Memuat...

Deretan Mata-Mata dan Pembelot Paling Terkenal AS: Dari Perang Dingin hingga Era Digital

Samir Musa
Ahad, 17 Mei 2026 / 1 Zulhijah 1447 16:25
Deretan Mata-Mata dan Pembelot Paling Terkenal AS: Dari Perang Dingin hingga Era Digital
Logo Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) di pintu masuk markas besarnya di Virginia (Reuters).

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Majalah Newsweek menerbitkan sebuah laporan berjudul “Para pembelot dan mata-mata Amerika paling terkenal… berdasarkan urutan”, yang mengulas berbagai kasus spionase dan pembelotan paling menonjol yang pernah mengguncang lembaga keamanan Amerika Serikat, mulai dari era Perang Dingin hingga kebocoran di era digital saat ini.

Laporan yang ditulis oleh jurnalis Melissa Fleur Afshar itu muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap ancaman dari “orang dalam”, terutama setelah Biro Investigasi Federal (FBI) menaikkan hadiah hingga 200 ribu dolar bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi tentang Monica Witt, seorang mantan perwira intelijen Amerika yang membelot ke Iran.

Monica Witt dituduh oleh Washington membantu Korps Garda Revolusi Iran (FBI).

Menurut laporan tersebut, Witt—yang berasal dari Texas dan diduga fasih berbahasa Persia—disebut-sebut kini tinggal di Iran dan kemungkinan masih membantu pemerintah negara itu, meskipun informasi ini masih bersifat dugaan sebagaimana disebutkan oleh majalah tersebut.

Majalah itu menegaskan bahwa Witt bukanlah satu-satunya dalam rangkaian panjang kasus spionase terhadap Amerika Serikat. Selama beberapa dekade, pemerintah AS berulang kali menghadapi ancaman serius dari warganya sendiri yang berbalik melawan negaranya.

Hanssen adalah salah satu mata-mata paling merusak dalam sejarah Amerika Serikat (FBI).

Dalam daftar tersebut, nama Robert Hanssen menempati posisi pertama. Ia adalah mantan agen FBI yang membocorkan rahasia sangat sensitif kepada Rusia selama 22 tahun, dengan imbalan uang, perhiasan, dan jam tangan mewah. Ia dianggap sebagai salah satu mata-mata paling merusak dalam sejarah Amerika.

Di posisi kedua terdapat Aldrich Ames, mantan pejabat kontraintelijen CIA yang menyerahkan identitas agen-agen Amerika kepada Uni Soviet, yang menyebabkan eksekusi sejumlah agen, dengan bayaran lebih dari 4 juta dolar.

Snowden membocorkan program pengawasan elektronik Amerika Serikat (AFP/France Presse).

Sementara itu, Edward Snowden berada di peringkat ketiga setelah membocorkan program pengawasan global Amerika pada tahun 2013, yang menimbulkan dampak besar terhadap kemampuan intelijen AS. Ia kini menetap di Rusia.

Manning lahir sebagai laki-laki, tetapi memilih untuk bertransisi menjadi perempuan dan membocorkan ribuan dokumen rahasia kepada WikiLeaks (Reuters).

Di peringkat keempat adalah Chelsea Manning, mantan analis intelijen militer yang membocorkan ratusan ribu dokumen militer dan diplomatik kepada WikiLeaks selama perang Irak. Hukumannya kemudian diringankan oleh mantan Presiden Barack Obama.

Monica Witt sendiri berada di posisi kelima. Ia adalah mantan spesialis intelijen Angkatan Udara AS yang membelot ke Iran, dan dituduh membantu Korps Garda Revolusi Islam Iran dengan memberikan informasi sensitif, termasuk identitas agen-agen Amerika yang bekerja secara rahasia.

Foto mugshot Ana
Ana Montes melakukan spionase untuk Kuba (FBI)

Di posisi keenam terdapat Ana Montes, yang dijuluki “Ratu Kuba”. Ia adalah analis intelijen yang memata-matai Amerika untuk Kuba selama 17 tahun sebelum akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman 25 tahun penjara setelah mengakui perbuatannya pada 2002.

Posisi ketujuh ditempati oleh John Walker, mantan perwira Angkatan Laut yang memimpin jaringan spionase keluarga untuk Uni Soviet, dengan membocorkan sistem komunikasi militer yang sangat rahasia—yang dinilai bisa berakibat fatal jika Perang Dingin berubah menjadi perang terbuka.

Oswald, yang dituduh membunuh Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy (Getty).

Sementara itu, Lee Harvey Oswald berada di posisi kedelapan. Ia dikenal sebagai pembunuh Presiden John F. Kennedy, dan sebelumnya pernah membelot ke Uni Soviet sebelum kembali ke Amerika Serikat.

Laporan tersebut juga mencantumkan sejumlah kasus yang lebih baru, termasuk Abouzar Rahmati, mantan kontraktor Administrasi Penerbangan Federal yang dituduh bekerja untuk pemerintah Iran dari dalam Amerika, serta Jack Teixeira yang terlibat dalam kebocoran dokumen rahasia Pentagon melalui platform permainan daring.

Selain itu, daftar tersebut juga mencakup Eileen Wang di negara bagian California, yang diduga memiliki hubungan dengan pemerintah China, serta Jinchao Wei yang divonis karena membocorkan informasi militer sensitif kepada intelijen China.

Laporan ini menyimpulkan bahwa ancaman dari dalam—yakni individu yang memiliki akses ke informasi rahasia namun jusntru membocorkannya—tetap menjadi salah satu tantangan terbesar bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Dari masa Perang Dingin hingga era digital saat ini, pola pengkhianatan oleh “orang dalam” terus berulang dan meninggalkan dampak besar.

(Samirmusa/arrahmah.id)