WASHINGTON (Arrahmah.id) - Amerika Serikat memiliki tiga kapal induk di Timur Tengah untuk pertama kalinya dalam 23 tahun dengan kedatangan USS George HW Bush, demikian pernyataan militer AS, di tengah gencatan senjata yang rapuh dengan Iran.
Komando Pusat (CENTCOM) militer AS yang berbasis di Timur Tengah mengatakan pada Jumat (24/4/2026) bahwa kapal induk tersebut termasuk 12 kapal pendukung, lebih dari 200 pesawat, dan 15.000 tentara.
“Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tiga kapal induk beroperasi di Timur Tengah secara bersamaan,” kata CENTCOM, seperti dilansir Al Jazeera.
Terakhir kali AS mengumpulkan aset militer sebanyak itu di perairan kawasan tersebut adalah menjelang invasi Irak yang dipimpin AS pada 2003.
Dua kapal induk AS lainnya di kawasan tersebut adalah USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford, yang merupakan kapal induk terbesar di dunia.
Pengerahan kekuatan ini menandakan bahwa AS sedang bersiap untuk kembali berperang jika gencatan senjata yang rapuh antara AS, "Israel", dan Iran gagal.
Diplomasi antara kedua negara berada dalam keadaan tidak pasti, dengan Iran menetapkan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhannya sebagai syarat untuk melanjutkan pembicaraan.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata pada Rabu, tetapi ia mengatakan blokade angkatan laut akan tetap berlanjut.
Sementara itu, Iran telah kembali memblokir Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap blokade AS setelah menyatakan jalur air tersebut sepenuhnya terbuka pekan lalu ketika gencatan senjata regional diperluas ke Lebanon.
Trump belum menetapkan tenggat waktu untuk perpanjangan gencatan senjata dan menyatakan bahwa ia merasa nyaman dengan status quo, yang menurutnya melemahkan ekonomi Iran dengan biaya rendah bagi AS.
“Saya punya banyak waktu, tetapi Iran tidak,” tulisnya dalam unggahan media sosial pada Kamis.
Presiden AS kemudian ditanya berapa lama ia bersedia menunggu sebelum menerima usulan kesepakatan dari Iran. Ia menjawab: “Jangan terburu-buru.”
Iran menggambarkan blokade tersebut –yang menyebabkan pasukan AS menyita setidaknya dua kapal tanker minyak Iran– sebagai “tindakan perang”.
Pasukan Iran juga telah menangkap kapal-kapal komersial asing di Selat Hormuz, menuduh mereka melanggar peraturan maritim.
Dengan negosiasi yang tertunda, Trump tidak menunjukkan tanda-tanda kesediaan untuk mencabut blokade guna memfasilitasi pembicaraan.
Pada Jumat, militer AS mengatakan telah “mengalihkan” 34 kapal di wilayah tersebut. “Blokade terhadap kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran terus berlanjut,” kata CENTCOM.
Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan, pembangkit listrik, dan stasiun air.
Menteri Pertahanan "Israel", Israel Katz, mengatakan pada hari Kamis bahwa negaranya sedang menunggu lampu hijau dari Trump untuk mengembalikan Iran ke "zaman kegelapan".
“Israel siap untuk memperbarui perang melawan Iran. siap dalam pertahanan dan serangan, dan target telah ditandai,” kata Katz, menurut surat kabar The Times of Israel. (haninmazaya/arrahmah.id)
