Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa dua aktivis Indonesia yang berangkat dari Spanyol hanya berlayar hingga Italia, sebelum kemudian meninggalkan kapal dan terbang ke Istanbul, Turki, dengan alasan menjemput enam delegasi lainnya.
“Pertanyaannya, apakah perlu meninggalkan kapal dan keluar dari barisan flotilla hanya untuk menjemput enam laki-laki dewasa?” tulis penulis sebagaimana dikutip dari TimTeng Podcast.
Ia juga mempertanyakan mengapa pertemuan tidak dilakukan langsung di Turki saat kapal singgah sebelum melanjutkan pelayaran menuju Gaza.
Akibat keputusan tersebut, delegasi Indonesia kehilangan momentum ketika 'Israel' disebut melakukan intervensi dan menahan 175 aktivis di perairan dekat Yunani. Tidak ada warga negara Indonesia dalam daftar yang ditahan.
Penulis menyebut hal ini memunculkan dua persepsi publik: antara rasa lega karena WNI tidak ditahan, atau kekecewaan karena delegasi Indonesia tidak berada di garis depan konfrontasi tersebut.
Ia juga menyinggung kritik di media sosial yang menuduh sebagian pihak menjadikan flotilla sebagai sarana kampanye dan penggalangan dana, meski klaim tersebut tidak disertai bukti.
Lebih lanjut, ia mengaku pernah terlibat dalam grup komunikasi penyelenggara flotilla dan memberikan masukan, namun kritiknya tidak direspons dan dirinya kemudian dikeluarkan dari grup tersebut.
“Karena upaya saya mengkritik dari dalam dibungkam, saya berkesimpulan penyelenggara flotilla dari Indonesia lebih memilih untuk dikritik secara terbuka dari luar,” tulisnya sebagaimana dikutip dari TimTeng Podcast.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi Arrahmah.id maupun institusi mana pun.
(Samirmusa/arrahmah.id)
