Memuat...

700 Kilometer Persegi Wilayah Lebanon di Bawah Pendudukan "Israel"

Hanin Mazaya
Sabtu, 24 Oktober 2026 / 14 Jumadilawal 1448 18:53
700 Kilometer Persegi Wilayah Lebanon di Bawah Pendudukan "Israel"
Peta yang menunjukkan lokasi-lokasi di Lebanon selatan yang masih diduduki oleh pasukan "Israel". (Foto: thecradle.co)

BEIRUT (Arrahmah.id) - Perluasan operasi "Israel" di Lebanon selatan menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa luas wilayah yang benar-benar diduduki oleh pasukannya, dan seberapa luas wilayah yang dikendalikan melalui pengawasan, daya tembak, serta kemampuan untuk melancarkan serangan dari posisi-posisi depan.

Menteri Pertahanan "Israel", Israel Katz, berulang kali menyebutkan angka sekitar 700 kilometer persegi. Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks: kendali "Israel" bervariasi, mulai dari penempatan pasukan di posisi tetap hingga serangan yang bersifat mobil dan dominasi daya tembak di wilayah yang jauh lebih luas.

Penilaian militer menunjukkan bahwa wilayah tersebut bukanlah sabuk keamanan yang seragam, yang membentang dari pesisir Mediterania hingga Gunung Hermon. Kedalamannya sangat bervariasi di setiap sektor, dipengaruhi oleh medan, titik-titik ketinggian strategis, dan jalur pergerakan.

Pasukan dan kendaraan militer "Israel" ditempatkan di beberapa area. Di area lain, tidak terdapat kehadiran militer "Israel" secara permanen, namun wilayah tersebut tetap berada di bawah pengawasan udara atau dalam jangkauan serangan, yang memungkinkan pasukan Israel untuk beroperasi di sana tanpa harus menempatkan personel secara fisik di lapangan.

Satu Front Tunggal

Pakar pertahanan dan keamanan Riad Kahwaji mengatakan kepada Asharq Al-Awsat bahwa "Israel" memandang Lebanon dan Dataran Tinggi Golan sebagai "satu front tunggal" yang membentang dari Gunung Hermon hingga pesisir Mediterania di Naqoura dan Bayada, meskipun wilayah ini melintasi dua negara.

"Dari sudut pandang mereka, 'Israel' sedang membangun sabuk keamanan di sepanjang perbatasan utaranya," ujar Kahwaji. Ia menambahkan bahwa sabuk tersebut "tidak lagi terbatas pada wilayah di sebelah selatan Sungai Litani, melainkan telah meluas hingga ke sebelah utara sungai tersebut di beberapa lokasi."

Kondisi geografis turut menjelaskan alasan di baliknya.

"Cakupan geografisnya secara efektif telah meluas melampaui wilayah di sebelah selatan Sungai Litani, khususnya dari arah Metula—di mana jarak ke sungai tersebut hanya sekitar tujuh kilometer, dibandingkan dengan jarak sekitar 30 kilometer antara Naqoura dan Sungai Litani," ujarnya.

Kahwaji menjelaskan, perbedaan tersebut berarti zona keamanan dapat meluas hingga ke sebelah utara Sungai Litani di beberapa area, tanpa harus memiliki kedalaman yang seragam di sepanjang perbatasan.

Dengan demikian, sungai tersebut bukanlah garis pemisah yang seragam antara zona operasional utara dan selatan. Jaraknya bervariasi, dan kondisi geografislah yang menentukan seberapa jauh pasukan atau daya tembak "Israel" dapat menjangkau.

Daya Tembak

Kahwaji membedakan antara menduduki suatu wilayah dengan mengendalikannya melalui pengawasan dan daya tembak.

Ia menyebutkan bahwa "Israel" mengandalkan sekitar 20 pos militer—yang masing-masing mampu menampung pasukan dalam jumlah kecil—sementara pesawat nirawak (drone) terus-menerus memantau pergerakan lebih jauh ke dalam wilayah tersebut.

