Memuat...

Aktivis Bongkar Pasokan Ratusan Ton Baja Militer India ke Pabrik Senjata 'Israel'

Zarah Amala
Selasa, 19 Mei 2026 / 3 Zulhijah 1447 10:34
Aktivis Bongkar Pasokan Ratusan Ton Baja Militer India ke Pabrik Senjata 'Israel'
MSC Valeria, sebuah kapal kontainer milik Mediterranean Shipping Company SA dari Jenewa, bersiap untuk berlabuh di Adani Ports and Special Economic Zone di Mundra, India, pada 4 Juni 2013 (Sam Panthaky/AFP)

ROMA (Arrahmah.id) - Para aktivis dari gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (BDS) dan koalisi No Harbour for Genocide (NHB) membunyikan alarm peringatan terkait apa yang mereka sebut sebagai banjir pasokan militer dari India ke 'Israel'. Hal ini mencuat setelah enam pengiriman yang diduga berisi baja tingkat militer (military-grade steel) terdeteksi di beberapa kapal kargo Swiss dalam perjalanan menuju pabrik senjata di 'Israel'.

Para aktivis menyatakan bahwa pengiriman tersebut membawa sekitar 806 ton baja tingkat militer yang diperkirakan dapat memproduksi hingga 17.458 peluru artileri kaliber 155mm untuk militer 'Israel'.

Menurut pemantauan gerakan tersebut, tiga dari enam pengiriman yang diangkut oleh perusahaan pelayaran Mediterranean Shipping Company (MSC) yang berbasis di Jenewa, saat ini tengah ditahan di Italia, dua di Gioia Tauro (wilayah Calabria) dan satu di Cagliari (Sardinia). Otoritas Italia kini didesak untuk melakukan pemeriksaan intensif terhadap muatan tersebut. Sementara itu, tiga pengiriman lainnya dilaporkan dialihkan dari Laut Mediterania menuju Sri Lanka, di mana pihak pelayaran diduga tengah mencari rute alternatif untuk mencapai 'Israel'.

Jalur Pasokan Rahasia Menuju Pabrik Elbit Systems

Koalisi No Harbour for Genocide mengungkapkan bahwa seluruh keenam pengiriman tersebut berasal dari perusahaan R L Steels & Energy Limited yang berbasis di Aurangabad, India. Tujuan akhir dari logistik ini adalah fasilitas manufaktur senjata utama milik IMI Systems (sekarang dikenal sebagai Elbit Systems Land) di Ramat Hasharon, 'Israel'.

Kargo yang diperkirakan bernilai 1 juta dolar AS ini berangkat dari pelabuhan Nhava Sheva (Pelabuhan Jawaharlal Nehru) di Maharashtra, India, antara Januari dan Maret tahun ini. "Kami melihat adanya banjir pasokan militer dari India ke 'Israel' saat ini," ujar Ilham Yaseen, koordinator embargo militer gerakan BDS.

Pihak BDS menyerukan tekanan internasional untuk menghentikan pasokan ini agar tidak sampai ke tangan 'Israel', serta menuntut pertanggungjawaban dari pemerintah sayap kanan India dan perusahaan-perusahaan domestik yang dinilai terlibat dalam kejahatan kemanusiaan 'Israel'.

Peran India di Tengah Defisit Amunisi 'Israel'

Para aktivis menilai penahanan kapal di Mediterania ini menyoroti bagaimana India turun tangan untuk membantu mengatasi kelangkaan pasokan militer 'Israel' selama dua setengah tahun perang di Gaza. Langkah ini tetap berjalan meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) telah mengeluarkan keputusan pada Januari 2024 yang mendesak negara-negara untuk menghindari tindakan yang dapat membantu kampanye militer 'Israel', yang oleh PBB dan pakar hukum internasional telah dinyatakan sebagai genosida.

Seorang juru bicara No Harbour for Genocide menjelaskan bahwa meskipun 'Israel' memiliki kapasitas produksi domestik yang besar, mereka sangat bergantung pada komponen spesifik luar negeri, seperti material teknologi tinggi untuk kedirgantaraan atau bahan baku curah seperti baja militer. Pabrik amunisi di Ramat Hasharon sendiri diketahui tidak memproduksi barang sipil sama sekali, melainkan murni untuk produksi militer.

Sebelumnya pada awal 2024, New Delhi juga telah mengirimkan pesawat nirawak (drone) Hermes 900 buatan India ke 'Israel', diikuti oleh beberapa pengiriman peralatan militer lainnya termasuk roket. Pasokan dari India dinilai fundamental bagi 'Israel' untuk menutupi kekurangan peluru 155mm setelah militer 'Israel' menembakkan lebih dari 100.000 peluru artileri ke Gaza dan Lebanon sejak akhir 2023.

Manipulasi Rute dan Perantara Komersial

Guna menghindari pemeriksaan dan pelacakan, kapal-kapal pengangkut dilaporkan kerap mengelabui rute dan tujuan mereka sejak para aktivis mulai melakukan pelacakan pada Februari 2026. Kapal-kapal tersebut terus berpindah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain atau mengubah jalur mereka.

Spanyol tercatat sempat memblokir dokumen sandar salah satu kapal yang dicurigai, sementara di Portugal, isu ini sempat memicu perdebatan di parlemen. Di Yunani, para pekerja pelabuhan bahkan menolak untuk membongkar muatan kapal yang dicurigai.

Aktivis juga mengungkapkan bahwa empat dari enam kiriman tersebut menggunakan kode ekspor dan kelas produk yang sama, namun disalurkan melalui perantara pengadaan yang dikenal sebagai Banyan Group International (BGI). BGI sendiri memasarkan dirinya sebagai jembatan komersial bagi perusahaan 'Israel' yang ingin bermitra dengan mitra mereka di India, baik untuk menjual produk maupun mencari bahan baku. Langkah ini dinilai sebagai upaya sengaja untuk merestrukturisasi rantai pasok guna memisahkan pembeli akhir dari sumber aslinya. (zarahamala/arrahmah.id)