Memuat...

Gawat! Gen Z Tidak Aman dalam Sistem Kapitalisme

Oleh Reni Rosmawati Pegiat Literasi Islam Kafah
Jumat, 28 Agustus 2026 / 16 Rabiulawal 1448 12:51
Gawat! Gen Z Tidak Aman dalam Sistem Kapitalisme
Ilustrasi. (Foto: netizen.harianaceh.co.id)

Generasi muda saat ini sedang tidak baik-baik saja. Data Survei Deloitte Gen Z dan milenial mengonfirmasikan bahwa lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Tingginya angka ini didorong oleh tekanan biaya hidup, sistem kerja dan gaji bulanan yang pas-pasan, beban keuangan harian yang membuat tabungan sulit terkumpul, serta kekhawatiran masa depan ekonomi. Kondisi ini mendorong pergeseran gaya hidup ke arah frugal living (hidup sangat hemat) dan penundaan pernikahan, serta menyebabkan gangguan kesehatan mental. (Deloitte.com)

Sebagai pelarian psikologis dari tekanan ekonomi tersebut, Gen Z sering melakukan self-reward, healing, dan gaya hidup konsumtif. Aktivitas ini diakui Gen Z sebagai pengobat stres instan dan penjaga kesehatan emosional (coping mechanism). Membeli makanan enak, kopi mahal, barang, liburan singkat (staycation), atau jalan-jalan di Kafe selepas bekerja, dipercayai Gen Z sebagai cara mengembalikan moodbooster (suasana hati) menjadi lebih baik.

Mirisnya, alih-alih mengontrol keuangan, pengeluaran impulsif ini untuk justru berakibat pada pemborosan alokasi belanja Gen Z. Dilansir dari Prudential.co.id (10/6/2026), biaya self-reward Gen Z berkisar 10-20% dari total gaji bulanan atau setara Rp300.000-Rp600.000 dari total gaji yang rata-rata Rp1,9 juta-Rp3 juta per bulan.

Akibat Sistem Kapitalisme

Semua permasalahan yang menimpa Gen Z di atas tentu bukan hanya sebatas persoalan kebiasaan individu. Melainkan dampak dari sistem kapitalisme sekuler yang sedang diterapkan oleh negara. Sistem ekonomi berbasis kapitalisme memicu ketimpangan karena keuntungan hanya berpusat pada pemilik modal atau perusahaan. Sedangkan pekerja kerap diposisikan sebagai roda penggerak produksi yang harus menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan tetapi dengan upah minimum. Beban kerjanya berat, pertumbuhan upahnya lambat, belum lagi harus dipotong pajak penghasilan yang menjadikan gaji yang diterima semakin tipis. Dalam kondisi ini mereka harus berhadapan dengan harga kebutuhan pokok, kesehatan, pendidikan, dan keamanan yang terus meningkat. Akhirnya, terjadilah tekanan finansial berat, yang berdampak pada gangguan mental. Karena antara pemasukan dan kebutuhan terlalu timpang dan menjadi tidak seimbang.

Ironisnya, dalam kondisi demikian negara yang seharusnya hadir memberikan jaminan kesejahteraan dan kewarasan mental rakyat justru lepas tangan dari kewajibannya. Sebab dalam sistem kapitalisme negara hanya berperan sebagai regulator dan fasilitator bagi kepentingan para kapital, bukan pengurus rakyat, sehingga generasi muda berjuang sendiri menghadapi tantangan ekonomi.

Sistem kapitalisme pun menuntut produktivitas tinggi dan waktu kerja lama dari para pekerja, termasuk Gen Z. Beban kerja yang melewati batas normal ini akhirnya memicu kelelahan mental, sehingga menjadikan Gen Z memilih self-reward sebagai pelarian psikologis dan cara cepat untuk merasa senang. Meskipun aktivitas tersebut justru berakhir pada pemborosan keuangan.

Kondisi ini diperparah dengan masuknya budaya sekuler liberal yang memandang kesenangan dan belanja sebagai salah satu tujuan kebahagiaan. Di sisi lain, media sosial turut memberi pengaruh besar melalui tren berbagai kemewahan hidup. Pada akhirnya, terjadilah lingkaran antara kelelahan mental dan konsumsi berlebihan. Gen Z terjebak Fear of Missing Out (FOMO) atau merasa takut tertinggal dari tren, pengalaman, atau momen yang dirasakan orang lain. Hal ini kemudian menjadikan Gen Z melakukan pembelian impulsif demi terlihat sama dengan lingkungannya.

