Pada tanggal 23 Juli 2026 kemarin, Indonesia baru saja menggelar peringatan Hari Anak Nasional dengan tema ‘Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa depan’. Tujuan tema tersebut untuk mendorong pemenuhan hak dan perlindungan anak sebagai investasi strategis bangsa. Sayangnya, tema Hari Anak Nasional tersebut masih sangat kontras dengan kondisi anak-anak hari ini, terutama mereka yang berada di Palestina.
Laporan dari lembaga hak asasi manusia atau Palestinian Center for Prisoners Advocacy mencatat sekitar 370 anak Palestina ditahan di penjara-penjara Israel, seperti di Megiddo dan Ofer. Mereka menjadi bagian dari 9.400 warga Palestina yang masih ditawan Zionis. Laporan itu juga menyebutkan bahwa penahanan anak-anak tersebut telah menjadi pola berulang dalam operasi penangkapan di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Selama enam bulan pertama tahun 2026 Zionis telah menculik 276 anak Palestina. Anak-anak itu ditahan tanpa dakwaan dan dalam waktu panjang tanpa ditentukan kapan berakhirnya. (Kompas.com, 28/8/2026)
Praktik penangkapan dan pemenjaraan anak-anak Palestina oleh Zionis memang telah terjadi sejak lama. Berdasarkan laporan dari berbagai lembaga hak asasi manusia termasuk Komisi Palestina Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan pada tahun 2019, kasus penangkapan anak-anak Palestina oleh militer Israel telah melampaui angka 50.000 sejak tahun 1967. Jumlah itu termasuk 16.655 kasus penangkapan anak Palestina sejak meletusnya Aksi Perlawanan (Intifada Al-Aqsha) kedua pada tahun 2000. Sebagian besar dari penangkapan tersebut dilakukan secara paksa dari rumah mereka pada malam hari, di jalanan, atau saat perjalanan ke sekolah. (Nu.or.id, 29/4/2019)
Cara Keji Zionis Memadamkan Para Pejuang Islam
Hakikatnya, penangkapan dan pemenjaraan anak-anak Palestina oleh Zionis adalah bagian dari kebijakan sistematis untuk menghancurkan masa depan anak Palestina dan memadamkan cahaya perlawanan dari akarnya. Selama 7 dekade lebih Zionis melakukan pendudukan di Palestina, sekalipun tidak pernah berhenti melakukan kerusakan, pembantaian, intimidasi, maupun genosida untuk membumihanguskan Palestina dan warganya. Namun, karena kuasa Allah hingga kini Palestina masih berdiri. Tekanan ekstrem dari penjajah malah semakin membentuk ketangguhan serta mentalitas pejuang di kalangan generasi muda. Hal ini tentunya menjadi ancaman besar bagi Zionis yang mati-matian ingin merebut Palestina.
Maka, menurut mereka jalan satu-satunya untuk membendung kekuatan generasi muda calon-calon pejuang adalah dengan memenjarakannya. Penahanan anak-anak akan memicu traumatis serta tekanan psikologis yang mendalam, sehingga nantinya perlawanan akan melemah, ketahanan dan estafet perjuangan warga Palestina akan runtuh. Dengan begitu, Zionis bisa leluasa menguasai Palestina seluruhnya.
Karena itu, umat harus terus bersuara untuk membebaskan anak Palestina. Meski kini pemberitaan mereka telah senyap, tetapi umat tidak boleh lengah. Memang, tidak bisa dimungkiri membebaskan anak-anak Palestina tidaklah mudah, terlebih tidak ada dukungan penuh dari penguasa. Sebab saat ini negara-negara muslim tersekat nasionalisme dan nation state yang merupakan hasil pemikiran sistem kapitalisme yang dibawa Barat.
Kedua paham ini berpandangan bahwa setiap negara tidak boleh ikut campur urusan negara lain. Ia hanya harus fokus menjaga keamanan, stabilitas ekonomi, maupun kedaulatan wilayahnya sendiri. Inilah yang membuat persoalan Palestina tidak kunjung usai karena umat terlebih penguasanya hanya mementingkan dirinya sendiri. Padahal, Rasulullah saw. telah mewanti-wanti bahwa umat muslim harus saling jaga, saling lindungi karena mereka saudara dan laksana satu tubuh.
