Memuat...

Iran Sebut Blokade AS di Selat Hormuz Lelucon, Ekspor Minyak ke Cina Tetap Berjalan Normal

Zarah Amala
Rabu, 15 April 2026 / 27 Syawal 1447 10:16
Iran Sebut Blokade AS di Selat Hormuz Lelucon, Ekspor Minyak ke Cina Tetap Berjalan Normal
Malik Shariati menyebut klaim blokade Selat Hormuz oleh Washington adalah "lelucon" tak berdasar (Foto: tangkapan video)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Juru bicara Komisi Energi Parlemen Iran, Malik Shariati, melontarkan kritik pedas terhadap klaim Amerika Serikat mengenai blokade di Selat Hormuz. Shariati menyebut pengumuman Washington tersebut sebagai hal yang lucu dan menegaskan bahwa AS tidak memiliki kemampuan nyata untuk mengendalikan jalur air strategis tersebut.

Dalam pernyataannya kepada Al Jazeera Mubasher pada Selasa (14/4/2026), Shariati menyatakan bahwa kapal-kapal Iran, termasuk kapal tanker minyak, terus meninggalkan perairan Iran melalui Selat Hormuz menuju tujuan utama mereka, termasuk Cina, tanpa menghadapi hambatan apa pun.

Shariati membantah narasi Amerika yang mengeklaim telah berhasil mencegah kapal masuk atau keluar dari pelabuhan Iran. Menurutnya, klaim tersebut membutuhkan bukti nyata, sementara data maritim dan citra satelit menunjukkan realitas yang berbeda.

Laporan resmi mengonfirmasi bahwa ekspor minyak dan pergerakan logistik tetap berlangsung secara alami. Data pelayaran menunjukkan kapal-kapal Iran terus keluar dari selat menuju Laut Oman tanpa gangguan militer AS.

Terkait kehadiran militer Amerika, Shariati mengungkapkan bahwa sempat ada upaya pasukan AS untuk mendekati Selat Hormuz. Namun, angkatan bersenjata Iran segera memberikan peringatan keras yang memaksa mereka meninggalkan area tersebut.

Teheran menegaskan posisi tempurnya, setiap serangan terhadap kapal atau tanker Iran akan dibalas dengan tindakan langsung dan tegas terhadap kepentingan AS di kawasan. Shariati memperingatkan bahwa respons Iran akan setara atau bahkan lebih besar dari serangan yang diterima, tanpa ada batasan jika kekuatan militer digunakan terhadap mereka.

Blokade yang diumumkan Presiden Donald Trump tersebut dilaporkan telah memicu lonjakan harga minyak dunia sebesar 9 dolar AS. Shariati menilai langkah Washington ini lebih bertujuan untuk konsumsi politik domestik guna mengelola opini publik Amerika di tengah perang yang sedang berlangsung.

Ia juga menekankan bahwa Iran mustahil bisa dikepung secara ekonomi secara total karena memiliki perbatasan darat yang sangat luas sebagai jalur alternatif.

Di sisi lain, Shariati menegaskan kembali posisi Teheran terkait program nuklirnya. Ia menyatakan bahwa pemindahan material nuklir ke luar negeri adalah garis merah yang tidak akan pernah disetujui oleh Iran. Mengenai peluang kembalinya negosiasi pasca kegagalan di Islamabad, ia menegaskan bahwa pembicaraan hanya akan dimulai jika Amerika Serikat menerima syarat-syarat Iran dan memenuhi komitmen internasional mereka sebelumnya. (zarahamala/arrahmah.id)