BAMAKO (Arrahmah.id) – Situasi keamanan di Mali kembali memanas setelah serangkaian serangan terkoordinasi yang mengguncang sejumlah wilayah strategis, termasuk Kati, Kidal, Gao, Sevare, hingga ibu kota Bamako. Serangan tersebut disebut melibatkan dua kekuatan bersenjata yang sebelumnya memiliki sejarah konflik dan perbedaan ideologis: Jamaah Nusratul Islam wal Muslimin (JNIM) yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, dan Front Pembebasan Azawad (FLA) yang berhaluan separatis-Tuareg.
Menurut laporan yang dikutip dari Al Jazeera, aksi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan operasi terkoordinasi yang menargetkan pemerintahan militer Mali di bawah Presiden Dewan Militer, Jenderal Assimi Goita.
Jejak Lama: Dari Aliansi 2012 hingga Perpecahan
Hubungan antara kelompok jihad dan gerakan separatis Tuareg bukan hal baru. Pada 2012, kelompok Ansharuddin yang kemudian menjadi bagian dari JNIM sempat bersekutu dengan Gerakan Nasional Pembebasan Azawad. Aliansi tersebut bahkan berhasil menguasai sejumlah kota besar di wilayah utara Mali seperti Gao, Timbuktu, dan Kidal.
Namun, perbedaan ideologi dan visi negara menyebabkan aliansi itu runtuh dalam waktu singkat, memicu konflik internal dan perpecahan antara kelompok-kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Dari konferensi sebelumnya yang diselenggarakan oleh Gerakan Nasional Pembebasan Azawad di kota Gao untuk membahas deklarasi negara. (Al Jazeera)
Peran Figur Kunci: Iyad Ag Ghali
Sosok Iyad Ag Ghali disebut menjadi figur penting yang menjembatani dua dunia berbeda ini. Ia memiliki latar belakang sebagai tokoh pemberontak Tuareg sekaligus pendiri jaringan jihad yang kini dikenal sebagai JNIM.
Karena posisi uniknya, Ag Ghali dianggap mampu membuka kembali jalur komunikasi antara kelompok Islamis bersenjata dan faksi separatis Azawad.
Iyad Ag Ghali, pemimpin Tuareg lama dan komandan saat ini dari ‘Jamaah Nusratul Islam wal Muslimin’ (aktivis).
Front Pembebasan Azawad dan Dinamika Baru
FLA sendiri merupakan gabungan beberapa faksi Tuareg yang terbentuk pada November 2024. Kelompok ini secara terbuka menuntut otonomi atau kemerdekaan wilayah Azawad, terutama setelah runtuhnya proses perdamaian sebelumnya di Mali.
Sejak 2025, berbagai laporan intelijen dan lembaga riset keamanan mencatat meningkatnya pola serangan yang menunjukkan kemungkinan adanya koordinasi antara FLA dan JNIM, termasuk operasi terhadap pasukan Mali dan kekuatan asing di wilayah tersebut.
Pejuang dari aliansi Front Pembebasan Azawad bergerak di kota Kidal. (AFP/Perancis)
Faktor Pendorong Aliansi
- Musuh bersama: pemerintahan militer Mali dan kekuatan pendukung asing.
- Kesamaan geografis dan sosial: sebagian besar anggota berasal dari wilayah utara dan tengah Mali.
- Kegagalan proses damai: runtuhnya kerangka Perjanjian Aljir mempersempit opsi politik.
Aliansi Tak Stabil
Meskipun terdapat indikasi kerja sama, para analis menilai hubungan kedua kelompok ini tetap rapuh. Perbedaan ideologi—antara gerakan jihad transnasional dan separatis nasionalis Tuareg—menjadi hambatan utama untuk membentuk koalisi jangka panjang.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah ini sekadar “pernikahan kepentingan” sementara, atau awal dari perubahan besar peta konflik di kawasan Sahel?
(Samirmusa/arrahnah.id)
