JAKARTA (Arrahmah.id) - Kementerian Haji dan Umrah mencatat sebanyak 24 jamaah haji Indonesia meninggal dunia selama pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Informasi tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaf.
Menanggapi hal itu, Musyrif Diny 2026 sekaligus Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Asrorun Niam Sholeh, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh jamaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi.
“Semoga diampuni segala khilafnya dan diterima semua amal ibadahnya, termasuk niat berhajinya. Semoga ditempatkan di tempat terbaik sebagai ahlul jannah (penghuni surga),” kata Prof Niam kepada MUI Digital, Jumat (15/5/2026).
Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta itu juga mendoakan keluarga jamaah yang ditinggalkan agar diberikan ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menghadapi musibah tersebut.
Sebagai Musyrif Diny 2026, Prof Niam mengaku telah melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah agar seluruh hak keagamaan jamaah yang meninggal dunia tetap terpenuhi sesuai syariat.
Ia memastikan jamaah yang wafat sebelum pelaksanaan wukuf akan secara otomatis dibadalhajikan tanpa biaya tambahan. Badal haji merupakan pelaksanaan ibadah haji oleh orang lain untuk menggantikan jamaah yang tidak mampu menunaikan haji sendiri karena uzur permanen atau meninggal dunia.
“Jamaah yang wafat secara otomatis akan dibadalhajikan oleh petugas yang ditunjuk secara resmi dan sah menurut syariat, tanpa dipungut biaya tambahan,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah itu menegaskan kebijakan tersebut menjadi bentuk pelayanan dan tanggung jawab pemerintah terhadap jamaah haji Indonesia yang meninggal sebelum menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.
Pemerintah juga terus mengingatkan seluruh jamaah agar menjaga kondisi kesehatan selama berada di Tanah Suci mengingat padatnya aktivitas ibadah dan tingginya suhu udara di musim haji tahun ini.
(ameera/arrahmah.id)