Dari sini, jelaslah bahwa penerapan sistem kapitalismelah muara dari berbagai tekanan hidup yang saat ini dialami Gen Z. Karena itu, Gen Z harus menyadari betapa pentingnya mencari solusi untuk menumbangkan sistem rusak ini, lalu menggantinya dengan sistem yang benar, yang akan memberikan rahmat dan kebaikan bagi seluruh alam. Sistem itu tiada lain adalah Islam.

Islam Menjamin Kebutuhan Dasar Rakyat

Sungguh, tekanan hidup yang menimpa Gen Z hingga berakibat tekanan mental tak akan pernah terjadi jika negara menerapkan sistem Islam. Ini karena Islam memandang generasi, termasuk Gen Z sebagai agen perubahan, kekuatan, dan pilar pengokoh negara. Karena itu mereka harus dilindungi dan dijaga mentalnya agar kuat menghadapi masa depan.

Sebagai penjagaan bagi generasi, Islam akan menempatkan negara sebagai raa'in (pengurus) dan penanggung jawab seluruh kebutuhan dasar rakyat. Sandang, pangan, papan dijamin negara melalui mekanisme penyediaan lapangan pekerjaan bagi para pencari nafkah dengan upah yang layak dan tentunya tanpa ada pungutan apapun sebagaimana dalam sistem kapitalisme.

Untuk mewujudkan hal ini negara akan melakukan pengelolaan SDA secara mandiri, sehingga akan tercipta lapangan pekerjaan baru dan luas bagi rakyat. Hasil dari pengelolaan SDA ini juga akan didistribusikan kepada rakyat berupa pemenuhan kebutuhan kolektif seperti kesehatan, keamanan, dan pendidikan. Negara juga akan memberikan modal usaha secara cuma-cuma kepada rakyat yang membutuhkan. Negara pun akan mengambil alih tanah yang ditelantarkan tiga tahun berturut-turut oleh pemiliknya. Kemudian menyerahkan tanah itu kepada warga lain yang dapat menghidupkannya. Dengan begitu semua rakyat produktif dan memiliki mata pencaharian.

Dalam sistem ekonomi Islam, distribusi keuntungan tidak hanya berpusat pada pengusaha. Hubungan kerja didasarkan pada keadilan, transparansi, dan kerja sama yang seimbang antara pemilik modal dan pekerja. Keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan awal, tidak stagnan, apalagi merugikan salah satu pihak. Pekerja berhak mendapatkan upah yang layak sesuai jenis pekerjaan, waktu bekerja, dan tempat pelaksanaannya.

Negara Islam juga akan memupuk generasi dengan pendidikan berbasis akidah Islam sejak dini. Tujuannya, untuk membentuk akidah yang kokoh pada diri generasi sehingga mereka memiliki arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan yakni beribadah dan meraih rida Allah. Sebagaimana firman Allah Swt.: “Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan bukan hanya soal mengejar kesenangan duniawi tetapi menjalankan penghambaan kepada Allah. Meskipun demikian, Islam tidak melarang kesenangan. Bersenang-senang ataupun self-reward boleh, asalkan tidak berlebih-lebihan karena Allah tidak menyukainya. Dalilnya QS. Al-A’raf ayat 31.

Untuk memperkuat proses pembentukan akidah ini, negara akan mengontrol media sosial dan menutup celah gaya hidup hedonis maupun konsumtif. Media hanya akan diarahkan untuk menayangkan edukasi yang memupuk ketakwaan dan semangat jihad fii sabilillah. Dengan begitu, maka generasi akan memiliki visi misi sebagai pembangun peradaban Islam yang gemilang.

Itulah langkah-langkah komprehensif yang dimiliki sistem Islam untuk menjaga mental generasi. Semua itu bukan hanya cerita dongeng masa lalu, namun benar-benar terbukti nyata dan tercatat dalam sejarah. Selama 13 abad, negara Islam mampu melahirkan kebaikan, generasinya berkualitas dan sejahtera. Karena itu, sudah semestinya Gen Z berjuang mengembalikan sistem Islam di tengah kehidupan.
Wallahua'lam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya