Memuat...

Trump Umumkan Tewasnya “Orang Kedua ISIS di Afrika” — Siapa Abu Bilal al-Manuki?

Samir Musa
Ahad, 17 Mei 2026 / 1 Zulhijah 1447 08:08
Trump Umumkan Tewasnya “Orang Kedua ISIS di Afrika” — Siapa Abu Bilal al-Manuki?
Trump Umumkan Tewasnya “Orang Kedua ISIS di Afrika” — Siapa Abu Bilal al-Manuki?

BORNO (Arrahmah.id) – Dalam sebuah operasi militer yang digambarkan pihak Amerika Serikat sebagai “sangat kompleks dan direncanakan dengan presisi tinggi”, Amerika Serikat bersama Nigeria mengumumkan tewasnya Abu Bilal al-Manuki. Ia disebut oleh Presiden AS Donald Trump dan militer Nigeria sebagai “orang kedua” dalam struktur kepemimpinan global ISIS, serta salah satu tokoh paling aktif dalam jaringan organisasi tersebut, lansir Al Jazeera.

Operasi tersebut dilancarkan terhadap sebuah markas ISIS di kawasan Cekungan Danau Chad, wilayah luas yang mencakup Negeria, Chad, Niger, dan Kamerun. Kawasan ini dalam beberapa tahun terakhir menjadi pusat aktivitas penting kelompok tersebut di Afrika wilayah -Sahara. Serangan itu terjadi setelah proses intelijen dan pengawasan yang berlangsung selama berbulan-bulan, dengan target yang disebut telah lama menjadi salah satu tokoh paling dicari dalam jaringan ISIS di Afrika Barat.
“Prajurit Nigeria berada di dalam kendaraan tempur mereka saat latihan di pangkalan Monguno yang diperkuat di Negara Bagian Borno (AFP/Agence France-Presse).”

Dari Boko Haram menuju ISIS

Berdasarkan berbagai sumber media dan laporan keamanan, Abu Bilal al-Manuki atau Abu Bakar bin Muhammad bin Ali al-Manuki lahir pada 1982 di Mainok, Negara Bagian Borno, Nigeria timur laut. Wilayah ini telah lama menjadi pusat konflik bersenjata yang menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi akibat perang yang berkepanjangan.

Di wilayah tersebut, ia pertama kali muncul sebagai salah satu tokoh dalam kelompok
Boko Haram, yang sejak awal 2000-an berkembang menjadi salah satu kelompok bersenjata paling aktif di Nigeria.

Namun pada 2015, ia disebut berbaiat kepada ISIS, seiring perpecahan internal dalam Boko Haram yang kemudian melahirkan faksi-faksi baru yang berafiliasi dengan jaringan ISIS di Afrika Barat.

Sejak saat itu, posisinya dilaporkan terus meningkat dalam struktur organisasi. Ia naik ke level kepemimpinan setelah kematian sejumlah tokoh penting, termasuk Mamman Nur, dan mulai memainkan peran yang lebih luas dalam operasi kelompok tersebut di berbagai wilayah.

Prajurit Nigeria berada di dalam kendaraan tempur mereka saat latihan di pangkalan Monguno yang diperkuat di Negara Bagian Borno (AFP/Agence France-Presse).

Peran lintas negara di Afrika Barat

Militer Nigeria dan sejumlah lembaga pemantau ekstremisme menyebut al-Manuki sebagai figur operasional sekaligus strategis dalam jaringan tersebut. Ia diduga terlibat dalam mengoordinasikan aktivitas kelompok di kawasan Sahel dan Afrika Barat, yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu episentrum konflik bersenjata di benua Afrika.

Laporan juga menyebut ia memiliki keterkaitan dengan “Al-Furqan Office”, salah satu struktur penting dalam jaringan ISIS yang menangani operasi di berbagai wilayah konflik.

Selain itu, ia dituding berperan dalam memfasilitasi perpindahan pejuang asing ke Libya pada 2015–2016, ketika ISIS masih memiliki kekuatan signifikan di negara tersebut sebelum kemudian mengalami tekanan militer besar dari berbagai pihak.

Pada 2018, namanya juga dikaitkan oleh militer Nigeria dalam kasus penculikan lebih dari 100 siswi di Dapchi, yang dilakukan oleh Boko Haram, meski peran pastinya tidak pernah dijelaskan secara rinci dalam laporan resmi.

Naik menjadi tokoh utama ISIS Afrika


Seiring waktu, al-Manuki disebut menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam jaringan ISIS di Afrika Barat. Ia bahkan dilaporkan menempati posisi tinggi dalam struktur “wilayat” atau provinsi organisasi di kawasan tersebut, yang menjadikannya salah satu pemimpin senior di Afrika.

Pada 2023, Amerika Serikat memasukkannya ke dalam daftar sanksi sebagai “Specially Designated Global Terrorist”, yang menandakan statusnya sebagai salah satu target utama dalam operasi kontra-terorisme global.

Operasi gabungan yang mematikan


Meski sebelumnya militer Nigeria pernah mengklaim bahwa ia telah tewas pada 2024, laporan terbaru menyebutkan bahwa operasi gabungan yang lebih terkoordinasi akhirnya memastikan kematiannya secara definitif.

Serangan dilakukan pada malam hari di wilayah Metele, Negara Bagian Borno, setelah operasi intelijen yang berlangsung cukup lama dan mendalam untuk memastikan keberadaan target di lokasi tersebut.

Operasi tersebut melibatkan serangan udara dan darat secara terpadu oleh pasukan Nigeria dengan dukungan Komando Afrika Amerika Serikat (AFRICOM), yang selama ini terlibat dalam berbagai operasi kontra-terorisme di kawasan Afrika.

Pihak militer menyebut beberapa anggota kelompok lainnya juga tewas dalam operasi tersebut, sementara tidak ada korban di pihak pasukan gabungan, yang dinyatakan berhasil melaksanakan misi tanpa kehilangan personel.

Dampak terhadap ISIS


Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kematian al-Manuki akan berdampak besar terhadap kemampuan operasional ISIS secara global, terutama dalam koordinasi jaringan, perencanaan serangan, dan komunikasi lintas wilayah.

Presiden Nigeria Bola Tinubu  juga menyebut operasi tersebut sebagai “pukulan telak” terhadap kelompok bersenjata yang masih aktif di kawasan tersebut, khususnya di wilayah utara Nigeria yang selama ini menjadi pusat operasi mereka.

Hingga saat ini, ISIS belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan kematian salah satu tokoh pentingnya tersebut, sementara proses verifikasi independen masih terus dilakukan oleh berbagai pihak keamanan di kawasan tersebut.

Kematian al-Manuki menambah daftar panjang pemimpin kelompok bersenjata yang tewas di kawasan Danau Chad, yang kini menjadi salah satu pusat konflik paling aktif dan kompleks di benua Afrika, dengan dinamika yang terus berubah dari waktu ke waktu.

(Samirmusa/arrahmah.id)