WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba-tiba menghentikan operasi Project Freedom yang baru berjalan kurang dari 48 jam. Keputusan ini diambil setelah Arab Saudi marah besar karena tidak dikonsultasikan sebelumnya dan menutup akses pangkalan serta ruang udara bagi militer AS.
Project Freedom merupakan inisiatif militer AS untuk mengawal kapal-kapal komersial melintasi Selat Hormuz yang sempat ditutup Iran di tengah ketegangan. Trump mengumumkannya melalui media sosial pada hari Ahad (3/5/2026), namun hanya dua hari kemudian operasi tersebut dihentikan.
Menurut laporan NBC News (7/5) yang mengutip dua pejabat AS, Arab Saudi dan sekutu Teluk lainnya terkejut dengan pengumuman mendadak tersebut. Riyadh merespons dengan menolak memberikan akses ke Pangkalan Udara Prince Sultan dan melarang pesawat AS melintasi ruang udaranya untuk mendukung operasi tersebut.
Trump sempat melakukan pembicaraan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, tetapi panggilan tersebut gagal menyelesaikan persoalan. Akibatnya, Trump terpaksa menghentikan proyek untuk mengembalikan akses militer AS ke wilayah strategis tersebut.
Trump sendiri menyatakan penghentian Project Freedom dilakukan “berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain” serta kemajuan perundingan dengan Iran. Namun, sumber-sumber AS menegaskan kemarahan Saudi menjadi faktor utama di balik keputusan mendadak itu.
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada NBC News bahwa langkah Saudi “memaksa” presiden untuk mundur demi menjaga akses militer penting di kawasan.
Kasus ini menunjukkan dinamika rumit hubungan AS dengan sekutu Teluk meski kerap disebut sebagai mitra strategis. (hanoum/arrahmah.id)
