Memuat...

Tom Barrack Ungkap Dugaan Salah Koordinasi "Israel" di Balik Serangan ke Bandara Idlib, Suriah

Samir Musa
Sabtu, 22 Agustus 2026 / 10 Rabiulawal 1448 15:16
Tom Barrack Ungkap Dugaan Salah Koordinasi "Israel" di Balik Serangan ke Bandara Idlib, Suriah
Barrack tidak memberikan alasan yang pasti mengenai serangan udara "Israel" terhadap Bandara Abu Al-Duhur di Suriah (Reuters).

DAMASKUS (Arrahmah.id) — Serangan udara "Israel" terhadap pangkalan udara Abu Al-Duhur di pedesaan Idlib, barat laut Suriah, pekan lalu, diduga terjadi akibat kesalahpahaman atau buruknya koordinasi di antara sejumlah pihak di dalam pemerintahan dan aparat keamanan "Israel".

Hal itu disampaikan Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah dan Irak sekaligus Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, dalam wawancaranya dengan jurnalis Australia-Lebanon, Mario Nawfal, sebagaimana dilansir Al Jazeera dan Anadolu pada Sabtu (22/8/2026).

Barrack menyebut salah satu teori yang berkembang adalah adanya kesalahpahaman antara militer "Israel", badan intelijen Mossad, dan kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang kemudian berujung pada serangan terhadap Bandara Abu Al-Duhur.

Menurutnya, Direktur Mossad Roman Gofman kemungkinan masih menjalankan jalur komunikasi rahasia yang sangat penting dan belum ditutup. Namun, pada saat yang sama, seorang komandan dapat saja mengambil keputusan berdasarkan informasi intelijen yang dimilikinya dan menilai bahwa tindakan cepat diperlukan.

Barrack mengatakan, salah satu kemungkinan adalah adanya informasi intelijen, termasuk yang diperoleh dari percakapan telepon, mengenai kemungkinan Turki memberikan bantuan lebih lanjut kepada Suriah atau bahkan menduduki wilayah tertentu di masa mendatang.

Informasi tersebut, menurutnya, mungkin membuat seorang komandan lapangan mengambil keputusan untuk mencegah skenario tersebut dengan menghancurkan landasan pacu Bandara Abu Al-Duhur.

Teori lainnya, kata Barrack, adalah bahwa "Israel" sengaja memancing Turki. Ia menilai langkah tersebut sangat agresif, tetapi bisa mendapatkan dukungan dalam konteks kampanye politik menjelang pemilu legislatif "Israel" yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.

AS dan Turki Tidak Diberi Tahu

Barrack menegaskan bahwa, apa pun alasan sebenarnya, "Israel" tidak memberitahu Amerika Serikat maupun Turki mengenai serangan yang hendak dilancarkan tersebut.

Enam hari sebelum serangan, "Israel" memang telah menyampaikan kepada Washington bahwa mereka memiliki informasi mengenai keberadaan militer Turki di pangkalan Abu Al-Duhur. Namun, Amerika Serikat kemudian memastikan kepada pihak "Israel" bahwa informasi tersebut tidak benar.

Pada Selasa dini hari, pesawat tempur "Israel" melancarkan delapan serangan udara terhadap landasan Bandara Militer Abu Al-Duhur di Provinsi Idlib. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas dan infrastruktur bandara.

Turki sebelumnya membantah tuduhan "Israel" mengenai keberadaan pasukan militernya di Bandara Abu Al-Duhur ketika serangan berlangsung. Ankara menegaskan bahwa kerja samanya dengan pemerintah Suriah merupakan kerja sama yang sah untuk memperkuat kemampuan negara tersebut serta menjaga keamanan dan stabilitas.

Barrack: Turki Memasuki Fase Baru

Mengenai Turki, Barrack mengatakan Ankara saat ini memasuki fase baru yang ditandai dengan meningkatnya kekuatan negara tersebut. Kondisi itu, menurutnya, dapat menimbulkan kekhawatiran bagi sejumlah pihak, tetapi sekaligus merupakan perkembangan yang sangat positif bagi Turki.

Ia berharap semua pihak mengedepankan kebijaksanaan dan menahan diri. Barrack mengatakan Turki tidak menginginkan serangan terhadap "Israel", bahkan tidak ingin terlibat dalam bentuk konfrontasi militer atau konflik langsung dengan negara tersebut.

