Memuat...

Delapan Warga Somalia Pulang dari Guantánamo

Hanoum
Ahad, 27 September 2026 / 16 Rabiulakhir 1448 03:40
Delapan Warga Somalia Pulang dari Guantánamo
Adam Abdullah telah bekerja secara legal sebagai mekanik mobil sementara permohonan suakanya masih diproses sebelum pihak imigrasi menangkapnya pada 12 Desember. [Foto: MPR News]

MOGADISHU (Arrahmah.id) -- Delapan warga Somalia yang sekitar sebulan ditahan di fasilitas militer Amerika Serikat di Guantánamo Bay, Kuba, akhirnya tiba di Mogadishu pada Kamis (24/9/2026). Mereka dideportasi oleh otoritas imigrasi AS setelah sebelumnya ditahan di Guantánamo sebagai bagian dari proses pemulangan ke Somalia. Salah satu dari mereka, Adam Abdullah, kemudian menceritakan pengalaman selama berada di fasilitas tersebut kepada media setelah kembali ke keluarganya di dekat ibu kota Somalia.

Dilansir MPR News (26/9), Abdullah (31) merupakan warga Somalia yang sebelumnya tinggal di St. Paul, Minnesota. Ia tiba di Amerika Serikat pada 2023 untuk mengajukan suaka dan bekerja sebagai mekanik mobil ketika permohonan imigrasinya masih diproses.

Abdullah tidak memiliki catatan kriminal di Minnesota selain dua pelanggaran parkir terkait aturan kendaraan saat badai salju. Namun ia ditangkap agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) pada 12 Desember 2025 dalam operasi yang disebut pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai Operation Metro Surge.

Setelah penangkapan, Abdullah dipindahkan melalui sejumlah fasilitas penahanan imigrasi di Minnesota, Kentucky, dan Louisiana sebelum dikirim ke Guantánamo pada akhir Agustus bersama tujuh warga Somalia lainnya.

Menurut kesaksiannya kepada MPR News, para tahanan awalnya diberi tahu bahwa penerbangan menuju Somalia hanya akan singgah di Kuba untuk mengisi bahan bakar. Mereka kemudian tetap ditahan di Guantánamo selama beberapa pekan.

Abdullah mengatakan para tahanan berada di bawah pengamanan ketat, mendapat waktu sekitar satu jam untuk berolahraga di area terbuka dan diborgol ketika dibawa ke tempat untuk melakukan panggilan telepon. Ia juga mengatakan para tahanan melakukan mogok makan pada hari kedua karena tidak memperoleh informasi yang jelas mengenai berapa lama mereka akan berada di Guantánamo.

Perjalanan pemulangan mereka berlangsung melalui beberapa lokasi. Abdullah mengatakan pesawat meninggalkan Kuba pada malam hari, kemudian berhenti di Puerto Rico, Dakar, dan Nairobi. Di Nairobi, rombongan dipindahkan ke penerbangan maskapai Somalia untuk perjalanan terakhir menuju Mogadishu.

Abdullah juga mengatakan terdapat seorang warga Somalia lain yang bergabung dalam penerbangan dari Louisiana, sehingga total penumpang Somalia dalam perjalanan menuju Afrika Timur menjadi sembilan orang, meskipun delapan di antaranya merupakan mereka yang sebelumnya ditahan di Guantánamo.

Pemerintah Amerika Serikat tidak memberikan penjelasan terperinci mengenai alasan masing-masing dari delapan orang tersebut ditahan di Guantánamo. Ketika ditanya MPR News mengenai kasus mereka, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (Department of Homeland Security/DHS) menyebut para tahanan tersebut sebagai kelompok dengan catatan kriminal serius, tetapi tidak memberikan bukti atau rincian mengenai tindak pidana yang dikaitkan dengan masing-masing individu.

Penggunaan Guantánamo untuk penahanan imigrasi sendiri telah menjadi persoalan hukum dan politik di Amerika Serikat. Pemerintahan Trump sejak 2025 memperluas penggunaan fasilitas di Naval Station Guantánamo Bay sebagai tempat penahanan imigran yang akan dideportasi. Kebijakan tersebut menghadapi gugatan hukum dari kelompok hak sipil, termasuk American Civil Liberties Union (ACLU), yang mempersoalkan penggunaan fasilitas tersebut untuk tahanan imigrasi. (hanoum/arrahmah.id)