Memuat...

Pentagon Ungkap Biaya Perang Iran: AS Habiskan Rp500 Triliun dan Kehilangan Puluhan Pesawat Militer

Samir Musa
Selasa, 15 September 2026 / 4 Rabiulakhir 1448 20:29
Pentagon Ungkap Biaya Perang Iran: AS Habiskan Rp500 Triliun dan Kehilangan Puluhan Pesawat Militer
Laporan Pentagon mengungkap kerusakan besar pada pesawat dan peralatan militer Amerika Serikat di tengah perang melawan Iran (Reuters).

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mulai memperlihatkan beban militer yang harus ditanggung Washington. Konsumsi amunisi dalam jumlah besar serta kerusakan pada peralatan militer dan pangkalan Amerika telah menekan persediaan senjata sekaligus menimbulkan hambatan pada rantai pasokan.

Berdasarkan laporan terbaru Kantor Inspektur Jenderal Departemen Perang AS (Pentagon), perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 menyebabkan kekurangan sejumlah jenis amunisi dan munculnya berbagai kendala dalam rantai pasokan. Pemerintahan Presiden Donald Trump kini berupaya mempercepat pengadaan untuk mengganti persenjataan yang telah digunakan.

Laporan yang dikutip NBC News (15/9) tersebut mencakup periode sejak awal perang pada 28 Februari hingga 30 Juni 2026. Pentagon disebut mempercepat proses pembelian, memangkas waktu produksi, serta menimbun bahan, komponen, dan amunisi penting agar dapat merespons keadaan darurat dengan lebih cepat.

Biaya perang mencapai $33,4 miliar

Laporan tersebut memperkirakan biaya langsung perang bagi Amerika Serikat mencapai $33,4 miliar, atau sekitar Rp500 triliun dengan asumsi kurs Rp15.000 per dolar AS.

Dari jumlah tersebut, sekitar $22,3 miliar merupakan nilai amunisi yang telah digunakan. Sementara kerugian peralatan militer mencapai $3,7 miliar, dan sekitar $7,4 miliar lainnya digunakan untuk berbagai pengeluaran tambahan.

Angka tersebut belum mencakup biaya perbaikan fasilitas yang mengalami kerusakan akibat perang.

Laporan itu juga mengungkap kerusakan besar pada pesawat dan peralatan militer Amerika. Sedikitnya empat jet tempur F-15E, satu F-35A, dan satu pesawat serang A-10 dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan.

Selain itu, sebanyak 12 pesawat tanker pengisi bahan bakar dan sembilan pesawat lainnya turut mengalami kerusakan. Hingga Juni, lebih dari 30 drone MQ-9 Reaper juga disebut telah hancur.

Meski demikian, Menteri Perang AS Pete Hegseth membantah laporan yang menyebut Amerika kehabisan amunisi.

Trump juga berulang kali menegaskan bahwa AS saat ini memproduksi senjata canggih dalam jumlah yang lebih besar dibanding sebelumnya. Ia mengatakan persenjataan tersebut dikirim setiap hari kepada pasukan Amerika di Timur Tengah dan wilayah lainnya.

Sekitar dua pekan lalu, Trump bahkan menyatakan bahwa persediaan amunisi Amerika hampir tidak terbatas.

Iran serang pusat logistik AS di Bahrain

Untuk pertama kalinya, laporan resmi tersebut juga mengungkap bahwa Iran menyerang pusat logistik utama Angkatan Laut AS di Bahrain menggunakan drone dan rudal balistik.

Perang tersebut juga menyebabkan lebih dari 20.000 personel militer dan diplomat Amerika harus dipindahkan. Laporan itu menyebut sebagian besar evaluasi medis terhadap personel yang terluka dilakukan di lapangan karena kemampuan evakuasi udara dipindahkan akibat kekhawatiran keamanan.

Pasukan Amerika juga melakukan hingga 5.000 penerbangan dari pangkalan-pangkalan di Eropa untuk mendukung operasi perang.

Besarnya dukungan tersebut muncul di tengah keluhan Trump mengenai rendahnya kontribusi negara-negara Eropa terhadap perang.

Departemen Luar Negeri AS sendiri mengalami kerugian lebih dari $200 juta pada fasilitasnya di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Realitas logistik berbeda dengan retorika politik

Rangkaian angka tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pernyataan politik mengenai melimpahnya persenjataan Amerika dan realitas logistik yang dihadapi militer AS.

Perang yang terus berlangsung membuat Washington tidak hanya harus mengganti amunisi yang telah digunakan, tetapi juga membangun kembali kemampuan militer yang rusak, termasuk pesawat, pangkalan, dan aset intelijen.

Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap anggaran pertahanan dan industri militer Amerika. Pengelolaan persediaan senjata pun menjadi faktor penting yang dapat menentukan kemampuan Washington mempertahankan perang dalam beberapa bulan mendatang.

Laporan itu juga muncul di tengah berbagai informasi mengenai menurunnya moral sebagian pasukan Amerika yang ditempatkan di kawasan serta kerusakan pada pangkalan dan aset intelijen AS yang diduga lebih besar daripada yang sebelumnya diumumkan.

Pentagon bahkan memperkirakan perang tersebut dapat berlangsung hingga melewati pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026. Perkiraan itu berbeda dengan pernyataan Trump pada awal perang yang memprediksi konflik akan berakhir hanya dalam beberapa pekan.

(Samirmusa/arrahmah.id)