Memuat...

Dari Musuh Jadi Kagum? Gelombang Baru Elit Kanan Amerika Mulai Puji Islam

Samir Musa
Sabtu, 2 Mei 2026 / 15 Zulkaidah 1447 09:29
Dari Musuh Jadi Kagum? Gelombang Baru Elit Kanan Amerika Mulai Puji Islam
Tokoh-tokoh sayap kanan seperti Tucker Carlson mulai menunjukkan perubahan sikap, baik melalui pujian terhadap beberapa aspek syariat Islam maupun kritik terhadap permusuhan terhadap umat Muslim (Getty Images).

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Sebuah artikel di Washington Post menyoroti fenomena perubahan sikap di sebagian kalangan sayap kanan Amerika Serikat terhadap Islam.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah tokoh media dan influencer konservatif dilaporkan mulai mengubah narasi lama yang selama ini memandang Islam sebagai ancaman, menjadi lebih terbuka, bahkan dalam beberapa kasus menampilkan apresiasi terhadap nilai-nilai Islam.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa perubahan ini muncul di tengah kritik yang semakin tajam dari sebagian kelompok kanan terhadap liberalisme modern, yang mereka anggap sebagai penyebab kemunduran nilai-nilai sosial di Barat.

Menurut penulis artikel, Matthew Schmitz, gelombang ini terlihat jelas dalam ruang media alternatif seperti podcast dan platform digital, di mana sebagian pembicara mulai menunjukkan sikap lebih simpatik terhadap Islam. Hal ini berbeda jauh dengan dominasi narasi pasca peristiwa 11 September 2001 yang identik dengan kecurigaan terhadap umat Islam.

Nick Fuentes (kanan) dan Tucker Carlson memuji beberapa aspek syariat Islam serta mengkritik sikap permusuhan terhadap umat Muslim (AFP/Agence France-Presse).

Sejumlah tokoh yang disebut dalam laporan tersebut antara lain:

  • Tucker Carlson – jurnalis dan komentator politik konservatif Amerika
  • Candace Owens – aktivis dan komentator politik konservatif
  • Nick Fuentes – aktivis dan streamer politik sayap kanan

Mereka dinilai mulai mengkritik sikap anti-Muslim di Barat, bahkan dalam beberapa kesempatan memuji aspek tertentu dari hukum Islam atau struktur sosial dalam masyarakat Muslim.

Bahkan dalam kasus tertentu, disebutkan bahwa individu seperti Andrew Tate juga menjadi sorotan setelah mengumumkan dirinya memeluk Islam. Ia mengaitkan pilihannya dengan pencarian nilai alternatif terhadap apa yang ia sebut sebagai “dekadensi moral” di dunia Barat.

Namun, artikel tersebut menegaskan bahwa fenomena ini tidak selalu berkaitan dengan pencarian spiritual murni, melainkan juga bagian dari pergeseran ideologis yang lebih luas. Sebagian kelompok ini sedang mencari alternatif terhadap sistem liberal Barat, termasuk dalam isu keluarga, gender, dan struktur sosial.

Di sisi lain, laporan itu juga menyinggung munculnya wacana “pernikahan ideologis” antara nilai konservatif Kristen dan Islam dalam menghadapi liberalisme modern. Namun, istilah ini lebih merupakan konstruksi diskursus politik daripada kesepahaman teologis yang nyata.

Washingtom Post juga menyoroti bahwa pandangan romantisasi terhadap masyarakat Muslim sering kali bersifat selektif dan tidak mencerminkan kompleksitas realitas di negara-negara mayoritas Muslim, yang juga menghadapi tantangan sosial, politik, dan ekonomi.

Selain itu, disebutkan bahwa realitas geopolitik global menunjukkan tidak adanya blok Islam yang tunggal dalam menghadapi Barat, mengingat perbedaan kepentingan antarnegara Muslim serta dinamika politik internasional yang kompleks.

(Samirmusa/arrahmah.id)