TEL AVIV (Arrahmah.id) - Propaganda militer dan polarisasi politik dalam negeri turut membentuk perang informasi 'Israel' dalam berbagai konflik, antara upaya memamerkan kekuatan di medan perang dan usaha memperbaiki citra yang terus tergerus.
Narasi resmi hasbara, istilah yang merujuk pada mesin propaganda 'Israel', kembali mendapat sorotan setelah berhadapan dengan kondisi di lapangan dan kesaksian dari dalam 'Israel'.
Salah satu contohnya adalah penghancuran Bukit Ali al-Taher yang menghadap Kota Nabatieh, Lebanon selatan, pada 10 September. 'Israel' meledakkan bukit strategis tersebut menggunakan lebih dari 1.000 ton bahan peledak.
Operasi itu tidak hanya disebut bertujuan menghancurkan terowongan Hizbullah, tetapi juga dikemas sebagai pertunjukan militer yang ditujukan untuk menunjukkan kekuatan kepada warga Lebanon selatan sekaligus menciptakan kesan keberhasilan bagi publik 'Israel'.
Operasi tersebut disertai kampanye digital yang intensif oleh juru bicara militer 'Israel'. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yisrael Katz turut tampil untuk membangun narasi kemenangan.
Namun, sejumlah elemen dalam penyampaian tersebut justru menuai pertanyaan. Senjata yang ditampilkan di belakang Netanyahu dinilai tidak sesuai dengan klaim mengenai besarnya persenjataan yang dihancurkan. Pernyataan Katz juga disebut berubah antara menyatakan pertempuran telah dituntaskan dan menyerukan kelanjutan operasi.
Di Lebanon, tidak adanya narasi resmi Hizbullah di sejumlah media yang terpolarisasi turut membuka ruang spekulasi mengenai tujuan operasi 'Israel'. Sejumlah pihak di Lebanon menilai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi scorched earth atau bumi hangus untuk menciptakan zona penyangga.
Film 'Israel' Bongkar Kesaksian Tentara
Di sisi lain, proyek hasbara 'Israel' juga menghadapi tekanan dari dalam negeri setelah film dokumenter 'Israel' Naza meraih penghargaan juri di Festival Film Venesia.
Film karya Yuval Abraham dan Rachel Szor itu menggunakan kesaksian rahasia sejumlah tentara 'Israel' mengenai operasi militer di Gaza, termasuk dugaan penargetan warga sipil dan penggunaan kecerdasan buatan dalam pemilihan sasaran.
Pelapor khusus PBB Francesca Albanese dan sejumlah organisasi hak asasi manusia menyebut kesaksian dalam film tersebut sebagai bukti yang menurut mereka dapat memperkuat dugaan kejahatan perang dan genosida.
Film itu memicu kemarahan di 'Israel'. Sejumlah tokoh sayap kanan menuduh kedua sutradara melakukan pengkhianatan dan antisemitisme, bahkan menyerukan pencabutan kewarganegaraan serta penahanan mereka. Beberapa media 'Israel', termasuk Channel 14 dan i24NEWS, juga melancarkan kritik terhadap keduanya.
Upaya membantah isi film dan mempertahankan citra militer 'Israel' kemudian kembali berhadapan dengan pemberitaan mengenai jatuhnya sebuah gedung di kawasan Tel al-Hawa, Gaza, yang menyebabkan sejumlah warga Palestina tewas dan terluka.
Sorotan tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi 'Israel' dalam mempertahankan narasi resminya di tengah perang Gaza dan Lebanon. Di satu sisi, pemerintah dan militer 'Israel' terus menampilkan operasi militer sebagai bukti keberhasilan dan kekuatan. Namun di sisi lain, kesaksian dari dalam 'Israel', karya dokumenter, serta kondisi di lapangan terus memunculkan pertanyaan mengenai narasi tersebut dan efektivitas mesin hasbara dalam membentuk persepsi publik. (zarahamala/arrahmah.id)
