BORNO (Arrahmah.id) -- Kelompok militan Islamic State West Africa Province (ISWAP) dilaporkan mengeksekusi sejumlah orang yang dituduh sebagai mata-mata militer Nigeria di negara bagian Borno, wilayah yang selama bertahun-tahun menjadi pusat insurgensi kelompok ekstremis di Nigeria timur laut.
Informasi mengenai eksekusi tersebut beredar melalui unggahan media sosial dan pemantauan kelompok keamanan yang mengikuti aktivitas ISWAP di kawasan Danau Chad. Dalam dokumentasi yang beredar, para korban disebut dituduh memberikan informasi kepada militer Nigeria terkait pergerakan kelompok tersebut di Borno.
Laporan yang beredar juga memperlihatkan, seperti dilansir War Noir (8/5/2026), bahwa para anggota ISWAP tampak menggunakan campuran senjata serbu buatan Rumania jenis PM md. 65/90 dan senjata buatan China Type 56-1/56-2, yang selama ini kerap muncul dalam konflik di kawasan Sahel dan Afrika Barat.
Pengamat keamanan regional, Wassim Nasr, sebelumnya menjelaskan bahwa ISWAP terus meningkatkan kapasitas operasionalnya melalui akses terhadap persenjataan dan logistik lintas perbatasan.
“Kelompok ini tetap menjadi salah satu ancaman paling terorganisasi di kawasan Danau Chad,” ujarnya dalam analisis keamanan terkait perkembangan ISWAP.
Media internasional seperti Reuters dan AP News dalam beberapa bulan terakhir juga melaporkan peningkatan aktivitas ISWAP di Borno, termasuk serangan terhadap pangkalan militer Nigeria dan operasi terhadap warga sipil yang dituduh bekerja sama dengan pemerintah.
Reuters melaporkan bahwa kelompok ISWAP dan Boko Haram meningkatkan serangan terhadap instalasi militer di Borno sepanjang 2025 hingga 2026, menyebabkan korban jiwa di kalangan tentara Nigeria dan warga sipil.
Sementara itu, laporan The Guardian menyebut bahwa ISWAP kini menggunakan persenjataan yang lebih canggih dan memperluas operasi mereka di wilayah timur laut Nigeria, termasuk di sekitar Danau Chad dan perbatasan Kamerun.
Hingga saat ini, militer Nigeria belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan eksekusi terbaru tersebut. Namun, situasi keamanan di Borno masih terus menjadi perhatian utama pemerintah Nigeria dan komunitas internasional di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. (hanoum/arrahmah.id)
