GAZA (Arrahmah.id) - Penayangan episode terbaru program investigasi Al Jazeera, Ma Khafiya A‘zham (Yang Lebih Tersembunyi), yang mengangkat kehidupan mantan Panglima Brigade Izzuddin Al-Qassam, Muhammad Deif, memicu gelombang reaksi di media sosial. Banyak warganet mengaku baru pertama kali melihat wajah sosok yang selama puluhan tahun dikenal luas, tetapi jarang tampil di hadapan publik.
Episode bertajuk “Muhammad Deif: Rahasia Sebelum Badai Al-Aqsha” itu dipandu jurnalis Al Jazeera, Tamer Al-Mishal. Program tersebut menampilkan sejumlah rekaman dan cuplikan yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, termasuk kesaksian Deif yang mengisahkan sendiri sejumlah bagian kehidupannya.
Selama beberapa dekade, nama Deif dikenal luas, sementara wajahnya nyaris tidak pernah terlihat. Dalam episode ini, Brigade Al-Qassam untuk pertama kalinya merilis sejumlah rekaman langka yang memperlihatkan sosok tersebut sekaligus mengungkap perjalanan hidupnya.
Investigasi itu dibuka dengan rekaman dari 1994 yang menampilkan seorang pejuang bertopeng mengumumkan tanggung jawab Brigade Al-Qassam atas penculikan tentara 'Israel', Nachshon Wachsman. Program tersebut kemudian menelusuri perjalanan Deif sejak awal, masa penahanannya, hingga menjadi pemimpin sayap militer Hamas.
Dokumenter itu juga mengandalkan kesaksian langka, rekaman, dan dokumen yang mengungkap sejumlah tahapan perencanaan operasi Badai Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023.
Episode tersebut turut mengulas awal keterlibatan Deif dalam aktivitas militer dan perpindahannya ke Tepi Barat. Di wilayah itu, ia bertemu dengan sejumlah pemimpin Brigade Al-Qassam dan ikut membentuk embrio aktivitas militer kelompok tersebut sebelum berkembang lebih luas.
Dalam salah satu rekaman, Deif mengisahkan cara dirinya menghindari pengejaran 'Israel' selama bertahun-tahun. 'Israel' menjulukinya “hantu” karena kemampuannya menyembunyikan diri.
“Kami berpindah dari satu perkebunan ke perkebunan lain, dari satu rumah ke rumah lainnya. Saya mengubah seluruh pola hidup saya,” ujar Deif dalam rekaman tersebut.
Episode itu juga menampilkan pernyataannya mengenai alasan keterlibatannya dalam perjuangan bersenjata. “Allah telah menugaskan kami untuk berjihad di jalan-Nya dan melawan musuh-musuh-Nya di tanah yang diberkahi ini. Kami pun mengangkat panji dan maju menjalankan kewajiban suci tersebut,” katanya.
Setelah episode tersebut ditayangkan, berbagai platform media sosial dipenuhi komentar warganet. Banyak di antara mereka mengaku baru pertama kali melihat wajah sosok yang selama ini mereka kenal melalui kiprah dan tindakannya, bukan penampilannya.
Sejumlah pengguna media sosial kembali menggaungkan slogan, “Letakkan pedang berhadapan dengan pedang, kami adalah orang-orang Muhammad Deif.” Slogan tersebut pernah menggema di halaman Masjid Al-Aqsa pada 2021, saat operasi militer Saif Al-Quds, sebelum menyebar ke Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Nada kesedihan mendominasi banyak komentar. Salah seorang pengguna media sosial mengaku terpukul karena Deif tidak sempat mendapat pemakaman yang layak. Menurutnya, kepergian sosok seperti Deif sebelum menyaksikan hari pembebasan merupakan kehilangan yang sangat besar.
Mantan tahanan Palestina, Abdel Nasser Issa, yang turut menjadi narasumber dalam episode tersebut, mengungkap sisi lain perjalanan Deif. Ia mengatakan bahwa pada Mei 1995, dirinya bersama Deif dan Yahya Ayyash pernah merancang pengembangan aktivitas militer di Tepi Barat sekaligus mengupayakan kembalinya Ayyash ke wilayah tersebut.
Issa juga mengenang kalimat yang kerap diucapkan Deif, “Gaza dan Tepi Barat adalah satu keluarga.”
Sementara itu, penulis dan analis politik asal Gaza, Ibrahim Al-Qarra, menilai dokumenter tersebut tidak sekadar mengungkap perjalanan hidup seorang tokoh. Menurutnya, tayangan itu menyajikan narasi politik dan sejarah yang utuh, dengan pesan bahwa operasi Badai Al-Aqsha bukan keputusan spontan ataupun peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari empat dekade aktivitas perlawanan dalam kerangka perjuangan nasional.
