YERUSALEM (Arrahmah.id) - Aksi Menteri Keamanan Nasional 'Israel' Itamar Ben-Gvir bersama sejumlah pemukim 'Israel' memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha dan melakukan ritual Talmud di bagian timur kompleks tersebut menuai kecaman dari sejumlah negara Arab.
Arab Saudi, Qatar, Yordania, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), serta Kementerian Wakaf Palestina mengecam aksi tersebut yang berlangsung di bawah pengawalan ketat polisi 'Israel', bertepatan dengan rangkaian hari raya Yahudi.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran terang-terangan sekaligus provokasi terhadap umat Islam di seluruh dunia. Riyadh kembali menolak praktik provokatif serta tindakan hasutan dan kekerasan yang dilakukan pejabat 'Israel'.
Qatar memperingatkan bahwa berlanjutnya pelanggaran di kompleks Al-Aqsha dapat memperburuk siklus kekerasan di kawasan. Doha juga menegaskan dukungannya terhadap hak-hak rakyat Palestina dan pendirian negara Palestina di perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
Yordania juga memperingatkan upaya mengubah status quo di Al-Aqsha, termasuk melalui pembagian waktu dan tempat ibadah. Amman menegaskan 'Israel' tidak memiliki kedaulatan atas Yerusalem dan tempat-tempat sucinya.
Menurut Yordania, seluruh kompleks Al-Aqsha merupakan tempat ibadah khusus umat Islam. Pengelolaan kompleks tersebut, termasuk pengaturan akses, berada di bawah kewenangan Departemen Wakaf Yerusalem yang berafiliasi dengan Kementerian Wakaf Yordania.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina menegaskan Al-Aqsha merupakan hak eksklusif umat Islam yang tidak dapat dibagi maupun dimiliki bersama. Sekjen GCC Jassem Al-Budaiwi juga mengecam aksi tersebut dan mengatakan tindakan itu dapat menghambat upaya perdamaian serta membutuhkan sikap tegas dari masyarakat internasional.
Menurut Pemerintah Kota Yerusalem, sebanyak 796 pemukim 'Israel' memasuki kompleks Al-Aqsha pada Ahad (20/9/2026) pagi, sementara 80 lainnya masuk dengan alasan “wisata”. Aksi itu berlangsung di tengah kekhawatiran mengenai upaya kelompok Yahudi untuk memberlakukan ritual baru menjelang Yom Kippur atau Hari Penebusan.
Ketegangan Meluas ke Yerusalem dan Tepi Barat
Ketegangan juga meningkat di sejumlah wilayah Yerusalem dan Tepi Barat. Sehari sebelumnya, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu bersama sejumlah menteri dan ribuan pemukim memasuki area Tembok al-Buraq di Kota Tua Yerusalem dengan pengamanan ketat. Kehadiran pasukan Israel membuat kawasan tersebut mendapat penjagaan berlapis.
Di Hebron, pasukan 'Israel' menutup Masjid Ibrahimi bagi jamaah Muslim mulai Minggu pukul 14.00 hingga Senin pukul 22.00 dengan alasan perayaan hari raya Yahudi. Pelarangan azan di masjid tersebut juga disebut telah berlangsung selama 90 hari berturut-turut.
Sementara itu, bentrokan terjadi di kawasan Sur Baher, tenggara Yerusalem, setelah warga Palestina berhadapan dengan pasukan 'Israel' menyusul serangan pemukim terhadap kendaraan menggunakan batu di Sur Baher dan Umm Tuba, dekat permukiman Har Homa. Pasukan 'Israel' dilaporkan menembakkan gas air mata dan granat kejut yang menyebabkan kebakaran di sejumlah toko.
Di Tepi Barat, seorang pemukim 'Israel' meninggal setelah terluka dalam penembakan di dekat permukiman Halamish atau Neve Tzuf. Militer 'Israel' kemudian mengumumkan penangkapan warga Palestina yang disebut sebagai pelaku, Qadri Samara dari kota Biddu, setelah menemukannya dalam kondisi terluka di sebuah rumah sakit di Ramallah.
Perkembangan tersebut terjadi ketika pemukim 'Israel' masih diperbolehkan memasuki kompleks Al-Aqsha secara sepihak, meski Departemen Wakaf Islam Yerusalem berulang kali menyerukan penghentian aksi tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