"Setiap pos dapat menampung pasukan seukuran kompi, sementara drone beroperasi terus-menerus di area yang lebih jauh di balik pos-pos tersebut untuk memantau pergerakan," katanya.

"Ketika drone mendeteksi adanya pergerakan, sasaran tersebut akan diserang menggunakan artileri atau serangan udara. Sebagai alternatif, patroli dapat dikerahkan dari salah satu pos tersebut menuju lokasi pergerakan yang terdeteksi, di dalam area yang dikenal sebagai 'sabuk kuning'."

Menurutnya, itulah yang dimaksud dengan pengendalian melalui daya tembak.

"Hal ini tidak memerlukan kehadiran militer secara masif di seluruh wilayah sabuk tersebut. Sebaliknya, strategi ini mengandalkan pos-pos militer tertentu, pengawasan berkelanjutan melalui drone dan daya tembak, serta kemampuan untuk menyasar setiap pergerakan atau mengerahkan patroli."

Hasilnya adalah jejak militer yang meluas jauh melampaui posisi-posisi yang diduduki secara fisik oleh pasukan.

Dari posisi yang lebih tinggi atau yang telah diperkuat, pasukan dapat memantau jalan dan kota di sekitarnya, menyerang target, atau mengirimkan patroli tanpa harus membangun pangkalan permanen di setiap lokasi.

Dari Pesisir hingga Kastel Beaufort

Pola ini terlihat di seluruh wilayah Lebanon selatan.

Di sebelah barat, operasi "Israel" meluas dari Naqoura dan sektor pesisir hingga ke area-area yang belakangan ini mengalami serbuan, penghancuran bangunan, dan pengeboman berulang, termasuk Mansouri dan sekitarnya.

Lebih jauh ke timur, kota-kota di sektor tengah—seperti Beit Yahoun, Hadatha, Haris, dan Aita al-Jabal—telah mengalami berbagai tingkat aktivitas atau serangan militer "Israel", meskipun intensitas kehadiran pasukannya berbeda-beda.

Jangkauan operasi meluas lebih jauh ke pedalaman, menuju Kastel Beaufort dan dataran tinggi Ali al-Taher.

Di sana, medan yang tinggi menawarkan sudut pandang strategis yang mencakup wilayah lebih luas ke arah Nabatieh, Iqlim al-Tuffah, dan jalur pergerakan di sekitarnya.

Hasilnya adalah sebuah zona kendali yang terbentuk bukan oleh jalur perbatasan yang bersambung, melainkan oleh titik-titik ketinggian strategis beserta area-area yang berada dalam pantauannya.

Bisakah Operasi "Israel" Mencapai Sungai Awali?

Brigadir Jenderal (Purn.) Fadi Daoud memberikan penilaian yang lebih luas mengenai sejauh mana operasi "Israel" dapat meluas; ia berpendapat bahwa penguasaan atas dataran tinggi mungkin akan menentukan batas kemajuan pasukan tersebut.

"Yang jelas di Lebanon selatan adalah bahwa ekspansi ini bisa mencapai Sungai Awali. Bahkan jika tidak sampai ke sana, pasukan akan tetap ditempatkan di dataran tinggi yang menghadap ke sungai tersebut," ujar Daoud kepada Asharq Al-Awsat.

Ia menambahkan bahwa pengerahan semacam itu juga dapat mencakup Rihan dan wilayah di sekitar Jezzine, khususnya Kfarhouna.

"Batas sebelah barat akan berada di Sungai Awali," katanya, seraya menyebutkan bahwa kendali geografis—terutama atas titik-titik ketinggian yang strategis—menjadi faktor kunci yang menentukan pergerakan militer.

