ASAHAN (Arrahmah.id) — Insiden dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Asahan, Sumatra Utara, Senin (14/9). Puluhan siswa mengalami sejumlah gejala seperti mual, muntah, lemas, hingga pusing setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan di sekolah.
Sebanyak 15 siswa dengan kondisi paling parah bahkan harus dievakuasi ke rumah sakit menggunakan ambulans Polres Asahan.
Kepala MTsN 2 Asahan, Damanhuri Lubis, mengungkapkan kronologi kejadian tersebut. Dia mengatakan, makanan MBG tiba di sekolah sekitar pukul 11.00 WIB dan kemudian dibagikan kepada siswa saat jam istirahat sekitar pukul 12.00 WIB.
Sebelum didistribusikan, pihak sekolah mengaku telah melakukan prosedur penerimaan dan pemeriksaan awal terhadap paket makanan melalui tim piket.
Namun, sekitar 20 hingga 30 menit setelah makanan dibagikan, seorang guru melaporkan adanya makanan yang diduga sudah tidak layak dikonsumsi.
“Guru melaporkan ada makanan yang tak sehat, beraroma tak enak. Pas saya lihat dan sentuh, memang sedikit ada lendirnya,” kata Damanhuri kepada merdeka.com, Selasa (15/9).
Mendapat laporan tersebut, Damanhuri langsung mengambil langkah cepat dengan mengumumkan imbauan melalui mikrofon sekolah. Seluruh siswa dan guru diminta menghentikan aktivitas makan serta mengembalikan paket MBG yang telah diterima.
Diperkirakan sekitar 40 persen siswa MTsN 2 Asahan saat itu sudah sempat mengonsumsi makanan yang dibagikan.
Tidak lama kemudian, pihak sekolah kembali memberikan pengumuman. Siswa yang mulai merasakan gejala seperti mual, pusing, atau muntah diminta segera mendatangi Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk mendapatkan penanganan awal.
“Sekitar 10 menit setelah pengumuman, ruang UKS yang kecil langsung ramai. Ada sekitar 30-an siswa yang datang dengan kondisi mual, muntah-muntah, lemas, hingga menangis menahan sakit,” ujar Damanhuri.
Jumlah siswa yang mengalami gejala kemudian terus bertambah. Karena kapasitas UKS dan tenaga medis yang tersedia terbatas, pihak sekolah segera menghubungi pengelola program MBG serta kepolisian untuk meminta bantuan dalam penanganan dan evakuasi para siswa.
Sebanyak 15 siswa yang mengalami gejala paling parah akhirnya dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans Polres Asahan.
“Sebanyak 12 siswa dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H. Abdul Manan Simatupang, sedangkan tiga siswa lainnya dirujuk ke rumah sakit swasta karena ruang perawatan di RSUD tidak memadai,” tutur Damanhuri.
Para siswa yang terdampak berasal dari berbagai tingkatan kelas, yakni kelas 7, 8, dan 9.
Hingga Selasa (15/9), sebagian besar siswa yang mengalami gejala masih menjalani perawatan di rumah sakit. Penanganan terhadap para siswa dilakukan sesuai arahan Pemerintah Kabupaten Asahan dan hasil pemeriksaan tim medis.
Damanhuri mengatakan, pihak Pemerintah Kabupaten Asahan juga telah memantau kondisi para siswa. Wakil Bupati Asahan disebut turut menjenguk siswa yang menjalani perawatan.
“Pihak Pemkab melalui Wakil Bupati yang menjenguk berpesan agar anak-anak tidak dipulangkan dulu sebelum betul-betul sembuh total dan fit. Pemulangan dilakukan bertahap menunggu hasil visitasi dokter,” pungkasnya.
Kasus dugaan keracunan tersebut kini menjadi perhatian untuk memastikan kondisi makanan MBG yang dibagikan serta penyebab munculnya gejala pada para siswa.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah keluhan kesehatan tersebut memang berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi para siswa.
(ameera/arrahmah.id)
