Memuat...

Jubir JNIM Bantah Keterlibatan Asing dalam Serangan Mali

Hanoum
Jumat, 8 Mei 2026 / 21 Zulkaidah 1447 05:19
Jubir JNIM Bantah Keterlibatan Asing dalam Serangan Mali
Abu Hudhaifa Al-Bambari alias Bina Diarra. [Foto: X]

BAMAKO (Arrahmah.id) -- Juru bicara kelompok militan Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), Abu Hudhaifa Al-Bambari alias Bina Diarra, membantah tuduhan bahwa ada negara asing yang terlibat dalam serangan 25 April 2026 di Mali. Dalam pidato terbarunya, ia juga menyinggung penangkapan internal di tubuh militer serta kondisi warga sipil akibat blokade di sekitar ibu kota Bamako.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui pidato audio yang beredar di media sosial dan dipantau sejumlah pengamat keamanan kawasan Sahel. Dalam pidatonya, Abu Hudhaifa Al-Bambari menolak klaim bahwa operasi kelompoknya didukung pihak asing, di tengah meningkatnya spekulasi mengenai keterlibatan aktor eksternal dalam eskalasi konflik di Mali.

Dalam pidatonya, seperti dilansir Al Jazeera (7/5/2026), Al Bambari juga menanggapi laporan penangkapan di internal militer Mali. Ia menyebut para atasan yang menangkap tentaranya sendiri sebagai “pengkhianat” dan mengatakan berharap penangkapan tersebut terus berlanjut di antara mereka.

“Kami mendengar banyak keluhan dari masyarakat tentang kesulitan pasien yang membutuhkan perawatan medis akibat blokade di sekitar Bamako,” ujar Abu Hudhaifa Al-Bambari dalam pidatonya. Ia juga mengklaim bahwa kelompoknya tetap mengizinkan pasien untuk bergerak bebas meskipun terdapat pembatasan di sejumlah jalur.

Pernyataan tersebut muncul di tengah memburuknya situasi keamanan di Mali setelah serangkaian serangan kelompok jihad terhadap pos militer dan jalur logistik utama.

Selain itu, laporan lembaga analisis risiko internasional Credendo menyebut bahwa serangan terkoordinasi antara kelompok jihad dan pemberontak di Mali telah menempatkan pemerintahan militer negara tersebut dalam tekanan besar.

Hingga kini, pemerintah Mali belum memberikan tanggapan resmi terkait pidato terbaru juru bicara JNIM tersebut. Situasi keamanan di sekitar Bamako masih dipantau ketat, sementara akses logistik dan layanan dasar di beberapa wilayah dilaporkan terus terganggu akibat konflik yang berkepanjangan. (hanoum/arrahmah.id)