Menurutnya, dengan menguasai posisi-posisi tinggi, pasukan "Israel" dapat mendominasi wilayah yang lebih rendah melalui daya tembak, tanpa harus menempatkan pasukan secara fisik di seluruh area tersebut.

"Kendali geografis akan memungkinkan 'Israel' untuk menguasai wilayah Bekaa bagian barat dari sisi sayap kanan, karena mereka sudah hadir di Gunung Hermon. Wilayah Bekaa bagian barat pada dasarnya telah menjadi kantong yang terjepit di antara Gunung Hermon dan Rihan," jelas Daoud.

"'Israel' akan membangun posisi-posisi di sana untuk mengendalikan wilayah Bekaa."

Dataran Tinggi Strategis Rihan dan Iqlim al-Tuffah

Daoud mengatakan bahwa potensi pergerakan maju tersebut dapat membentang dari Gunung Rihan menuju dataran tinggi Iqlim al-Tuffah, termasuk Gunung Safi.

"Pergerakan akan berlangsung dari Gunung Rihan menuju dataran tinggi Iqlim al-Tuffah, termasuk Gunung Safi. Di sana, mereka akan menguasai basis pertahanan Hizbullah di Iqlim al-Tuffah, serta wilayah Sidon, sisi timur Sidon, dan Sungai Awali," ujarnya.

Bagi Daoud, medan merupakan faktor penentu.

"Geografi itu tetap, dan 'Israel' akan mengikutinya," ujarnya, seraya menekankan bahwa pasukan yang ditempatkan di dataran tinggi dapat mengendalikan wilayah di bawahnya melalui daya tembak, tanpa harus mengerahkan pasukan ke seluruh area tersebut.

Ia berpendapat bahwa penguasaan "Israel" atas Gunung Hermon akan membuat wilayah Bekaa bagian barat—hingga sejauh Qaraoun—menjadi rentan secara militer.

"Penguasaan atas Gunung Hermon menjadikan wilayah Bekaa bagian barat rentan secara militer hingga ke Qaraoun," katanya.

Ia menjelaskan, Gunung Hermon menghadap ke dua wilayah utama: Bekaa bagian barat di sisi barat, dan Daraa di Suriah di sisi timur.

Keduanya, menurut dia, "akan membentuk kantong-kantong" di kedua sisi gunung tersebut.

Kedua penilaian militer ini menyoroti perbedaan mendasar dalam perdebatan mengenai wilayah seluas 700 kilometer persegi tersebut: wilayah yang dapat dipantau, diserang, atau dimasuki oleh "Israel" belum tentu merupakan wilayah yang diduduki secara fisik oleh mereka.

Posisi di dataran tinggi, pos pengamatan, jangkauan tembakan, serta kemampuan untuk mengerahkan patroli dapat memperluas kendali militer jauh melampaui posisi-posisi tetap, meskipun skala kehadiran pasukan "Israel" yang sebenarnya bisa berbeda-beda di setiap sektor.

Serangan Drone dan Operasi Penghancuran oleh "Israel" di Lebanon Selatan

Sementara itu, operasi militer "Israel" terus berlanjut di seluruh wilayah Lebanon selatan pada Jumat (23/10/2026).

Sebuah drone "Israel" menyerang bundaran di Kfar Tebnit, distrik Nabatieh; laporan awal mengindikasikan adanya korban jiwa.

Pada saat yang sama, pasukan "Israel" melakukan dua operasi penghancuran—satu di pinggiran Kfar Tebnit dan satu lagi di Mansouri, distrik Tyre.

Pasukan "Israel" juga membakar area hutan di Qantara serta menembaki Wadi al-Hujeir dengan senapan mesin.

Sebuah drone "Israel" menjatuhkan granat kejut (stun grenade) di dekat Kfarshouba, sementara drone yang terbang rendah dilaporkan terlihat di atas pinggiran selatan Beirut, Tyre, dan wilayah sekitarnya.  (haninmazaya/arrahmah.id)