Memuat...

Dua Masjid di Tepi Barat Dibakar, Kekerasan Pemukim 'Israel' Kian Memanas

Hanoum
Senin, 27 Juli 2026 / 13 Safar 1448 04:45
Dua Masjid di Tepi Barat Dibakar, Kekerasan Pemukim 'Israel' Kian Memanas
Seorang pria Palestina memeriksa kerusakan di sebuah masjid, yang menurut warga Palestina dirusak oleh pemukim Israel, di Qusra dekat Nablus, di Tepi Barat yang diduduki Israel, 26 Juli 2026. [Foto: Reuters]

TEPI BARAT (Arrahmah.id) -- Gelombang kekerasan di wilayah pendudukan Tepi Barat kembali meningkat setelah dua masjid Palestina dibakar oleh kelompok pemukim 'Israel' dalam insiden terpisah pada akhir pekan. Serangan yang terjadi di desa At-Tuwani dan desa lain di wilayah selatan Hebron itu berlangsung hanya beberapa hari setelah bentrokan mematikan yang menewaskan empat warga Palestina dan dua tentara Israel. Peristiwa tersebut memicu kecaman luas dari otoritas Palestina, organisasi internasional, dan sejumlah negara yang menilai kekerasan pemukim semakin tidak terkendali.

Dilansir Reuters (26/7/2026), para pemukim 'Israel' menyerbu desa At-Tuwani pada Sabtu (26/7) dini hari. Mereka membakar sebagian bangunan masjid, merusak properti warga, serta mencoret dinding dengan simbol Bintang Daud dan tulisan yang merujuk pada pos pemukiman ilegal "Havat Gilad". Warga setempat berupaya memadamkan api sebelum menyebar ke seluruh bangunan.

Serangan terhadap rumah ibadah itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Tepi Barat setelah bentrokan berdarah di dekat desa Tal, wilayah Nablus, yang menewaskan empat warga Palestina dan dua anggota militer 'Israel' sehari sebelumnya. Otoritas Palestina menuduh para pemukim memanfaatkan situasi keamanan yang memburuk untuk melancarkan serangan balasan terhadap desa-desa Palestina.

Kepala Dewan Desa At-Tuwani, Fawaz Abu Aram, mengatakan warga terkejut ketika mengetahui masjid menjadi sasaran pembakaran.

"Kami mendapati masjid dalam keadaan terbakar dan dindingnya dicoret-coret. Ini bukan hanya serangan terhadap bangunan, tetapi juga terhadap keyakinan dan kehidupan masyarakat kami," ujarnya kepada AP.

Kementerian Luar Negeri Palestina mengutuk keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari kampanye terorganisasi yang bertujuan mengintimidasi warga Palestina agar meninggalkan tanah mereka.

Dalam pernyataannya, kementerian menegaskan bahwa meningkatnya impunitas terhadap pelaku kekerasan pemukim telah memperburuk situasi keamanan di wilayah pendudukan.

Militer 'Israel' mengonfirmasi telah menerima laporan mengenai pembakaran masjid dan vandalisme di At-Tuwani. Pihak militer menyatakan penyelidikan sedang dilakukan bersama kepolisian Israel untuk mengidentifikasi para pelaku.

"Pasukan keamanan sedang menyelidiki insiden ini dan akan mengambil tindakan terhadap siapa pun yang melanggar hukum," demikian pernyataan militer 'Israel' yang dikutip Reuters.

Associated Press melaporkan bahwa kekerasan pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat meningkat tajam sepanjang tahun 2026. Selain pembakaran rumah ibadah, berbagai insiden penyerangan terhadap rumah warga, lahan pertanian, kendaraan, dan fasilitas umum terus terjadi di sejumlah wilayah, terutama di sekitar Hebron, Nablus, dan Ramallah. Organisasi hak asasi manusia menilai banyak pelaku tidak pernah diproses secara hukum meskipun identitas mereka diketahui.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah negara Barat sebelumnya telah memperingatkan bahwa eskalasi kekerasan pemukim dapat semakin memperburuk konflik Israel-Palestina. Para pengamat menilai pembakaran masjid, yang merupakan simbol keagamaan dan sosial penting bagi masyarakat Palestina, berpotensi memicu ketegangan yang lebih luas di kawasan yang sudah lama dilanda konflik.

Hingga Ahad (27/7), belum ada laporan penangkapan terkait pembakaran dua masjid tersebut. Sementara itu, aparat keamanan 'Israel' tetap disiagakan di sejumlah titik rawan di Tepi Barat menyusul kekhawatiran akan aksi balasan dan bentrokan baru antara pemukim Israel dan warga Palestina. (hanoum/arrahmah.id)