Memuat...

Flotilla Indonesia: Beli Kapal Miliaran, Tapi Tak Sampai Berlayar ke Gaza?

Samir Musa
Sabtu, 2 Mei 2026 / 15 Zulkaidah 1447 11:00
Flotilla Indonesia: Beli Kapal Miliaran, Tapi Tak Sampai Berlayar ke Gaza?
Surya Fachrizal, alumni misi Freedom Flotilla 2010 (Mavi Marmara)
JAKARTA (Arrahmah.id) – Sebuah tulisan opini yang dikutip dari TimTeng Podcast oleh Surya Fachrizal, alumni misi Freedom Flotilla 2010 (Mavi Marmara), menyoroti keterlibatan delegasi Indonesia dalam konvoi kapal kemanusiaan menuju Gaza yang baru-baru ini dihentikan di perairan dekat Yunani.Penulis menyebut bahwa pencegatan oleh 'Israel' terhadap flotilla pada 30 April di perairan sekitar Pulau Kreta seharusnya menjadi “klimaks” dari sebuah misi kemanusiaan, karena dapat menarik perhatian dunia terhadap blokade Gaza.Namun, ia mempertanyakan peran delegasi Indonesia yang disebut telah berkontribusi membeli tiga kapal dengan nilai sekitar 300 ribu USD (sekitar Rp5,1 miliar).

Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa dua aktivis Indonesia yang berangkat dari Spanyol hanya berlayar hingga Italia, sebelum kemudian meninggalkan kapal dan terbang ke Istanbul, Turki, dengan alasan menjemput enam delegasi lainnya.

“Pertanyaannya, apakah perlu meninggalkan kapal dan keluar dari barisan flotilla hanya untuk menjemput enam laki-laki dewasa?” tulis penulis sebagaimana dikutip dari TimTeng Podcast.

Ia juga mempertanyakan mengapa pertemuan tidak dilakukan langsung di Turki saat kapal singgah sebelum melanjutkan pelayaran menuju Gaza.

Akibat keputusan tersebut, delegasi Indonesia kehilangan momentum ketika 'Israel' disebut melakukan intervensi dan menahan 175 aktivis di perairan dekat Yunani. Tidak ada warga negara Indonesia dalam daftar yang ditahan.

Penulis menyebut hal ini memunculkan dua persepsi publik: antara rasa lega karena WNI tidak ditahan, atau kekecewaan karena delegasi Indonesia tidak berada di garis depan konfrontasi tersebut.

Ia juga menyinggung kritik di media sosial yang menuduh sebagian pihak menjadikan flotilla sebagai sarana kampanye dan penggalangan dana, meski klaim tersebut tidak disertai bukti.

Lebih lanjut, ia mengaku pernah terlibat dalam grup komunikasi penyelenggara flotilla dan memberikan masukan, namun kritiknya tidak direspons dan dirinya kemudian dikeluarkan dari grup tersebut.

“Karena upaya saya mengkritik dari dalam dibungkam, saya berkesimpulan penyelenggara flotilla dari Indonesia lebih memilih untuk dikritik secara terbuka dari luar,” tulisnya sebagaimana dikutip dari TimTeng Podcast.

Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi Arrahmah.id maupun institusi mana pun.

(Samirmusa/arrahmah.id)