antara Kabul dan Islamabad. Mereka juga menekankan bahwa penghentian konflik sementara selama bulan suci dapat membantu mengurangi penderitaan warga sipil di wilayah perbatasan yang terdampak pertempuran. (hanoum/arrahmah.id)