GAZA (Arrahmah.id) - Sedikitnya 10 warga Palestina gugur dan puluhan lainnya luka-luka dalam serangkaian serangan udara dan penembakan artileri 'Israel' yang menghantam berbagai wilayah di Kota Gaza pada Selasa (14/4/2026). Eskalasi ini terjadi tepat saat kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Oktober 2025 memasuki bulan keenam.
Laporan dari Kompleks Medis Al-Shifa mengonfirmasi kedatangan jenazah lima syuhada menyusul serangan udara 'Israel' di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza. Saksi mata menyebutkan sebuah drone 'Israel 'menargetkan sekelompok warga sipil di dekat persimpangan Al-Danaf, yang juga menyebabkan kerusakan pada bangunan di sekitarnya.
Sebelumnya pada hari yang sama, sebuah drone 'Israel' menembakkan rudal ke arah kendaraan operasional milik kepolisian distrik Ad-Daraj dan At-Tuffah saat melintasi Jalan Al-Nafaq. Empat orang di dalam kendaraan, termasuk seorang anak, tewas seketika setelah mobil tersebut terbakar hebat.
Di wilayah utara, seorang remaja dilaporkan tewas setelah terkena tembakan di bagian kepala oleh militer Israel di dalam kamp pengungsian Jabalia al-Balad.Operasi Penghancuran dan Penembakan Artileri
Selain serangan udara, militer 'Israel' melakukan operasi peledakan gedung dan fasilitas di sebelah timur lingkungan At-Tuffah. Saksi mata melaporkan artileri 'Israel' terus membombardir wilayah Shujaiya, sementara helikopter tempur melepaskan tembakan ke arah pemukiman. Di wilayah selatan, angkatan laut 'Israel' juga dilaporkan melepaskan tembakan ke arah pantai Khan Yunis dan Rafah.
Data Pelanggaran Gencatan Senjata
Meskipun kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025 bertujuan untuk mengakhiri genosida, kenyataan di lapangan menunjukkan pelanggaran yang terus menerus. Berdasarkan data terbaru yang dirilis pada Selasa (14/4), sejak gencatan senjata dimulai, tercatat 760 warga Palestina tewas dan 2.111 lainnya luka-luka akibat pelanggaran 'Israel'.
Kantor Media Pemerintah di Gaza mencatat setidaknya 2.400 pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut, mencakup pembunuhan, penahanan, blokade, hingga kebijakan kelaparan.
Dunia internasional terus memberikan peringatan keras mengenai memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza, mengingat 'Israel' juga dilaporkan mengabaikan poin-poin kesepakatan terkait bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi bangunan yang hancur. (zarahamala/arrahmah.id)
