GAZA (Arrahmah.id) - Puluhan jet tempur 'Israel' dilaporkan melakukan penerbangan militer hingga mendekati perbatasan Iran pada Senin (19/10/2026), melalui wilayah udara Suriah dan Irak. Rute tersebut dinilai menyerupai jalur yang dapat digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran, menurut laporan Axios yang mengutip pejabat 'Israel' dan Amerika Serikat (AS).
Operasi tersebut melibatkan jet tempur dan pesawat pengisi bahan bakar yang menempuh jarak lebih dari 800 mil atau sekitar 1.287 kilometer dari 'Israel'. Pesawat-pesawat itu berbalik arah ketika mendekati perbatasan Iran dan kemudian kembali ke 'Israel'.
Menurut sumber yang dikutip Axios, 'Israel' telah memberi tahu Washington sebelum operasi berlangsung. Kepada AS, 'Israel' menyebut penerbangan tersebut sebagai latihan untuk menunjukkan kemampuan militer sekaligus mencegah Iran melancarkan serangan terhadap 'Israel' menjelang pemilu.
Pejabat AS mengatakan perencana militer 'Israel' mengetahui bahwa sistem pertahanan udara Iran akan mendeteksi keberadaan pesawat-pesawat tersebut. Sebagian pejabat menilai operasi itu sebagai langkah pencegahan rutin, tetapi ada pula yang mempertanyakan tujuan sebenarnya.
Sejumlah sumber AS yang dikutip Axios menduga 'Israel' berharap pasukan Iran akan menembaki pesawat-pesawat tersebut. Jika itu terjadi, 'Israel' berpotensi menggunakan insiden tersebut sebagai alasan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Penerbangan militer itu berlangsung pada hari yang sama ketika Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bertemu Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu di Pangkalan Udara Ovda. Namun, Axios melaporkan bahwa operasi tersebut tidak berkaitan dengan kunjungan Hegseth.
Perkembangan ini muncul setelah sebelumnya terdapat pembahasan antara AS dan 'Israel' mengenai kemungkinan dimulainya kembali operasi militer besar terhadap Iran menjelang pemilu di kedua negara.
Axios sebelumnya melaporkan bahwa Netanyahu telah membahas kemungkinan tersebut dengan Presiden AS Donald Trump pada awal Oktober. Netanyahu disebut mengacu pada klaim intelijen 'Israel' bahwa Iran kembali membangun program nuklirnya.
Pada Rabu (21/10), Netanyahu kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran. Ia menuduh Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei membiarkan para ilmuwan melanjutkan pengembangan senjata nuklir. Laporan tersebut tidak menyertakan bukti independen yang menguatkan tuduhan itu.
“Dia telah melepas pengaman, dan Iran kembali berusaha mengembangkan bom-bom mematikan mereka,” kata Netanyahu dalam upacara kelulusan militer.
“Karena itu, hanya ada satu cara untuk menghilangkan ancaman ini untuk selamanya: menggulingkan rezim di Iran. Itulah instruksi yang telah saya berikan kepada IDF, Mossad, dan badan-badan keamanan,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, ledakan dilaporkan terdengar di wilayah Karban, kawasan Sirik, Iran selatan. Kantor berita Fars melaporkan kejadian tersebut, sebagaimana dikutip dalam siaran langsung Al Jazeera.
Hingga laporan itu diterbitkan, sumber dan penyebab ledakan belum diketahui secara pasti.
Sirik terletak di pesisir Provinsi Hormozgan, dekat Selat Hormuz, jalur strategis bagi lalu lintas kapal dan pengiriman minyak dunia.
Di tengah belum jelasnya asal ledakan, pergerakan kapal tanker, biaya asuransi pelayaran, serta pernyataan resmi otoritas Iran dan militer negara-negara di kawasan menjadi sejumlah indikator yang perlu dicermati untuk memantau perkembangan situasi. (zarahamala/arrahmah.id)