Sistem kapitalisme pun membuat negara-negara muslim terintegrasi ke dalam sistem ekonomi global yang didominasi oleh lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Ketergantungan pada utang, investasi asing, dan perdagangan global membuat negara-negara muslim segan mengambil kebijakan luar negeri yang ekstrem karena takut kena sanksi ekonomi. Karenanya, untuk membebaskan anak-anak Palestina dari penjara-penjara Zionis, umat harus menyingkirkan dulu sistem rusak ini, lalu menggantinya dengan sistem yang diturunkan Allah yaitu Islam.
Sistem Islam: Pembebas Anak-anak Palestina
Sejatinya, hanya sistem Islamlah solusi hakiki untuk membebaskan anak-anak Palestina dari cengkraman Zionis. Ada beberapa hal yang mendasari hal ini, di antaranya: Pertama, syariat akan menempatkan jihad fii sabilillah sebagai satu-satunya jalan untuk mengusir penjajah serta menghilangkan penjajahan. Sebagaimana firman Allah Swt.: “Dan perangilah siapa saja kalian menemui mereka. Dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kalian….” (QS. Al-Baqarah: 191)
Kedua, sistem Islam mengatur perlindungan terhadap manusia, terutama anak-anak setiap saat, terlebih ketika perang. Dalam Islam, anak-anak masuk dalam kategori warga sipil yang haram dibunuh, disakiti, atau dijadikan target serangan. Ini merujuk pada sabda Rasulullah saw. tatkala melepas pasukan berperang: “Pergilah kalian dengan nama Allah dan atas agama Allah, tetapi janganlah membunuh orang tua jompo, anak-anak kecil, dan wanita.” (HR. Abu Dawud)
Pun jika ada anak-anak dari pihak musuh tertawan, maka mereka tidak boleh disiksa, disakiti, atau ditelantarkan, melainkan harus dipenuhi kebutuhan dasarnya. Ini pernah tercermin pada masa perang Badar misalnya, di mana tawanan mendapatkan perlakuan yang manusiawi, diberikan makanan maupun pakaian yang layak.
Ketiga, Islam satu-satunya sistem yang melarang umat muslim lemah di hadapan orang kafir. Islam pun tidak membolehkan berdamai dengan kafir harbi fi’lan (kafir yang memusuhi Islam) ataupun sekutunya. Firman Allah Swt. dalam Qur'an surat Muhammad ayat 35: “Janganlah kalian lemah dan meminta untuk berdamai, padahal kalian lebih unggul di atas mereka….”
Keempat, dalam paradigma Islam umat berada dalam satu kesatuan, diikat oleh akidah Islam dan tidak tersekat nasionalisme maupun nation state. Sehingga tatkala ada saudaranya yang teraniaya tidak ada penghalang untuk segera menolong.
Kelima, sistem Islam akan mengembalikan haibah (kewibawaan) umat muslim dan membuat musuh gentar. Sejarah membuktikan hal ini. Selama 13 abad berjaya dan menjadi negara adidaya yang menggentarkan musuh-musuh Islam. Amerika tunduk bahkan memberikan jizyah kepada Khilafah Utsmaniyah agar kapal-kapal mereka bisa berlayar. Yahudi pun tidak berdaya tatkala meminta Palestina kepada Khalifah Abdul Hamid ll.
Itulah beberapa alasan yang mendasari kenapa hanya sistem Islam satu-satunya solusi pembebas anak-anak Palestina. Sungguh mereka membutuhkan Islam sebagai solusi nyata. Karena itu sudah seyogyanya umat bahu membahu mengembalikan sistem Islam di tengah kehidupan. Caranya dengan terus mengikuti berbagai kajian Islam kafah, lalu bergabung dengan jamaah dakwah ideologis, kemudian bersama-sama menyuarakan Islam ke tengah masyarakat sehingga terbentuk opini umum tentang pentingnya menegakkan sistem Islam secara menyeluruh di tengah kehidupan.
Wallahu a'lam bis shawwab
