Memuat...

Bab al-Mandab Disebut Dikuasai Ansarallah, 'Israel' Waspadai Dampaknya

Zarah Amala
Senin, 21 September 2026 / 10 Rabiulakhir 1448 12:30
Bab al-Mandab Disebut Dikuasai Ansarallah, 'Israel' Waspadai Dampaknya
Angkatan Bersenjata Yaman menggelar latihan militer yang menyimulasikan penanganan potensi invasi ke negara tersebut. (Foto: Cuplikan video/Arsip)

SANAA (Arrahmah.id) - Media 'Israel' menyoroti perkembangan di Selat Bab al-Mandab setelah menyebut bahwa Angkatan Bersenjata Yaman yang berafiliasi dengan gerakan Ansarallah telah menguasai jalur laut strategis tersebut.

Media 'Israel' i24 menyebut situasi itu sebagai perkembangan yang mengguncang tatanan keamanan dan ekonomi global, menurut laporan Quds News Network.

Bab al-Mandab merupakan selat strategis selebar sekitar 30 kilometer yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Sekitar 12 persen perdagangan maritim global dan sekitar 10 persen pengangkutan minyak serta gas melalui laut disebut melewati jalur tersebut.

Kemampuan Ansarallah untuk menutup atau membatasi akses Bab al-Mandab telah mendorong perusahaan pelayaran internasional mempertimbangkan rute alternatif. Kapal yang menghindari Laut Merah harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Rute Kapal Bertambah Ribuan Kilometer

Menurut laporan i24, rute alternatif tersebut dapat menambah sekitar 6.500–7.000 kilometer perjalanan antara Asia dan Eropa. Waktu tempuh juga dapat bertambah 10 hingga 14 hari, sehingga meningkatkan konsumsi bahan bakar, biaya awak kapal, dan premi asuransi.

Kapal yang tetap beroperasi di sekitar Laut Merah juga menghadapi biaya asuransi lebih tinggi karena risiko serangan dan eskalasi militer.

Kenaikan biaya transportasi berpotensi memengaruhi rantai pasok global dan harga barang konsumen, energi, serta bahan baku.

Bab al-Mandab menjadi jalur penting karena kapal yang melewatinya dapat melanjutkan perjalanan menuju Terusan Suez, yang merupakan salah satu rute laut terpendek antara Asia dan Eropa.

Analis 'Israel' memperingatkan bahwa situasi tersebut dapat mengubah Laut Merah dari arena yang sebelumnya dianggap sekunder menjadi front strategis utama bagi 'Israel'.

Pelabuhan Eilat di 'Israel' sebelumnya telah mengalami gangguan lalu lintas kapal dari Asia Timur karena perusahaan pelayaran menghindari rute Laut Merah.

Menurut i24, lembaga keamanan 'Israel' juga berpotensi mengerahkan tambahan sumber daya militer dan intelijen untuk melindungi wilayah selatan serta jalur pasokan lautnya.

Ancaman yang disoroti mencakup rudal jelajah, drone, dan kapal bermuatan bahan peledak yang dapat digunakan untuk menyerang sasaran 'Israel' maupun kapal komersial.

Media 'Israel' tersebut juga menilai posisi Ansarallah di Bab al-Mandeb dapat memperkuat pengaruh regional Iran dengan menciptakan tekanan tambahan terhadap perekonomian global tanpa harus menutup Selat Hormuz.

Saudi dan Mesir Turut Terimbas

Menurut laporan yang sama, gangguan di Bab al-Mandab juga menjadi tantangan strategis bagi Arab Saudi karena dapat mengancam ekspor minyak dari pelabuhan-pelabuhan kerajaan di Laut Merah.

Situasi tersebut juga dinilai berpotensi memengaruhi berbagai proyek perdagangan dan pariwisata Saudi di sepanjang pantai barat negara itu.

i24 menyebut pilihan Riyadh antara lain mencari kesepahaman dengan Ansarallah atau bergabung dalam koalisi maritim yang dipimpin Amerika Serikat dan negara-negara Barat untuk memberikan tekanan militer terhadap Yaman.

Mesir juga terdampak akibat penurunan lalu lintas kapal melalui Terusan Suez, yang merupakan salah satu sumber utama devisa negara tersebut. Gangguan berkepanjangan di Bab al-Mandab dinilai dapat semakin mengurangi jumlah kapal yang melewati Terusan Suez dan menambah tekanan ekonomi terhadap Kairo.

Dampak terhadap Hubungan Regional

Laporan i24 memperkirakan perkembangan tersebut dapat mendorong peningkatan koordinasi keamanan dan intelijen antara 'Israel', negara-negara Teluk, dan Mesir.

Namun, menurut laporan itu, pemerintah negara-negara Arab kemungkinan enggan mengakui kerja sama tersebut secara terbuka karena khawatir memicu eskalasi lebih lanjut dengan Yaman dan Iran.

Amerika Serikat dan Inggris disebut telah memimpin operasi pengintaian serta operasi militer terhadap Ansarallah. Sementara itu, Cina disebut lebih memilih pendekatan diplomatik dan menghindari intervensi militer langsung.

Beijing memiliki kepentingan ekonomi besar dalam menjaga kelancaran perdagangan melalui Bab al-Mandab dan Terusan Suez. Namun, menurut laporan tersebut, Cina sejauh ini lebih mengandalkan pengaruh diplomatiknya terhadap Iran. (zarahamala/arrahmah.id)