WASHINGTON (Arrahmah.id) - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengeklaim keberhasilan awal dari blokade maritim yang diterapkan terhadap Iran. Dalam pernyataan resminya pada Kamis (16/4/2026), militer AS melaporkan telah memaksa sedikitnya 10 kapal dagang untuk kembali ke pelabuhan Iran sejak operasi tersebut dimulai pada Senin lalu (14/4).
Pihak AS menegaskan bahwa hingga saat ini, belum ada satu pun kapal yang berhasil menembus "tanggul laut" yang dijaga ketat oleh armada tempur mereka di sekitar perairan strategis tersebut.
CENTCOM merinci beberapa operasi pencegatan yang dilakukan oleh kapal-kapal perusak mereka. Pada Selasa (15/4), kapal perusak rudal USS Spruance berhasil mengadang sebuah kapal Iran yang mencoba menyelinap melalui jalur pesisir. Sebuah kapal perusak AS lainnya dilaporkan berhasil menghalau kapal berbendera Iran yang mencoba mengakali blokade untuk keluar melalui Selat Hormuz.
Laporan dari Wall Street Journal mengutip pejabat AS yang menyatakan bahwa blokade ini dapat berlangsung hingga waktu yang tidak ditentukan. Meskipun dampak ekonomi penuh terhadap Teheran mungkin membutuhkan waktu beberapa bulan, Washington yakin bahwa Angkatan Laut AS memiliki kemampuan logistik untuk mempertahankan tekanan ini dalam jangka panjang guna memaksa konsesi dalam negosiasi.
Di sisi lain, Teheran memberikan respons yang sangat kontras dan cenderung meremehkan klaim Amerika Serikat tersebut. Juru bicara Komisi Energi Parlemen Iran, Malik Shariati, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi navigasi mereka.
"Pengumuman Amerika tentang pemberlakuan blokade di Selat Hormuz adalah hal yang lucu," ujar Shariati kepada Al Jazeera Mubasher. Ia menambahkan bahwa Washington sebenarnya tidak memiliki kapasitas nyata untuk memaksakan kendali penuh atas jalur perairan tersebut.
Shariati juga menekankan beberapa poin kunci dari perspektif Iran. Blokade tersebut dinilai tidak etis dan bertentangan dengan kepentingan negara-negara tetangga di kawasan Teluk, termasuk sekutu AS sendiri. Ia menyebut situasi saat ini adalah buntut dari rentetan kesalahan kebijakan yang dilakukan Amerika Serikat di masa lalu.
Iran menegaskan tidak akan lagi mengandalkan janji-janji diplomatik AS mengingat tindakan provokatif yang dilakukan di lapangan. (zarahamala/arrahmah.id)
