Memuat...

AS Siapkan 40 Ribu Bom untuk "Israel" Senilai Rp45 Triliun, Mayoritas Berdaya Hancur Tinggi

Samir Musa
Rabu, 16 September 2026 / 5 Rabiulakhir 1448 09:27
AS Siapkan 40 Ribu Bom untuk "Israel" Senilai Rp45 Triliun, Mayoritas Berdaya Hancur Tinggi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana mengirim persenjataan senilai sekitar 2,8 miliar dolar AS kepada "Israel". Paket senjata tersebut mencakup puluhan ribu bom berbobot 2.000 pon atau sekitar 907 kilogram per unit.

Rencana pengiriman itu dilaporkan The Washington Post dan Reuters, dengan mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat yang mengetahui rencana tersebut.

Menurut seorang pejabat AS yang mengetahui kesepakatan itu, paket persenjataan tersebut mencakup 20.000 bom MK-84 yang dikenal dengan julukan “Hammer”, 20.000 bom BLU-117, serta 20.000 hulu ledak penghancur bunker I-2000.

Jika disetujui, paket tersebut akan menjadi salah satu pengiriman terbesar bom berbobot 2.000 pon kepada "Israel". Nilainya juga melampaui kesepakatan senjata senilai 2,04 miliar dolar AS yang disetujui pada 2025 dan ketika itu menuai kontroversi karena melewati prosedur peninjauan normal di Kongres.

Momen runtuhnya Menara Mushtaha di pusat Kota Gaza setelah menjadi sasaran langsung pesawat tempur "Israel" (Al Jazeera).

Bom “Hammer” dengan daya hancur besar

MK-84 merupakan salah satu amunisi konvensional dengan daya ledak paling besar dalam persenjataan militer Barat. Ledakannya dapat menyebarkan pecahan logam hingga jarak ribuan kaki, sekaligus mampu menembus beton dan logam tebal serta menghasilkan kawah berukuran besar.

Para pilot Amerika memberikan julukan “Hammer” kepada MK-84 selama Perang Teluk pada 1991.

Bom tersebut menjadi satu-satunya jenis bom berbobot 2.000 pon yang pengirimannya kepada "Israel" sempat ditangguhkan Presiden AS sebelumnya, Joe Biden, pada 2024. Kebijakan itu diambil di tengah kekhawatiran mengenai potensi jatuhnya korban sipil.

Namun, kebijakan tersebut kemudian dibatalkan Trump pada Januari 2025.

Militer "Israel" diketahui menggunakan bom berbobot 2.000 pon secara luas dalam perang di Gaza dan Lebanon. Penggunaan senjata berdaya hancur besar di wilayah padat penduduk menuai kritik dari sejumlah pakar hak asasi manusia, terutama karena bom jenis tersebut juga digunakan di kawasan Gaza yang sebelumnya ditetapkan "Israel" sebagai zona aman bagi warga sipil.

Brian Finucane, penasihat senior International Crisis Group, mengatakan terdapat “kekhawatiran nyata” mengenai bagaimana senjata tersebut akan digunakan di kawasan berpenduduk padat, mengingat pola penggunaan senjata "Israel" selama perang di Gaza dan Lebanon selatan.

Tucker Carlson soroti besarnya daya hancur

Komentator media Amerika Serikat Tucker Carlson juga mengkritik rencana pengiriman tersebut. Ia menyebut total daya hancur dari puluhan ribu bom itu sangat besar dan mempertanyakan penggunaan dana pembayar pajak Amerika untuk mendukung pengiriman persenjataan ke "Israel".

Menurut Carlson, pendanaan tersebut berasal dari program Foreign Military Financing (FMF), di mana Kongres mengalokasikan dana yang kemudian digunakan pemerintah AS untuk membantu "Israel" memperoleh persenjataan buatan Amerika.

Carlson juga menuding tindakan pemerintah "Israel" di Gaza sebagai genosida dan menyatakan kekhawatirannya bahwa persenjataan baru tersebut dapat digunakan dalam operasi militer di Lebanon maupun wilayah lain di Timur Tengah.

Dukungan AS terhadap "Israel" dipertanyakan

Perdebatan mengenai bantuan militer Amerika kepada "Israel" juga muncul di tengah perubahan pandangan sebagian pemilih AS.

Survei Universitas Quinnipiac pada Juni lalu menunjukkan 48 persen pemilih Amerika menilai dukungan AS kepada "Israel" terlalu besar. Angka tersebut meningkat dibandingkan 16 persen ketika pertanyaan serupa pertama kali diajukan pada 2017.

Di kalangan pemilih Partai Demokrat, 66 persen responden dalam survei terbaru menilai dukungan AS kepada "Israel" terlalu besar, dibandingkan 20 persen pada 2017.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan di Gaza menyebut lebih dari 73.000 warga Palestina telah syahid akibat serangan militer "Israel" sejak perang berlangsung.

Sebuah penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyimpulkan bahwa "Israel" telah melakukan genosida di Gaza, sebuah temuan yang menjadi bagian dari perdebatan internasional mengenai tindakan "Israel" selama perang tersebut.

(Samirmusa/arrahmah.id)