BEIRUT (Arrahmah.id) - Eskalasi militer besar-besaran kembali mengguncang Lebanon Selatan pada Rabu (15/4/2026), mengakibatkan 22 orang tewas akibat serangan udara 'Israel' dan lima tentara 'Israel' terluka akibat balasan rudal Hizbullah. Ketegangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung di Washington untuk mengakhiri konflik.
Militer 'Israel' (IDF) mengonfirmasi dalam sebuah pernyataan bahwa lima personelnya terluka, satu di antaranya dalam kondisi kritis, setelah dihantam tembakan rudal di wilayah Bint Jbeil. Kota tersebut merupakan benteng pertahanan Hizbullah yang telah dikepung oleh pasukan 'Israel' selama beberapa hari terakhir.
Sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh 'Israel', Hizbullah mengeklaim telah meluncurkan sedikitnya 59 serangan sejak fajar, yang menargetkan 15 pemukiman serta berbagai posisi militer 'Israel'.
Media lokal mencatat sekitar 40 rudal ditembakkan dari Lebanon menuju wilayah Utara 'Israel', memicu sirene peringatan udara sepanjang hari, sementara bentrokan sengit dilaporkan pecah di lingkungan Al-Awini, Bint Jbeil, di mana anggota Hizbullah terlibat kontak senjata langsung dengan pasukan infanteri 'Israel'.
Di sisi lain, serangan udara 'Israel' yang menghantam 72 titik di Lebanon telah menyasar kota-kota dan pemukiman warga dengan dampak yang menghancurkan. Korban jiwa dilaporkan menyebar secara tragis di beberapa wilayah, termasuk empat anggota keluarga yang tewas seketika di kota Jbaa, serta tiga petugas medis yang gugur di kota Mifdoune saat berupaya mengevakuasi korban luka. Serangan maut tambahan juga tercatat di wilayah Ansarieh dan Tyre, yang semakin memperpanjang daftar korban sipil di daerah pesisir tersebut.
Eskalasi berdarah ini menunjukkan kontradiksi tajam dengan jalur diplomasi, mengingat pertempuran pecah hanya berselang sehari setelah pembicaraan langsung pertama dalam 43 tahun antara Lebanon dan 'Israel' di Washington.
Situasi semakin diperparah oleh ketidakjelasan cakupan gencatan senjata dua minggu yang diumumkan Amerika Serikat dan Iran pada 8 April lalu. Meskipun Iran dan Pakistan mengeklaim kesepakatan tersebut mencakup Lebanon, Washington dan Tel Aviv membantahnya dan tetap melanjutkan operasi militer.
Sejak agresi terbaru dimulai pada 2 Maret, total korban tewas di pihak Lebanon telah mencapai 2.167 jiwa dengan lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka. (zarahamala/arrahmah.id)
