Memuat...

Untuk Pertama Kalinya, Pentagon Akui Amunisi AS Menipis akibat Perang dengan Iran

Zarah Amala
Rabu, 16 September 2026 / 5 Rabiulakhir 1448 10:31
Untuk Pertama Kalinya, Pentagon Akui Amunisi AS Menipis akibat Perang dengan Iran
Pasukan AS telah menggunakan sejumlah besar rudal canggih, termasuk Tomahawk, selama perang melawan Iran. (Foto: DVIDSHUB/Wikimedia)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Pentagon untuk pertama kalinya mengakui bahwa perang Amerika Serikat dengan Iran telah menyebabkan kekurangan amunisi dan hambatan dalam rantai pasokan senjata, berlawanan dengan sejumlah pernyataan pejabat pemerintahan Donald Trump yang sebelumnya menyangkal persoalan tersebut.

Pengakuan itu tercantum dalam laporan pertama inspektur jenderal Departemen Pertahanan AS yang diwajibkan Kongres. Laporan yang dirilis Senin tersebut mencakup periode sejak perang dimulai pada 28 Februari hingga 30 Juni.

Laporan menyebut konflik menyebabkan kekurangan amunisi ketika Pentagon berupaya mengganti persenjataan yang telah digunakan selama berbulan-bulan. Laporan juga menemukan sejumlah hambatan dalam rantai pasokan pertahanan yang mempersulit upaya memulihkan persediaan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pentagon disebut mempercepat proses pengadaan dan waktu produksi serta menimbun bahan baku, komponen, dan sejumlah jenis amunisi penting.

Menurut laporan tersebut, operasi militer AS terhadap Iran menelan biaya sekitar 33,4 miliar dolar AS hingga 30 Juni. Dari jumlah itu, 22,3 miliar dolar digunakan untuk amunisi, sementara 3,7 miliar dolar terkait kehilangan peralatan dan 7,4 miliar dolar untuk pengeluaran lainnya.

Laporan itu belum memasukkan biaya perbaikan fasilitas militer AS yang rusak.

Sebelumnya, NBC News melaporkan perkiraan internal pemerintah AS bahwa biaya perang dapat mencapai 80–100 miliar dolar hingga Juli. Pentagon saat itu memperkirakan biaya sekitar 37,5 miliar dolar, tetapi angka tersebut belum mencakup penggantian pesawat yang hancur, perbaikan pangkalan, maupun pengisian kembali persediaan senjata.

Pesawat dan Drone AS Rusak

Inspektur jenderal juga mencatat kerugian besar pada peralatan militer AS selama empat bulan pertama perang.

Sebanyak empat jet tempur F-15E dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan berat, bersama satu F-35A dan satu A-10 Warthog. Selain itu, 12 pesawat pengisi bahan bakar KC-135 dan sembilan pesawat lainnya juga dilaporkan hancur.

Lebih dari 30 drone MQ-9 juga disebut telah dihancurkan hingga Juni, berdasarkan data yang dikutip dari Congressional Research Service.

Laporan tersebut memberikan gambaran mengenai dampak serangan Iran terhadap aset militer AS yang sebelumnya tidak sepenuhnya diungkapkan kepada publik.

Laporan inspektur jenderal juga menjadi salah satu konfirmasi resmi pertama bahwa Iran menyerang pusat logistik utama Angkatan Laut AS di Bahrain menggunakan drone dan rudal balistik.

Fasilitas tersebut memiliki peran penting dalam mendukung operasi Angkatan Laut AS di Timur Tengah.

Serangan Iran juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas AS di sejumlah negara. Departemen Luar Negeri AS mengalami kerusakan senilai lebih dari 208 juta dolar di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Lebih dari 20.000 Personel AS Dipindahkan

Serangan Iran juga memaksa AS memindahkan lebih dari 20.000 personel militer dan diplomatik dari sejumlah lokasi di kawasan.

Sebagian personel yang terluka harus menjalani evaluasi medis secara lokal. Beberapa korban bahkan dibawa menggunakan ambulans setempat setelah kemampuan evakuasi udara AS dipindahkan karena alasan keamanan.

Pasukan AS juga melakukan hingga 5.000 penerbangan dari pangkalan di Eropa untuk mendukung operasi perang.

Temuan Pentagon tersebut muncul lebih dari enam bulan setelah Trump sebelumnya memperkirakan perang hanya akan berlangsung beberapa pekan. Konflik justru berlanjut hingga musim panas dan menghabiskan puluhan miliar dolar untuk persenjataan serta peralatan militer.

Trump pada akhir pekan mengakui perang tersebut dapat berlangsung hingga “tepat setelah” pemilu paruh waktu November, meski ia tetap membuka kemungkinan konflik berakhir lebih cepat. (zarahamala/arrahmah.id)