DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa akhirnya angkat bicara menanggapi kritik luas terkait penampilan tarian dan lagu rap “Work It” milik Missy Elliot yang dinilai vulgar dalam acara pembukaan stadion basket internasional di Damaskus.
Kontroversi ini mencuat setelah video acara yang berlangsung pada 21 April 2026 tersebut beredar luas di media sosial, memperlihatkan penari perempuan tampil di hadapan publik, termasuk di hadapan presiden, dengan iringan lagu yang dianggap memiliki lirik vulgar. Kritik datang dari berbagai kalangan, termasuk tokoh agama dan masyarakat konservatif Suriah.
Menurut laporan Levant24 (34/6/2026) dan pemantauan rekaman yang beredar, acara tersebut merupakan bagian dari peresmian fasilitas olahraga berstandar internasional yang juga dihadiri pejabat tinggi negara.
Menanggapi polemik tersebut, Asy Syaraa menyatakan bahwa acara itu bertujuan menunjukkan keterbukaan Suriah terhadap dunia internasional, namun mengakui adanya sensitivitas publik.
Ia mengatakan, “Kami ingin menunjukkan wajah Suriah yang terbuka dan modern, tetapi kami juga menghormati nilai-nilai masyarakat kami,”
https://www.youtube.com/shorts/XOyAkNLSGw0Asy Syaraa menegaskan bahwa pemerintah tidak bermaksud menyinggung norma sosial atau agama, serta akan melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan acara serupa di masa mendatang.
Kontroversi ini sebelumnya juga menuai kecaman dari sejumlah tokoh agama, salah satunya Syeikh Abdullah al-Muhaysini yang menyayangkan pemutaran lagu tersebut dalam acara resmi negara. Ia menulis, “Semoga Tuhan mengampuni penyelenggara acara ini,” sebagai bentuk kritik terhadap isi pertunjukan.
Peristiwa ini terjadi di Damaskus pada saat peresmian stadion Al-Fayhaa, yang merupakan bagian dari upaya pemerintah Suriah memulihkan citra negara dan menghidupkan kembali kegiatan olahraga internasional pascakonflik.
Pengamat menilai respons asy Syaraa mencerminkan upaya pemerintah menyeimbangkan antara modernisasi dan tekanan sosial domestik yang masih kuat terhadap nilai-nilai konservatif.
Hingga kini, belum ada kebijakan resmi lanjutan terkait pembatasan konten acara publik, namun perdebatan di masyarakat Suriah masih terus berlangsung. (hanoum/arrahmah.id)
