Memuat...

Citra Satelit Bongkar Kebangkitan Iran Usai Serangan AS, Klaim Trump dan Netanyahu Dipertanyakan

Samir Musa
Jumat, 24 Juli 2026 / 10 Safar 1448 22:23
Citra Satelit Bongkar Kebangkitan Iran Usai Serangan AS, Klaim Trump dan Netanyahu Dipertanyakan
Citra satelit memperlihatkan aktivitas perbaikan serta pembukaan kembali pintu masuk terowongan di sebuah pangkalan rudal Iran di utara Kermanshah, beberapa pekan setelah serangan. (Airbus)

TEHERAN (Arrahmah.id) – Citra satelit terbaru mengungkap bahwa Iran bergerak cepat membangun kembali infrastruktur militer dan strategis yang rusak akibat serangan Amerika Serikat dan "Israel". Temuan ini memunculkan pertanyaan baru terhadap klaim Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu yang sebelumnya menyatakan bahwa kemampuan militer Iran telah hancur.

Dilansir dari Foreign Affairs dan The Wall Street Journal, citra satelit menunjukkan aktivitas rekonstruksi di berbagai lokasi, mulai dari pangkalan rudal bawah tanah, jalan akses, jembatan, pelabuhan, hingga fasilitas produksi yang diduga berkaitan dengan industri pertahanan Iran.

Pada awal perang, Trump mengklaim militer Iran berada dalam "kekacauan total" dan menyebut sebagian besar kekuatan laut serta udara Iran telah musnah. Netanyahu juga menyatakan program rudal dan nuklir Iran telah mundur bertahun-tahun akibat serangan gabungan AS dan "Israel".

Namun, laporan terbaru menunjukkan gambaran yang berbeda.

Iran Bergerak Cepat Bangun Kembali Infrastruktur

Foto satelit dari Planet Labs di wilayah Kangavar, Iran barat, memperlihatkan kerusakan pada pintu masuk terowongan dan jalan menuju pangkalan rudal pada Maret lalu. Akan tetapi, hanya beberapa pekan kemudian, citra dari Airbus menunjukkan jalan baru telah diaspal dan pintu masuk terowongan baru telah dibangun.

Dalam kasus lain, seorang pejabat militer "Israel" mengungkapkan bahwa Iran mampu memperbaiki sebuah jembatan yang sebelumnya dihancurkan tiga bom "Israel" hanya dalam hitungan hari. Kecepatan perbaikan tersebut disebut mengejutkan para pejabat militer "Israel".

Di Pelabuhan Bandar Anzali di Laut Kaspia yang disebut memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), citra awal Juli juga memperlihatkan dimulainya proses rekonstruksi sebagian fasilitas galangan kapal.

Mantan komandan pertahanan udara dan rudal "Israel", Ran Kochav, mengatakan kecepatan pemulihan tersebut sejalan dengan kemampuan Iran yang selama ini dikenal mampu memulihkan stok rudal dan infrastruktur militernya dalam waktu relatif singkat.

Rudal-rudal Zolfaghar milik Iran dipamerkan di Lapangan Azadi, Teheran, di tengah perdebatan di Barat mengenai kemampuan Iran memulihkan persediaan rudalnya. (AFP)

Pangkalan Rudal Bawah Tanah Masih Bertahan

Menurut laporan tersebut, dalam banyak serangan, AS dan "Israel" hanya berhasil menghancurkan pintu masuk pangkalan rudal yang berada di dalam pegunungan, tanpa mampu menghancurkan keseluruhan fasilitas bawah tanah.

Para pejabat militer "Israel" meyakini sebagian besar persenjataan di dalam kompleks tersebut tetap utuh dan Iran kini sedang berupaya membuka kembali akses menuju fasilitas tersebut.

Citra satelit di pangkalan rudal Dezful dan wilayah utara Kermanshah memperlihatkan aktivitas penggalian pintu masuk baru serta perbaikan jalan yang sebelumnya rusak akibat serangan.

Selain itu, fasilitas industri Raja Shimi di dekat Teheran, yang oleh sejumlah analis Barat dikaitkan dengan produksi komponen rudal, juga tampak sedang direhabilitasi berdasarkan citra satelit terbaru.

Citra satelit fasilitas nuklir Natanz dan Gunung Pickaxe di sekitarnya, lokasi yang memicu meningkatnya kekhawatiran "Israel" terhadap kemampuan Iran membangun kembali program nuklirnya. (AP)

Kekhawatiran terhadap Program Nuklir Iran

Kekhawatiran "Israel" tidak hanya berkaitan dengan kemampuan rudal Iran. Intelijen "Israel" meyakini Teheran kemungkinan telah memindahkan ribuan mesin sentrifugal ke jaringan terowongan di dalam Gunung Pickaxe.

Jika benar, langkah tersebut dinilai dapat mempercepat upaya Iran membangun kembali program nuklirnya meskipun fasilitas permukaan mengalami kerusakan.

Laporan itu menilai bahwa aset paling berharga Iran bukan hanya bangunan fisik, melainkan pengetahuan teknis, jaringan produksi, dan kemampuan industri yang tetap bertahan meski mendapat serangan besar.

Cuplikan yang disiarkan televisi Iran memperlihatkan dampak serangan Amerika Serikat terhadap sebuah jembatan di dekat Selat Hormuz, sebagai bagian dari serangan terhadap jalur transportasi dan akses strategis di wilayah selatan Iran. (AFP)

Foreign Affairs: Era Dominasi Militer AS Mulai Berubah

Majalah Foreign Affairs menilai perang Iran menunjukkan perubahan besar dalam keseimbangan kekuatan global.

Penulis Robert Pape menyebut era ketika Amerika Serikat mampu menentukan hasil perang secara cepat dan murah, seperti saat Perang Teluk 1991, kini mulai berakhir.

Menurutnya, perkembangan drone murah, sensor komersial, kecerdasan buatan, serta teknologi sipil yang mudah diakses telah memberi negara-negara dengan kekuatan lebih kecil kemampuan untuk mengganggu lawan yang jauh lebih kuat.

Dalam konteks Iran, Washington dinilai masih mampu menghancurkan banyak target, tetapi tidak selalu berhasil mencapai tujuan politik yang diinginkan.

Bahkan, meski mendapat serangan besar, Iran masih mampu melancarkan serangan rudal serta mengganggu keamanan jalur pelayaran, sehingga meningkatkan biaya asuransi dan mengurangi kepercayaan terhadap keamanan rute perdagangan internasional.

Foreign Affairs memperingatkan bahwa pola serupa berpotensi terjadi di kawasan strategis lain seperti Selat Taiwan, Laut China Selatan, Selat Malaka, hingga Laut Merah.

Temuan dari The Wall Street Journal dan Foreign Affairs tersebut menunjukkan bahwa penghancuran target militer tidak selalu berarti mampu melumpuhkan sebuah negara. Kemampuan untuk membangun kembali infrastruktur, mempertahankan pengetahuan, serta memulihkan kapasitas produksi menjadi faktor penting yang menentukan daya tahan sebuah negara dalam menghadapi perang.

(Samirmusa/arrahmah.id)