Memuat...

Jelang Musim Dingin, Palang Merah Peringatkan Risiko Bangunan Runtuh di Gaza

Zarah Amala
Kamis, 24 September 2026 / 13 Rabiulakhir 1448 11:01
Jelang Musim Dingin, Palang Merah Peringatkan Risiko Bangunan Runtuh di Gaza
Sebuah ekskavator membongkar dan menyingkirkan puing-puing Gedung Al-Saada yang runtuh menimpa para penghuninya di Gaza (Al Jazeera).

GAZA (Arrahmah.id) - Komite Internasional Palang Merah (ICRC) memperingatkan meningkatnya risiko bangunan runtuh di Jalur Gaza menjelang musim dingin. Tim penyelamat di Gaza saat ini menghadapi kekurangan alat berat dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengevakuasi korban dari bawah reruntuhan serta mengamankan bangunan yang rusak.

Juru bicara ICRC, Pat Griffith, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa perang selama bertahun-tahun telah menyebabkan kerusakan struktural luas pada bangunan di Gaza. Kondisi tersebut membuat banyak bangunan tidak lagi aman untuk dihuni.

Griffith mendesak agar lebih banyak peralatan dan material dapat masuk ke Gaza, sekaligus menyediakan tempat tinggal alternatif yang aman bagi warga Palestina. Ia memperingatkan risiko keruntuhan bangunan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang, terutama ketika hujan dan angin musim dingin tiba.

Peringatan itu disampaikan setelah sebuah bangunan tujuh lantai, yang dikenal sebagai Gedung al-Saada di Kota Gaza, runtuh pada Rabu, 16 September. Sebanyak 21 orang dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam kejadian tersebut. Tim pencarian dan penyelamatan sebelumnya telah meminta bantuan material serta peralatan untuk menangani reruntuhan bangunan.

Griffith mengatakan tim penyelamat juga menerima laporan mengenai bangunan lain di selatan Kota Gaza yang mengalami kerusakan setelah hujan turun. Tangga bangunan tersebut runtuh dan menyebabkan sejumlah anak terjebak di lantai dua.

Menurut Griffith, keluarga yang berlindung di bangunan itu telah diberi tahu bahwa tempat tersebut tidak aman. Ia memperingatkan kondisi serupa dapat kembali terjadi saat musim dingin, mengingat banyak bangunan di Gaza mengalami kerusakan struktural setelah hampir tiga tahun perang.

Ia juga mengatakan bahwa berdasarkan hukum humaniter internasional, 'Israel' sebagai kekuatan pendudukan di Gaza memiliki tanggung jawab untuk memastikan warga Palestina memperoleh kebutuhan dasar, termasuk peralatan, makanan, air, serta tempat tinggal yang aman.

Sementara itu, anggota dewan Federasi Kontraktor Palestina di Gaza, Arif Abu Odeh, memperingatkan bahwa alat berat yang masih tersedia di Gaza hampir tidak dapat beroperasi. Ia menyebut sektor konstruksi Gaza secara praktis mendekati kondisi "nol secara mekanis".

Menurut Abu Odeh, lebih dari 300 ribu unit rumah di Gaza telah hancur dan ribuan bangunan lainnya mengalami kerusakan serta berisiko runtuh. Gaza, katanya, membutuhkan ratusan alat berat dan peralatan untuk menangani reruntuhan sekaligus mengurangi risiko bagi warga. (zarahamala/arrahmah.id)