Memuat...

Nama Operasi Militer AS Viral: ‘Epic Fury’ hingga ‘Claw of the Toe’ Jadi Bahan Ejekan Dunia

Samir Musa
Ahad, 17 Mei 2026 / 1 Zulhijah 1447 08:39
Nama Operasi Militer AS Viral: ‘Epic Fury’ hingga ‘Claw of the Toe’ Jadi Bahan Ejekan Dunia
Pemerintah Amerika Serikat menamai operasi perang terhadap Iran sebagai “Operasi Kemarahan Epik (Epic Fury)” untuk menunjukkan kekuatan dan daya gentar. Namun, para komentator justru menertawakannya dan menjadikannya bahan ejekan (Reuters).
WASHINGTON (Arrahmah.id) — Amerika Serikat kembali menjadi sorotan internasional, bukan hanya karena operasi militernya, tetapi juga karena nama-nama sandi yang digunakan dinilai semakin aneh, dramatis, dan kerap menjadi bahan ejekan di dunia maya.Setiap kali meluncurkan operasi militer, Washington hampir selalu memberikan nama sandi khusus. Secara resmi, nama tersebut dimaksudkan untuk mencerminkan tujuan strategis, konteks operasi, serta memberikan efek psikologis terhadap lawan. Namun dalam praktiknya, banyak nama justru dianggap berlebihan, bahkan menyerupai judul film aksi Hollywood.

Dalam laporan The National Interest, penulis Peter Suciu mengulas bahwa penamaan operasi militer Amerika Serikat kini tidak lagi sekadar urusan teknis militer, tetapi juga menjadi bagian dari perang narasi, propaganda, dan pembentukan persepsi publik.

Salah satu yang paling ramai dibahas adalah istilah “Operasi Kemarahan Epik (Epic Fury)” yang dikaitkan dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam konteks skenario konflik dengan Iran. Nama tersebut langsung memicu gelombang komentar sarkastik di media sosial karena dianggap terlalu bombastis dan tidak lazim dalam tradisi penamaan operasi militer modern.

Nama-Nama Operasi yang Dianggap Aneh dan Kontroversial


Sejumlah operasi militer Amerika Serikat sebelumnya juga pernah menuai perhatian karena keunikannya, di antaranya:

  • Operation Golden Dragon dalam intervensi di Honduras pada 1988

  • Operation Claw of the Toe pada masa Perang Dunia II

  • Operation Frequent Wind yang digunakan dalam evakuasi besar-besaran dari Saigon pada 1975 saat Vietnam Selatan runtuh


Nama-nama tersebut dinilai sebagian pengamat terlalu sinematik dan tidak mencerminkan kesan militer yang serius, sehingga mudah menjadi bahan perbincangan dan candaan publik global.

Sementara itu, Operation Desert Fox yang digunakan untuk kampanye pengeboman Irak pada 1998 di era Presiden Bill Clinton juga menuai kontroversi. Istilah “Desert Fox” dikenal sebagai julukan jenderal Nazi Erwin Rommel, sehingga dianggap membawa sensitivitas sejarah.

Dari Perang Dunia II hingga Sistem Modern Militer


Sejarah mencatat, penggunaan nama sandi operasi militer mulai diterapkan secara sistematis sejak Perang Dunia II. Tujuannya adalah untuk menyamarkan rencana militer dari musuh sekaligus mempermudah komunikasi internal antar komando.

Pada masa awal, sistem penamaan bahkan menggunakan kode warna. Namun sistem tersebut kemudian ditinggalkan karena semakin banyaknya operasi membuatnya tidak lagi praktis.

Pada periode yang sama, Jerman Nazi menggunakan nama-nama simbolik dan historis seperti Operation Barbarossa untuk invasi ke Uni Soviet pada 1941 yang dipilih langsung oleh Adolf Hitler.

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill pernah mengkritik penggunaan nama operasi yang terlalu bombastis atau tidak sensitif, karena dinilai dapat menimbulkan kesan buruk di tengah situasi perang.

Pentagon Gunakan Sistem Digital “NICKA”


Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) diketahui menggunakan sistem komputer bernama “NICKA” untuk membantu menghasilkan nama-nama operasi militer dan latihan.

Namun demikian, keputusan akhir penamaan tetap sering melibatkan pejabat tinggi, terutama untuk operasi besar yang memiliki dampak strategis dan politik global.

Perang Modern Bukan Hanya di Medan Tempur


Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tren penamaan operasi militer Amerika Serikat kini semakin bergeser menjadi bagian dari perang psikologis dan perang persepsi global.

Nama-nama operasi tidak hanya berfungsi sebagai kode rahasia, tetapi juga sebagai alat komunikasi politik dan citra kekuatan.

Bahkan disebutkan bahwa Pentagon pernah mempertimbangkan penggunaan nama “Operation Heavy Hammer” untuk skenario konflik baru dengan Iran jika ketegangan kembali meningkat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perang modern tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang bahasa, simbol, dan opini publik dunia.

(Samirmusa/arrahmah.id)