OYO (Arrahmah.id) -- Sedikitnya 46 orang, sebagian besar anak-anak dan guru, diculik dalam serangan bersenjata terhadap tiga sekolah di Negara Bagian Oyo, Nigeria bagian selatan, Jumat pekan lalu. Serangan tersebut menambah daftar panjang aksi penculikan massal di Nigeria yang selama beberapa tahun terakhir kerap menyasar sekolah dan lembaga pendidikan.
Kelompok bersenjata yang diduga merupakan bandit menyerbu sejumlah sekolah di wilayah Oriire, Oyo State, lalu membawa para korban menggunakan kendaraan dan sepeda motor. Korban yang diculik disebut berusia antara dua hingga 16 tahun. Hingga Senin waktu setempat, aparat keamanan Nigeria masih melakukan pencarian dan penyelidikan terkait keberadaan para korban.
Presiden Christian Association of Nigeria (CAN) untuk Oyo State, Elisha Olukayode Ogundiya, seperti dilansir Jamaica Observer (18/5/2026), mengatakan sebagian besar korban merupakan anak-anak sekolah yang diserang saat kegiatan belajar berlangsung. Dalam kutipan yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Elisha Olukayode Ogundiya mengatakan, “Sebanyak 46 orang, sebagian besar anak-anak, diculik dalam serangan tersebut.”
Associated Press melaporkan polisi Nigeria telah menangkap tiga tersangka yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut. Namun, aparat belum memastikan apakah masih ada pelaku lain yang sedang diburu atau apakah kelompok penculik telah mengajukan tuntutan tebusan kepada keluarga korban.
Serangan di Oyo State tergolong tidak biasa karena penculikan massal di sekolah lebih sering terjadi di Nigeria bagian utara yang menjadi basis aktivitas kelompok bersenjata seperti Boko Haram dan berbagai geng bandit. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, aksi kriminal bersenjata mulai meluas ke wilayah selatan negara itu.
Pada hari yang sama, serangan lain juga dilaporkan terjadi di Negara Bagian Borno, Nigeria timur laut, ketika puluhan murid sekolah dilaporkan hilang setelah kelompok militan menyerang sebuah sekolah dekat kawasan Sambisa Forest yang dikenal sebagai basis Boko Haram. Reuters melaporkan sedikitnya 42 murid dinyatakan hilang dalam serangan tersebut.
Amnesty International mengecam meningkatnya penculikan terhadap anak-anak sekolah di Nigeria dan menilai pemerintah gagal memberikan perlindungan memadai terhadap lembaga pendidikan. Organisasi hak asasi manusia itu memperingatkan bahwa ketakutan akibat serangan bersenjata membuat banyak keluarga menghentikan pendidikan anak-anak mereka demi alasan keamanan.
Nigeria selama lebih dari satu dekade menghadapi krisis keamanan akibat aksi Boko Haram, kelompok bersenjata, dan jaringan bandit penculik yang kerap meminta uang tebusan. Salah satu kasus paling terkenal terjadi pada 2014 ketika lebih dari 270 siswi diculik Boko Haram dari sekolah di Chibok, Borno State, yang memicu perhatian dunia internasional. (hanoum/arrahmah.id)
