KABUL (Arrahmah.id) - Organisasi hak asasi manusia Haalvsh melaporkan bahwa setidaknya 17 migran asal Afghanistan, termasuk anak-anak, meninggal dunia akibat kehausan di wilayah Mak-Sookhteh dekat perbatasan Rotak di Saravan, Baluchistan.
Menurut laporan, jenazah para korban dipindahkan ke Khash karena kapasitas kamar jenazah di Saravan tidak mencukupi.
Di antara para korban terdapat lima anggota keluarga dari Baghlan, termasuk seorang ibu berusia 45 tahun dan keempat putrinya yang berusia antara 14 hingga 22 tahun, lansir Tolo News (16/9/2026).
Organisasi hak asasi manusia Haalvsh menulis: "Pada hari Minggu, tanggal 22 bulan berjalan tahun 1405 , setidaknya 17 migran Afghanistan—termasuk perempuan, laki-laki, dan anak-anak—meninggal dunia akibat kehausan parah di wilayah Mak-Sookhteh dekat perbatasan Rotak di Kabupaten Saravan. Setelah dievakuasi dari lokasi tersebut, jenazah mereka dipindahkan ke kamar jenazah di Khash."
Insiden ini terjadi setelah Kementerian Pengungsi dan Repatriasi Afghanistan mengumumkan bahwa pertemuan trilateral antara Afghanistan, Iran, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan segera digelar di Kabul untuk membahas masalah migrasi.
Khalil Ahmad Nadem, seorang pakar hukum, mengatakan: "Berita ini sungguh tragis. Pemerintah Afghanistan bertanggung jawab untuk menciptakan lapangan kerja dan menyediakan mata pencaharian bagi masyarakat guna mencegah mereka meninggalkan negara ini. Kita tidak boleh melimpahkan seluruh kesalahan kepada negara-negara tetangga. Iran juga perlu mempertimbangkan aspek kemanusiaan dalam masalah ini."
Jalur perjalanan tidak resmi menuju negara-negara tetangga telah lama berbahaya bagi warga Afghanistan, dan sejumlah warga negara tersebut sebelumnya telah kehilangan nyawa saat mencoba memasuki Iran secara ilegal. Terlepas dari berbagai risiko tersebut, tantangan ekonomi yang berat dan tingginya angka pengangguran terus mendorong banyak warga Afghanistan untuk menempuh jalur berbahaya ini demi mencari pekerjaan. (haninmazaya/arrahmah.id)