Menurut Barrack, konfrontasi militer antara "Israel" dan Turki tidak akan menguntungkan kawasan maupun kedua negara.

"Semua pihak sedang mencari jalan untuk mengakhiri situasi ini," ujarnya.

Pada Selasa, Barrack juga mengungkapkan bahwa Washington sedang berupaya membentuk mekanisme untuk mencegah bentrokan antara "Israel", Turki, dan Suriah.

Ia mengatakan Ankara telah memantau pesawat-pesawat yang bergerak ke arah utara menuju wilayahnya, sehingga secara logis Turki sebenarnya dapat mempersiapkan respons sendiri, termasuk kemungkinan respons militer.

Suriah Pertimbangkan Bergabung dengan Perjanjian Makkah

Dalam wawancara tersebut, Barrack juga menyinggung Perjanjian Pertahanan Makkah yang melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Afghanistan. Suriah disebut sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dalam kesepakatan tersebut.

Barrack menegaskan bahwa perjanjian tersebut "tidak ditujukan untuk melawan Israel maupun Amerika dan tidak berpihak kepada Sunni".

Menurutnya, Perjanjian Makkah berkaitan dengan kebutuhan negara-negara kawasan untuk bekerja sama secara kolektif dalam menjaga pertahanan mereka.

Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani pada Jumat mengatakan Damaskus memang sedang mengkaji opsi bergabung dengan Perjanjian Makkah, tetapi belum mengambil keputusan final.

Suriah Ingin Menurunkan Ketegangan

Al-Shaibani sebelumnya menegaskan bahwa Suriah berkomitmen menurunkan ketegangan dan siap mencapai kesepakatan keamanan dengan "Israel", dengan syarat "Israel" menghormati kedaulatan Suriah.

Terkait aktivitas di wilayah barat laut Suriah, ia menjelaskan bahwa kegiatan di Pangkalan Abu Al-Duhur telah diketahui dan tidak ada dasar untuk menafsirkan pekerjaan rekonstruksi di lokasi tersebut sebagai pembangunan pangkalan militer Turki di wilayah Suriah.

Al-Shaibani juga mengungkapkan bahwa komunikasi dilakukan dengan Washington sebelum dan setelah serangan "Israel".

"Kami berkomunikasi dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelum dan setelah serangan 'Israel'. Tujuan utamanya adalah menyampaikan posisi dan kekhawatiran kami serta berupaya mencegah eskalasi," katanya.

"Israel" Khawatir Penguatan Militer Suriah

Sementara itu, situs berita "Israel" Walla, yang mengutip seorang sumber keamanan, melaporkan bahwa "Israel" tidak berniat memperburuk hubungan dengan Turki. Namun, "Israel" juga disebut tidak akan menerima upaya Turki memperkuat keberadaannya di Suriah dan membangun pangkalan militer di negara tersebut.

Sumber keamanan itu mengatakan pesan yang ingin disampaikan melalui serangan terhadap Bandara Abu Al-Duhur adalah bahwa pemerintah Suriah bertanggung jawab atas perkembangan tersebut.

Menurut sumber yang sama, pemerintah Suriah sedang membentuk angkatan bersenjata yang terdiri atas sejumlah divisi dan brigade, sekaligus memodernisasi angkatan udaranya, antara lain dengan membeli sistem pertahanan udara.

"Israel", lanjutnya, ingin mencegah penguatan militer Suriah dan tidak akan mengizinkan keberadaan kekuatan udara Suriah yang dianggap mengancam kepentingannya.

Surat kabar Yedioth Ahronoth juga melaporkan pada Kamis bahwa terdapat kekhawatiran di "Israel" terhadap pendekatan Barrack dan kemampuannya memengaruhi Presiden Donald Trump.

Perbedaan pandangan tersebut kembali mengemuka setelah serangan udara "Israel" terhadap Bandara Abu Al-Duhur. Barrack sebelumnya memperingatkan adanya risiko nyata terjadinya eskalasi cepat yang dapat memicu konfrontasi langsung antara "Israel", Turki, dan Suriah.

(Samirmusa/arrahmah.id)