YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu memperingatkan kelompok-kelompok yang dianggap sebagai musuh 'Israel' agar tidak melancarkan serangan baru. Ia menegaskan, 'Israel' akan memberikan “pukulan yang jauh lebih berat” jika kembali diserang.
Dalam pernyataannya, seperti dilansir Arab News (15/9/2026), Netanyahu memperingatkan bahwa 'Israel' akan mengambil tindakan militer lebih keras terhadap pihak yang menyerang wilayahnya. Ancaman itu disampaikan di tengah kekhawatiran meluasnya konflik antara 'Israel' dan kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Netanyahu juga menyinggung konflik dengan milisi Syiah Hizbullah, kelompok bersenjata yang berbasis di Lebanon. Ia mengatakan 'Israel' tidak akan membiarkan serangan terhadap wilayah utara negara itu berlangsung tanpa respons. Pernyataan tersebut muncul setelah terjadi pertukaran tembakan lintas perbatasan antara militer 'Israel' dan Hizbullah, yang merupakan eskalasi paling serius sejak perang kedua pihak pada 2006.
Dalam perkembangan sebelumnya, Netanyahu bahkan memperingatkan bahwa jika Hizbullah memperluas serangan, wilayah utara Lebanon dapat mengalami kehancuran seperti yang terjadi di Jalur Gaza. Ia menyatakan' Israel' akan melakukan “apa pun yang diperlukan” untuk mengembalikan keamanan bagi masyarakat di wilayah utara 'Israel'.
Ketegangan 'Israel'–Hizbullah meningkat setelah serangkaian serangan lintas perbatasan menyusul serangan kelompok perlawanan Palestina Hamas ke 'Israel' pada 7 Oktober 2023. Situasi semakin rumit setelah seorang pemimpin senior Hamas, Saleh al-Arouri, tewas dalam serangan udara di Beirut. 'Israel' tidak secara resmi mengakui keterlibatannya dalam serangan tersebut, tetapi insiden itu memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke Lebanon dan wilayah lain di kawasan.
Menurut laporan Anadolu Agency, Netanyahu menyatakan 'Israel' telah memberikan contoh mengenai tindakan yang dapat dilakukan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap mengancam keamanannya. Ia merujuk pada operasi militer 'Israel' di Gaza sebagai gambaran mengenai respons yang mungkin diterapkan terhadap Hizbullah apabila serangan terhadap Israel terus berlanjut.
Ancaman Netanyahu disampaikan ketika masyarakat di kedua sisi perbatasan Israel–Lebanon menghadapi risiko kekerasan yang semakin besar. Pertukaran serangan telah memicu kekhawatiran mengenai pengungsian warga sipil, kerusakan infrastruktur, serta kemungkinan terbukanya front perang baru di luar Jalur Gaza.
Meski demikian, pernyataan Netanyahu merupakan peringatan dan ancaman politik-militer, bukan konfirmasi bahwa operasi militer baru telah dimulai. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada tindakan 'Israel', Hezbollah, serta upaya diplomatik untuk mencegah konflik meluas di kawasan Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)
