KABUL (Arrahmah.id) - Anas Haqqani, seorang anggota senior Imarah Islam, menekankan perlunya rasionalitas dan realisme dalam politik, serta menyerukan wacana rasional yang bebas dari reaksi emosional di Afghanistan.
Dalam pernyataan tertulis yang merujuk pada pengalaman politik negara tersebut selama beberapa dekade terakhir, Haqqani menyatakan bahwa politik yang sukses harus didasarkan pada rasionalitas, kehati-hatian, realisme, dan pemahaman yang akurat mengenai situasi, bukan pada emosi dan reaksi impulsif, lansir Tolo News (21/8/2026).
Ia mengatakan bahwa politisi yang dipengaruhi oleh emosi akan menghadapi kesulitan dalam memahami jalannya peristiwa dan mengantisipasi perkembangan yang terjadi.
Sher Agha Rohani, seorang analis hubungan internasional, mengatakan: "Pemerintah yang ingin efektif dan akuntabel kepada bangsa dan rakyatnya tidak boleh bertindak berdasarkan emosi. Segala sesuatu harus berjalan secara rasional. Oleh karena itu, tata kelola pemerintahan sepenuhnya berkaitan dengan rasionalitas dan harus dijalankan sesuai dengan prinsip tersebut."
Anas Haqqani mengajak warga yang berpendidikan dan berwawasan luas untuk berupaya menciptakan arah baru bagi diskusi politik; ia menyatakan bahwa setiap orang berhak memiliki pandangan berbeda, namun mendengarkan serta memahami pendapat yang berlawanan dan menjaga sikap adil saat terjadi perbedaan pendapat juga merupakan hal yang penting.
Di bagian lain pernyataannya, Haqqani menggambarkan Afghanistan sebagai "rumah bersama" bagi seluruh rakyat Afghanistan dan menekankan bahwa perbedaan politik tidak boleh menghalangi penguatan nilai-nilai bersama serta budaya dialog yang rasional.
Moin Gul Samkanai, seorang analis politik, menambahkan: "Rakyat Afghanistan telah menyelesaikan berbagai masalah mereka selama bertahun-tahun. Jika kita mengubah proses ini menjadi Loya Jirga tradisional Afghanistan—di mana seluruh rakyat Afghanistan dari berbagai tempat dan lapisan masyarakat dapat berpartisipasi—kita pada akhirnya dapat mencapai rencana nasional, merumuskan kebijakan dalam negeri, dan mengembangkan kebijakan luar negeri yang berlandaskan hal tersebut, sehingga dapat menyatukan rakyat Afghanistan."
Sarwar Niazi, seorang analis politik, mengatakan: "Budaya debat politik atau dialog politik, serta sikap mendengarkan pandangan yang berbeda, turut memperkuat dan mengonsolidasikan sistem serta pemerintahan."
Pernyataan-pernyataan ini disampaikan di saat sejumlah pejabat Imarah Islam juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan stabilitas serta memperluas hubungan Afghanistan dengan dunia internasional dalam rangkaian acara peringatan tanggal 28 Asad (kalender Afghanistan). (haninmazaya/arrahmah.id)