Sejumlah warganet juga mengaitkan kisah para pemimpin yang ditampilkan dalam dokumenter tersebut dengan sejarah kehidupan tokoh-tokoh besar.
Seorang pengguna bernama Sanaa menulis bahwa generasinya tidak sempat hidup pada masa para sahabat Nabi, tetapi menyaksikan sosok-sosok dari Gaza yang mengingatkan mereka pada kisah para tokoh besar. Ia juga mendoakan Deif dan menyebutnya sebagai “gunung keimanan”.
Pengguna lain, Yasmin Khaled, mengungkapkan rasa syukur karena hidup pada masa para pemimpin tersebut dan dapat menyaksikan sikap serta keteguhan mereka.
Sementara itu, seorang pengguna bernama Naji menulis bahwa para pemimpin tersebut telah mengerahkan seluruh kemampuan dalam perjalanan panjang yang dipenuhi darah dan pengorbanan, hingga berpuncak pada operasi Badai Al-Aqsha. Ia menyebut setiap tokoh yang tampil dalam program itu sebagai sosok yang memiliki sejarahnya sendiri.
Salah satu adegan yang paling banyak menyita perhatian adalah rekaman eksklusif pertemuan seluruh anggota dewan militer Brigade Al-Qassam yang dipimpin Deif di sebuah terowongan di Gaza. Al Jazeera menyebut seluruh orang yang hadir dalam pertemuan tersebut telah gugur.
Jurnalis Gaza, Fatima Abdullah, menggambarkan rekaman itu sebagai gambaran kehilangan besar yang baru benar-benar disadari ketika seluruh sosok tersebut terlihat dalam satu bingkai.
“Inilah kehilangan kita yang terkumpul dalam satu gambar hari ini. Kita baru menyadari sejenak betapa banyak yang telah pergi dan betapa banyak hal yang sengaja kita sembunyikan agar bisa melanjutkan sisa kehidupan. Ini adalah kehilangan yang tak tergantikan. Seluruh majelis itu telah diantarkan menuju langit, sementara wajah-wajah yang seharusnya masih memiliki waktu panjang di bumi kini hanya tersisa dalam ingatan tentang kehilangan,” tulisnya.
Jurnalis Gaza lainnya, Muhammad Haniyeh, menilai kepergian para pemimpin tersebut bukan sekadar duka sesaat, melainkan beban berat bagi umat yang menyaksikan tragedi tersebut dan turut memikul tanggung jawab atas sikap diamnya.
Anggota senior Hamas, Mahmoud Mardawi, juga mengomentari rekaman pertemuan dewan militer tersebut. Menurutnya, mereka bukan sekadar sekelompok orang yang berkumpul, melainkan bagian dari kisah sebuah bangsa, harapan umat, dan ingatan kolektif rakyat Palestina.
Penulis Ali Abu Rizq menyoroti kesamaan para pemimpin yang tampil dalam dokumenter tersebut. Menurutnya, mereka memiliki kepedulian terhadap tujuan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Ia mengutip sejumlah pernyataan para tokoh dalam tayangan itu. Salah seorang di antaranya menangis sembari berjanji akan mengangkat kembali martabat umat, sementara yang lain menyebut Deif sebagai kebanggaan umat. Ada pula yang menegaskan pentingnya membangkitkan kesadaran umat.
Abu Rizq menilai para tokoh tersebut merupakan penerus semangat para nabi dan generasi awal sahabat.
Sementara itu, seorang pemuda asal Gaza bernama Muhammad membandingkan pengalaman hidupnya selama tiga tahun mengungsi dalam kondisi sulit dengan kehidupan Deif yang selama lebih dari 30 tahun harus menghadapi ancaman kematian, kelaparan, dan keterbatasan.
Ia mengaku bahwa kondisi pengungsian yang dialaminya saja telah membuat hidup terasa begitu berat hingga sempat berharap kematian datang. Ia pun mempertanyakan bagaimana Deif mampu menjalani kehidupan selama puluhan tahun dalam kondisi terus diburu.
Dalam unggahannya, Muhammad juga menyapa Deif dengan nama panggilan Abu Khaled. Ia mengatakan bahwa publik kini mengetahui betapa besar luka yang dirasakan Deif ketika putranya, Ali, gugur dalam serangan udara 'Israel' pada 2014.
Muhammad Deif merupakan salah satu tokoh yang paling lama menjadi buronan 'Israel'. Ia selamat dari sejumlah upaya pembunuhan. 'Israel' mengumumkan bahwa Deif gugur dalam serangan udara di kawasan Al-Mawasi, selatan Jalur Gaza, pada Juli 2024. Namun, Brigade Al-Qassam baru mengonfirmasi kesyahidannya pada Januari 2025. (zarahamala/arrahmah.id)
