Memuat...

Dampak Perang Iran: Media AS Sebut Superioritas Militer Washington Mulai Runtuh

Zarah Amala
Sabtu, 2 Mei 2026 / 15 Zulkaidah 1447 10:45
Dampak Perang Iran: Media AS Sebut Superioritas Militer Washington Mulai Runtuh
AS yakin blokade ekonomi akan paksa Iran buka kembali Selat Hormuz (Foto: tangkapan video)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Media internasional menyoroti pergeseran dramatis dalam lanskap keamanan global menyusul konflik berkepanjangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Analisis terbaru menunjukkan tantangan berat bagi Washington dalam mempertahankan supremasi militer, sementara di sisi lain, strategi 'Israel' di Lebanon dinilai semakin jauh dari tujuan menciptakan keamanan bagi warganya.

New York Times dalam editorial terbarunya melontarkan kritik tajam terhadap administrasi Presiden Donald Trump. Editorial tersebut menyatakan bahwa militer AS kini kehilangan keunggulan kompetitif akibat pengelolaan konflik yang gegabah.

Perang dengan Iran dinilai telah memberikan peta jalan bagi negara-negara lain, seperti Rusia dan Korea Utara, untuk menguji batas kekuatan AS di masa depan.

Tanpa reformasi militer yang mendalam, AS dinilai berisiko menghadapi kemunduran yang jauh lebih besar di kancah global.

Senada dengan hal tersebut, National Interest menyebut penggunaan kekuatan berlebihan (excessive force) terhadap Iran telah gagal membuahkan hasil. Kebijakan ini justru dianggap menjerumuskan AS ke dalam rawa baru di Timur Tengah yang merugikan posisi Amerika di mata dunia.

Tekanan Ekonomi terhadap Teheran

Di sisi lain, Washington Times melaporkan optimisme pejabat AS bahwa blokade ekonomi akan memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz. Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, mengeklaim bahwa Iran kini berada dalam posisi yang sangat terjepit. Iran disebut mengalami kesulitan ekstrem dalam mengekspor minyak dan barang vital lainnya.

Laporan tersebut menyebutkan adanya hiperinflasi dan menipisnya cadangan pangan di Iran, yang dinilai dapat menekan Teheran untuk segera mencari kesepakatan diplomatik.

"Zona Penyangga" 'Israel' yang Gagal

Sementara itu, di front Lebanon, Jerusalem Post menerbitkan analisis yang cukup mengejutkan bagi publik 'Israel'. Laporan tersebut menyebut bahwa wilayah utara 'Israel' masih jauh dari kata aman meskipun militer Israel telah melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon.

Upaya pembentukan zona penyangga di Lebanon Selatan dinilai "sia-sia" dan tidak memberikan rasa aman bagi warga 'Israel'.

Surat kabar tersebut menyimpulkan bahwa kehadiran militer 'Israel' di Lebanon Selatan tidak perlu dan mendesak pemerintah untuk segera mengakhiri perang guna beralih ke jalur negosiasi dengan pemerintah Lebanon.

Ancaman Baru: Drone FPV Hizbullah

Wall Street Journal turut menyoroti efektivitas taktis kelompok Hizbullah dalam menghadapi militer 'Israel'. Hizbullah dilaporkan telah mengadopsi penggunaan drone First-Person View (FPV), teknologi yang sebelumnya sangat destruktif dalam konflik Rusia-Ukraina. Drone ini dinilai menjadi "mimpi buruk" baru bagi pasukan darat 'Israel' karena harganya yang murah, tingkat akurasi yang tinggi, serta sulitnya deteksi oleh sistem pertahanan tradisional. (zarahamala/arrahmah.id)