Memuat...

Deklarasi Sumpah Pemuda Polda Metro Jaya Tuai Polemik, Peserta Berjas Almamater Diduga Bukan Mahasiswa

Ameera
Sabtu, 31 Oktober 2026 / 21 Jumadilawal 1448 17:16
Deklarasi Sumpah Pemuda Polda Metro Jaya Tuai Polemik, Peserta Berjas Almamater Diduga Bukan Mahasiswa
Deklarasi Sumpah Pemuda Polda Metro Jaya Tuai Polemik, Peserta Berjas Almamater Diduga Bukan Mahasiswa

JAKARTA (Arrahmah.id) – Deklarasi Sumpah Pemuda ke-98 yang digelar Polda Metro Jaya di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, menuai polemik.

Kegiatan bertajuk Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 itu menjadi sorotan setelah muncul dugaan keterlibatan peserta yang bukan mahasiswa, tetapi mengenakan jas almamater sejumlah perguruan tinggi.

Kontroversi tersebut semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Bahkan, unggahan kegiatan yang sebelumnya dipublikasikan melalui akun Instagram resmi Polda Metro Jaya, @poldametrojaya, diketahui telah dihapus.

Sementara itu, influencer Willie Salim yang turut hadir dalam kegiatan tersebut akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui akun media sosial pribadinya.

Deklarasi yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026) itu dihadiri sejumlah pihak, mulai dari aparat TNI-Polri, influencer Raffi Ahmad dan Willie Salim, perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas), hingga peserta yang mengenakan ikat kepala merah putih.

Namun, kegiatan yang semestinya menjadi momentum memperingati Hari Sumpah Pemuda tersebut justru menjadi perbincangan setelah warganet mempertanyakan identitas sejumlah peserta yang mengenakan atribut mahasiswa.

Polemik bermula dari beredarnya video yang memperlihatkan sejumlah peserta diduga tidak mampu menjelaskan identitas kampus maupun jurusan mereka ketika ditanya.

Bahkan, beberapa peserta disebut mengaku mendapatkan bayaran untuk menghadiri kegiatan tersebut serta menerima jas almamater dari pihak penyelenggara.

Informasi itu memicu perdebatan di media sosial. Warganet mempertanyakan proses perekrutan peserta serta keabsahan representasi mahasiswa dalam deklarasi yang mengatasnamakan mahasiswa Indonesia tersebut.

Meski demikian, dugaan keterlibatan peserta bayaran masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari pihak penyelenggara maupun kepolisian.

Bayu Akui Bukan Mahasiswa Undira

Salah satu sosok yang menjadi perhatian publik adalah Bayu Setiadi alias Dino. Namanya menjadi viral setelah tampil mengenakan jas almamater Universitas Dian Nusantara (Undira) dalam kegiatan deklarasi tersebut.

Melalui video yang diunggah akun Instagram @bem_undira pada Jumat (30/10/2026), Bayu memberikan klarifikasi mengenai kehadirannya dalam acara tersebut.

Ia secara terbuka mengakui bahwa dirinya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Bayu mengaku datang karena mendapat undangan dari komunitas dan menerima bayaran serta jas almamater dari pihak penyelenggara.

“Saya bukan mahasiswa Undira, jas almamater diberikan tanpa penjelasan asal-usulnya,” ujar Bayu dalam video klarifikasinya.

Bayu juga menyampaikan permintaan maaf kepada pihak Universitas Dian Nusantara serta pihak-pihak lain yang merasa dirugikan akibat kejadian tersebut.

Ia menegaskan bahwa klarifikasi tersebut disampaikan secara sukarela tanpa adanya paksaan.

Pengakuan Bayu semakin menambah sorotan publik terhadap penyelenggaraan deklarasi, khususnya mengenai penggunaan atribut perguruan tinggi oleh seseorang yang bukan mahasiswa kampus bersangkutan.

Willie Salim Minta Maaf

Selain dugaan keterlibatan peserta yang bukan mahasiswa, kehadiran influencer Willie Salim juga menjadi perhatian warganet.

Melalui akun Instagram @willie27_ pada Jumat (30/10/2026), Willie memberikan penjelasan mengenai alasan dirinya menghadiri kegiatan yang kini menuai kontroversi tersebut.

Ia mengaku hadir karena menerima undangan dan menegaskan tidak terlibat dalam penyelenggaraan maupun pengaturan peserta acara.

Willie juga membantah menerima bayaran ataupun imbalan dalam bentuk apa pun atas kehadirannya.

“Halo teman-teman, saya ingin memberikan penjelasan terkait kehadiran saya dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda kemarin. Saya hadir karena mendapatkan undangan. Saya tidak terlibat dalam penyelenggaraan maupun pengaturan peserta acara, serta tidak menerima bayaran ataupun imbalan dalam bentuk apa pun,” tulis Willie.

Ia menjelaskan, kehadirannya dilandasi keinginan untuk memberikan dukungan kepada masyarakat yang menyampaikan aspirasi.

Namun, Willie mengakui kurang teliti dalam memahami konteks kegiatan yang dihadirinya.

“Keputusan untuk hadir tetap menjadi tanggung jawab saya pribadi. Dengan segala kerendahan hati, saya memohon maaf atas kurangnya ketelitian saya dan kekecewaan yang timbul,” lanjutnya.

Permintaan maaf tersebut disampaikan menyusul ramainya kritik dan perbincangan publik mengenai kehadirannya dalam deklarasi tersebut.

Unggahan Polda Metro Jaya Dihapus

Polemik semakin menjadi perhatian setelah unggahan dokumentasi kegiatan di akun Instagram resmi Polda Metro Jaya, @poldametrojaya, diketahui telah dihapus.

Penghapusan unggahan tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat, terutama mengenai proses penyelenggaraan kegiatan, identitas peserta, serta dugaan adanya pembayaran kepada orang-orang yang hadir.

Sejumlah persoalan tersebut kini menjadi sorotan publik karena deklarasi itu membawa nama mahasiswa Indonesia dan digelar dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda.

Publik pun menantikan penjelasan resmi dari pihak penyelenggara maupun Polda Metro Jaya untuk menjernihkan berbagai dugaan yang berkembang.

Transparansi mengenai proses perekrutan peserta, penggunaan atribut almamater, serta mekanisme penyelenggaraan kegiatan dinilai penting agar polemik tersebut tidak semakin meluas dan mencederai makna peringatan Sumpah Pemuda.

(ameera/arrahmah.id)