Memuat...

Apakah Washington Manfaatkan Perang Yaman untuk Mendorong Normalisasi Saudi-'Israel'?

Zarah Amala
Kamis, 24 September 2026 / 13 Rabiulakhir 1448 12:30
Apakah Washington Manfaatkan Perang Yaman untuk Mendorong Normalisasi Saudi-'Israel'?
Sebuah papan reklame yang menampilkan MbS dan Trump di sebuah demonstrasi anti-AS dan anti-Arab Saudi di Sana'a yang dikuasai Houtsi pada 18 September [Getty]

RIYADH (Arrahmah.id) - Amerika Serikat sejauh ini menolak terlibat langsung dalam perang terbaru antara Arab Saudi dan kelompok Houtsi di Yaman, meski Riyadh dilaporkan telah meminta Washington melakukan serangan terhadap kelompok tersebut.

Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa sikap Washington berkaitan dengan upaya mendorong Arab Saudi menormalisasi hubungan dengan 'Israel'. The New Arab mengutip analis yang menilai Washington dan Tel Aviv dapat menggunakan tekanan keamanan yang dihadapi Riyadh untuk mendorong kerajaan tersebut bergabung dalam Abraham Accords, perjanjian normalisasi yang dimediasi AS.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat mempertimbangkan serangan terhadap posisi Houtsi di Yaman setelah mendapat permintaan dari Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. Namun, Trump akhirnya membatalkan rencana tersebut. Axios melaporkan keputusan itu diambil setelah adanya kekhawatiran bahwa serangan AS dapat memperluas konflik dan mengancam jalur pelayaran di kawasan.

Maysaa Shujaa Al-Deen, peneliti senior di Sana'a Center for Strategic Studies, mengatakan kepada The New Arab bahwa terdapat sejarah kekecewaan antara Washington dan Riyadh dalam konflik Yaman.

Menurutnya, Amerika merasa Saudi sebelumnya tidak cukup membantu dalam perang melawan Iran. Di sisi lain, Riyadh merasa Washington pernah meninggalkannya dalam perang Yaman, terutama sejak 2018.

Al-Deen juga menilai konflik AS dengan Iran dan pemilihan paruh waktu Kongres AS yang akan datang membuat keterlibatan militer baru di Yaman menjadi persoalan yang tidak mudah bagi Washington.

Saudi Cari Mitra Pertahanan Baru

Dalam beberapa tahun terakhir, Saudi Arabia berupaya memperluas hubungan pertahanan dan strategisnya dengan negara lain untuk mengurangi ketergantungan pada AS.

Riyadh menandatangani kesepakatan dengan Iran yang dimediasi Cina pada 2023. Kesepakatan tersebut turut mendukung gencatan senjata yang sebelumnya berlangsung di Yaman.

Pada Agustus tahun ini, Saudi Arabia juga menandatangani Perjanjian Pertahanan Makkah dengan Pakistan dan Turki. Namun, menurut laporan The New Arab, kerja sama tersebut sejauh ini belum memberikan dampak langsung terhadap situasi perang melawan Houtsi.

Di tengah perkembangan tersebut, Saudi juga masih belum menormalisasi hubungan dengan Israel. Sebelum perang Gaza pecah pada Oktober 2023, muncul spekulasi bahwa Riyadh dan Tel Aviv semakin dekat dengan kesepakatan normalisasi.

Washington kemudian secara terbuka mengaitkan sejumlah kerja sama dengan Saudi dengan isu tersebut. Pada Juli 2026, Trump mengatakan kesepakatan kerja sama nuklir sipil AS-Saudi bergantung pada keikutsertaan Riyadh dalam Abraham Accords. Saudi sejauh ini belum menyetujui normalisasi tanpa adanya kemajuan terkait pembentukan negara Palestina.

'Israel' Tawarkan Bantuan

Di tengah tekanan yang dihadapi Saudi dari Houtsi, 'Israel' juga dilaporkan menawarkan bantuan kepada negara-negara Teluk.

Menurut laporan The New Arab, sumber dan pejabat 'Israel' yang dikutip surat kabar Maariv menilai kemunduran Saudi dalam menghadapi Houtsi dapat memengaruhi perhitungan Riyadh mengenai normalisasi dengan 'Israel'. Namun, laporan lain menyebut Saudi masih enggan menjadikan bantuan 'Israel' sebagai jalan menuju normalisasi.

Sebelumnya, 'Israel' telah melancarkan serangan terhadap posisi Houtsi di Yaman setelah kelompok tersebut menyerang kapal yang terkait dengan 'Israel' di Laut Merah dan meluncurkan rudal ke wilayah 'Israel'. Houtsi menyatakan serangan mereka dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina di Gaza.

Dalam perkembangan terbaru, kerja sama keamanan antara 'Israel' dan Saudi juga dilaporkan mulai muncul melalui jalur tidak langsung. Menurut BICOM, Komando Pusat AS (CENTCOM) memfasilitasi pembicaraan antara pejabat 'Israel' dan Saudi terkait kemungkinan bantuan intelijen 'Israel' untuk menghadapi serangan Houtsi.

Perang Yaman Kembali Memanas

Konflik Yaman mengalami eskalasi baru setelah Houtsi memperluas wilayah yang mereka kuasai di sepanjang pesisir Laut Merah dan mendekati kawasan strategis Bab al-Mandab.

Kelompok tersebut juga melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Saudi. Di sisi lain, Houtsi mengatakan mereka telah memberikan jaminan kepada Washington bahwa kapal-kapal AS tidak akan menjadi sasaran serangan mereka. Jaminan itu menjadi salah satu faktor yang disebut dalam keputusan Washington untuk tidak kembali melakukan operasi udara terhadap Houtsi.

Sejumlah analis menilai perkembangan tersebut dapat semakin mendorong Riyadh mencari mitra keamanan alternatif. Namun, hubungan Saudi-AS tetap memiliki kepentingan strategis yang besar dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Chatham House mencatat Riyadh masih memandang Washington sebagai mitra strategis utama, meski kerajaan tersebut juga berupaya memperluas jaringan hubungan pertahanannya.

Dengan demikian, hubungan antara perang Yaman, dukungan keamanan AS, dan normalisasi Saudi-'Israel' masih menjadi persoalan yang diperdebatkan. Dugaan bahwa Washington sengaja menahan bantuan untuk menekan Riyadh merupakan analisis sejumlah pihak, bukan kebijakan yang secara resmi dinyatakan pemerintah AS. (zarahamala/arrahmah.id)