YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Sejumlah pemeluk Yahudi ultra-Ortodoks menggelar aksi protes dengan membakar bendera 'Israel' dan menyerukan “Free Palestine” di Yerusalem bertepatan dengan peringatan hari nasional 'Israel'.
Menurut laporan Al Jazeera (24/4/2026), aksi tersebut dilakukan oleh kelompok Yahudi anti-Zionis yang menolak keberadaan negara 'Israel' atas dasar keyakinan agama. Video yang beredar memperlihatkan para peserta aksi membakar bendera''Israel' di ruang publik sambil menyampaikan pesan solidaritas kepada rakyat Palestina.
Adapun Times of India dan MSN juga melaporkan bahwa aksi ini berlangsung di tengah suasana peringatan nasional yang biasanya diwarnai dengan simbol-simbol patriotik.
Kelompok yang terlibat dalam aksi ini diyakini berasal dari komunitas seperti Neturei Karta, yang secara ideologis menolak pendirian negara Israel sebelum datangnya Mesias, serta kerap menyuarakan dukungan terhadap Palestina.
Seorang peserta aksi menyatakan, “Kami menolak negara ini karena bertentangan dengan ajaran kami, dan kami mendukung kebebasan Palestina,”
Aksi tersebut berlangsung pada April 2026 di Yerusalem, ketika 'Israel' memperingati hari kemerdekaannya. Dalam rekaman yang beredar, tampak para demonstran mengenakan pakaian tradisional Yahudi Ortodoks sambil membawa spanduk dan membakar bendera sebagai simbol penolakan.
Pihak kepolisian 'Israel' dilaporkan memantau aksi tersebut untuk mencegah eskalasi, mengingat sensitivitas tinggi pada momen nasional. Hingga kini belum ada laporan resmi terkait penangkapan dalam insiden tersebut.
Seorang pengamat sosial di 'Israel' mengatakan, “Ini menunjukkan adanya perpecahan ideologis di dalam komunitas Yahudi sendiri terkait negara Israel,”
Aksi ini menyoroti kompleksitas internal masyarakat Israel, di mana sebagian kecil kelompok ultra-Ortodoks memiliki pandangan yang sangat berbeda dari arus utama terkait legitimasi negara.
Peristiwa tersebut juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, yang membuat simbol-simbol politik seperti bendera menjadi sangat sensitif dan sarat makna dalam konflik Israel-Palestina. (hanoum/arrahmah.id)
