Memuat...

Dibebaskan di Kreta, Aktivis Armada Gaza Laporkan Kekerasan Fisik Selama Penahanan

Zarah Amala
Sabtu, 2 Mei 2026 / 15 Zulkaidah 1447 10:16
Dibebaskan di Kreta, Aktivis Armada Gaza Laporkan Kekerasan Fisik Selama Penahanan
Para aktivis dari Global Steadfastness Flotilla, yang dicegat oleh angkatan laut Israel di perairan internasional, meneriakkan slogan di luar Bandara Heraklion, di pulau Kreta (Reuters).

KRETA (Arrahmah.id) - Sebanyak lebih dari 100 aktivis kemanusiaan pendukung Palestina akhirnya tiba di Pulau Kreta, Yunani, pada Jumat (1/5/2026). Mereka dipindahkan ke daratan oleh otoritas Yunani setelah sempat ditahan oleh militer 'Israel' akibat pencegatan armada bantuan Global Sumud Flotilla di perairan internasional beberapa hari lalu.

Penyelenggara armada melalui saluran Telegram resmi mereka mengungkapkan perlakuan buruk yang dialami para aktivis selama 40 jam di atas kapal milik Angkatan Laut 'Israel'.

Para aktivis mengaku dicegah mendapatkan akses makanan dan air yang cukup, serta dipaksa tidur di lantai dek yang sengaja dibanjiri air secara berulang.

Beberapa aktivis mengalami cedera fisik, termasuk patah tulang hidung dan rusuk, akibat ditendang dan diseret saat berada dalam kondisi tangan terikat setelah melakukan protes atas penahanan rekan mereka.

Ketegangan Diplomatik atas Penangkapan Aktivis

Di tengah pembebasan mayoritas aktivis, 'Israel' terus menahan dua orang peserta armada, salah satunya adalah warga negara Spanyol bernama Saif Abu Kashk.

Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares Bueno, mengecam penahanan warganya sebagai tindakan ilegal dan menuntut pembebasan segera.

Kementerian Luar Negeri 'Israel' mengeklaim bahwa Abu Kashk dan satu aktivis lainnya dicurigai terlibat dalam organisasi teroris dan aktivitas ilegal, sehingga mereka dipindahkan ke wilayah 'Israel' untuk menjalani interogasi.

Meskipun 22 kapal telah disita oleh 'Israel' pada Rabu lalu (29/4), semangat para aktivis tampak tidak surut.

Sumber yang dikutip oleh Reuters menyatakan bahwa 47 kapal lainnya masih berlayar di selatan Pulau Kreta. Mereka merencanakan untuk berlabuh sementara di sana sebelum melanjutkan perjalanan kembali menuju Jalur Gaza.

 Setiap kapal yang tersisa tersebut membawa sekitar satu ton pasokan, mulai dari makanan hingga perlengkapan medis, guna membantu krisis kemanusiaan yang masih memburuk di Gaza.

Tekanan Global

Pemerintah Amerika Serikat melalui Kementerian Luar Negeri mengeluarkan pernyataan yang mengancam akan memberikan konsekuensi bagi pihak-pihak yang terus mendukung armada tersebut, dengan melabeli misi ini sebagai pendukung Hamas. Sementara itu, kementerian luar negeri Jerman dan Italia menyatakan kekhawatiran mendalam atas perkembangan situasi ini.

Meskipun gencatan senjata telah dicapai sejak Oktober 2025, akses bantuan ke Gaza tetap menjadi isu krusial. Sebagian besar dari dua juta penduduk Gaza saat ini masih hidup di reruntuhan atau tenda darurat dengan akses bantuan yang sangat minim, menjadikannya dorongan utama bagi para aktivis untuk terus mencoba menembus blokade laut tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)