GAZA (Arrahmah.id) - Faksi-faksi perlawanan Palestina menyatakan pada Selasa (21/7/2026) bahwa 'Israel' terus melakukan pembantaian terhadap warga Palestina sebagai bagian dari genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan menyusul tewasnya seluruh anggota keluarga al-Masri dan penyerangan terhadap Rumah Sakit Yemen Al-Saeed di Gaza utara.
Dalam pernyataan bersama, faksi-faksi tersebut menegaskan bahwa serangan yang memusnahkan keluarga al-Masri, yang sebagian besar anggotanya adalah anak-anak, serta serangan terhadap rumah sakit, membuktikan berlanjutnya aksi kejahatan brutal 'Israel' di tengah upaya yang sedang berjalan untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Mereka memperingatkan bahwa serangan terhadap keluarga al-Masri dan keluarga Nasman menandai eskalasi berbahaya yang membutuhkan intervensi internasional secara mendesak.
Lebih lanjut, faksi-faksi Palestina menyerukan perlindungan bagi warga sipil, penuntut pertanggungjawaban bagi para pelaku di bawah hukum humaniter internasional, penghentian genosida 'Israel' di Gaza, serta penegakan pemahaman gencatan senjata. Mereka juga mendesak para mediator dan penjamin internasional untuk meningkatkan upaya dalam menghentikan serangan, memenuhi kebutuhan humaniter mendesak di Gaza, dan menjamin keselamatan warga sipil.
Pernyataan tersebut dirilis beberapa jam setelah serangan udara 'Israel' mengincar sebuah apartemen pemukiman milik keluarga al-Masri di lingkungan Al-Sabra, sebelah selatan Kota Gaza.
Menurut sumber lokal, pesawat tempur 'Israel' melepaskan tiga rudal ke arah apartemen yang berada di seberang Kamar Dagang di Jalan Thalatini tersebut sebelum fajar pada Selasa.
Serangan itu menewaskan enam anggota keluarga, yakni sang ayah, Firas Ahmed Al-Masri; sang ibu, Salsabeel Mohammad al-Masri; serta empat anak mereka: Naeem, Ferial, Salma, dan Amira. Jenazah para korban dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Shifa, di mana foto-foto korban dengan cepat menyebar di media sosial.
Jurnalis dan aktivis Palestina menggambarkan serangan tersebut sebagai contoh nyata lainnya dari lenyapnya seluruh anggota keluarga akibat gempuran 'Israel' di Gaza.
Salah satu unggahan yang beredar luas menyebutkan bahwa pemboman itu "mengakhiri hidup sang ayah, Firas al-Masri, istrinya, dan empat anak mereka," serta menambahkan bahwa "satu keluarga lenyap dalam sekejap." Unggahan lain menyebutkan bahwa "tidak ada yang terluka—mereka semua tewas," sementara saksi lain menceritakan bagaimana sang ibu dan empat anaknya dievakuasi dari bawah reruntuhan dalam kondisi hangus.
Pembantaian ini membangkitkan kembali ingatan atas sederet serangan sebelumnya, di mana gempuran 'Israel' ke rumah-rumah warga telah menghapus seluruh silsilah keluarga Palestina dari catatan sipil.
Para aktivis hak asasi manusia telah berulang kali memperingatkan bahwa serangan terhadap bangunan pemukiman padat penduduk dengan munisi berdaya ledak tinggi telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa secara massal dari kalangan sipil. Di saat yang sama, tim penyelamat kerap berjuang selama berjam-jam untuk mengevakuasi para korban yang tertimbun reruntuhan.
Pembantaian keluarga al-Masri terjadi di tengah serangan 'Israel' yang terus berlanjut ke pemukiman, tenda-tenda pengungsian, dan pusat perlindungan di seluruh Jalur Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, rumah sakit di seluruh wilayah kantong tersebut menerima 10 jenazah warga Palestina yang tewas dalam 24 jam terakhir, terdiri dari sembilan korban tewas baru dan satu korban yang meninggal akibat luka-lukanya, serta 42 korban luka-luka.
Kementerian tersebut menambahkan bahwa banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan atau tergeletak di jalan-jalan karena tim ambulans dan pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka akibat pemboman 'Israel' yang terus berlangsung.
Pihak kementerian juga mencatat bahwa sebanyak 1.168 warga Palestina telah tewas dan 3,798 lainnya luka-luka sejak 'Israel' melanjutkan agresi militer pasca-runtuhnya gencatan senjata pada 11 Oktober. Selain itu, pihak berwenang berhasil mengevakuasi 802 jenazah selama periode tersebut.
Secara keseluruhan sejak 7 Oktober 2023, genosida 'Israel' di Gaza telah menewaskan 73.293 warga Palestina dan melukai 173.906 orang lainnya, berdasarkan data resmi pemerintah Palestina. (zarahamala/arrahmah.id)
