Memuat...

Erdogan Ultimatum 'Israel', Larang Serangan ke Damaskus dan Beirut

Hanoum
Jumat, 12 Juni 2026 / 27 Zulhijah 1447 06:24
Erdogan Ultimatum 'Israel', Larang Serangan ke Damaskus dan Beirut
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. [Foto : Türkiye Today/Zehra Kurtulus]

ANKARA (Arrahmah.id) -- Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, melontarkan peringatan keras kepada 'Israel' agar tidak memperluas operasi militernya ke ibu kota Suriah, Damaskus, maupun ibu kota Lebanon, Beirut. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan setelah serangkaian serangan 'Israel' di Suriah dan Lebanon yang menurut Ankara berpotensi mengancam stabilitas regional serta keamanan nasional Turki.

Erdogan menyampaikan ultimatum itu dalam pidato yang disiarkan televisi nasional Turki pada Rabu (11/6/2026). Menurutnya, eskalasi konflik yang terus meluas dari Gaza ke negara-negara tetangga telah menciptakan ancaman baru bagi seluruh kawasan Timur Tengah. Presiden Turki menegaskan bahwa Ankara tidak akan tinggal diam apabila serangan 'Israel' semakin mendekati wilayah yang dianggap strategis bagi keamanan Turki. Berdasarkan laporan Daily Sabah (11/6), Erdogan menilai tindakan militer 'Israel' kini tidak lagi terbatas pada konflik Palestina, melainkan mulai berdampak pada keseimbangan geopolitik kawasan.

Dalam pidatonya, Erdogan secara khusus menyinggung serangan-serangan 'Israel' terhadap target di Suriah dan Lebanon yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebut Damaskus dan Beirut sebagai bagian penting dari stabilitas regional dan memperingatkan bahwa serangan yang lebih luas terhadap kedua kota tersebut dapat memicu konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.

“Jangan coba-coba menyentuh Damaskus dan Beirut. Serangan yang terus meluas tidak hanya mengancam negara-negara di kawasan, tetapi juga keamanan Turki,” kata Recep Tayyip Erdogan.

Pernyataan tersebut muncul setelah militer 'Israel' terus melancarkan operasi terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Suriah serta posisi-posisi yang dikaitkan dengan milisi Syiah Hizbullah di Lebanon. Pemerintah 'Israel' beralasan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk mencegah ancaman terhadap keamanan negaranya. Namun, Ankara menilai pendekatan militer yang berkelanjutan justru memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.

Menurut Daily Sabah, Erdogan menegaskan bahwa Turki terus memantau perkembangan keamanan di perbatasan selatannya dan telah meningkatkan koordinasi dengan berbagai negara di kawasan. Ia juga menyerukan komunitas internasional untuk mengambil langkah yang lebih tegas dalam mencegah meluasnya konflik ke negara-negara lain di Timur Tengah.

Hingga kini, pemerintah 'Israel' belum memberikan tanggapan resmi terhadap ultimatum Erdogan tersebut. Namun, pernyataan Presiden Turki menambah daftar kritik internasional terhadap operasi militer 'Israel' yang dinilai berpotensi memperluas konflik dari Gaza ke Suriah dan Lebanon. Para pengamat memperingatkan bahwa setiap eskalasi baru di Damaskus atau Beirut dapat meningkatkan risiko konfrontasi yang melibatkan lebih banyak negara di kawasan.

Dengan situasi yang masih sangat dinamis, peringatan Erdogan menunjukkan semakin besarnya kekhawatiran negara-negara regional terhadap kemungkinan meluasnya konflik Timur Tengah, terutama ketika ketegangan antara 'Israel', kelompok-kelompok yang didukung Iran, dan berbagai aktor regional lainnya terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. (hanoum/arrahmah.id)