Memuat...

Hizbullah Pukul Mundur Infanteri 'Israel' di Majdal Zoun Saat IDF Coba Tembus 10 Km Wilayah Lebanon

Zarah Amala
Sabtu, 13 Juni 2026 / 28 Zulhijah 1447 10:52
Hizbullah Pukul Mundur Infanteri 'Israel' di Majdal Zoun Saat IDF Coba Tembus 10 Km Wilayah Lebanon
Lokasi serangan udara 'Israel' yang menargetkan kota Nabatieh di Lebanon selatan (AFP)

BEIRUT (Arrahmah.id) - Resimen tempur Hizbullah mengumumkan bahwa para prajuritnya terlibat dalam pertempuran jarak dekat yang sengit untuk menghadang laju pasukan infanteri mekanis 'Israel' yang mencoba merangsek maju ke beberapa desa di Lebanon Selatan pada Jumat (12/6/2026). Kontak tembak ini menandai keruntuhan de facto atas sejumlah kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan sebelumnya, seiring dengan eskalasi serangan udara dan darat 'Israel' yang kian tidak terkendali.

Dalam pernyataan resminya, Hizbullah mengonfirmasi bahwa unit pertahanan mereka membombardir pasukan 'Israel' yang mencoba menduduki kota Majdal Zoun, terletak sekitar 5 kilometer dari garis perbatasan, menggunakan rentetan roket secara berturut-turut hingga memaksa pasukan tersebut mundur. Tak lama berselang, infanteri 'Israel' kembali mencoba menerobos pinggiran kota yang sama, memicu pertempuran infanteri jarak dekat menggunakan senjata ringan, senapan mesin sedang, dan granat berpeluncur roket (RPG).

Bersamaan dengan pertempuran darat, militer 'Israel' (IDF) mengintensifkan serangan udara dan artileri dari garis pantai hingga pegunungan. Helikopter tempur 'Israel' melakukan penyisiran tembakan masif di sekitar Bukit Ali Al-Tahir dengan menjatuhkan bom-bom bakar (fosfor/insendier). Serangan udara paralel juga menghantam kota Barish di distrik Tyre dan kota Kfarsir.

Juru bicara militer 'Israel' mengeluarkan perintah pengosongan darurat bagi penduduk di tiga desa strategis Lebanon Selatan, yang biasanya menjadi sinyal awal sebelum dimulainya bombardemen karpet.

Tentara 'Israel' di lapangan secara kontroversial menghadang dan memboikot konvoi bantuan kemanusiaan yang dipimpin langsung oleh Duta Besar Vatikan (Nuncio Apostolik) untuk Lebanon, yang sedianya hendak menyalurkan logistik ke desa-desa komunitas Kristen di selatan, dan memaksa mereka memutar balik.

Krisis militer ini mencerminkan macetnya jalur diplomasi internasional. Gencatan senjata yang sempat diumumkan pada 17 April 2026, serta kesepakatan gencatan senjata bersyarat hasil pertemuan Washington minggu lalu, terbukti tidak bernyawa di lapangan.

Dari sisi politik, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan kembali posisi Teheran bahwa mereka sama sekali tidak akan membiarkan Hizbullah sendirian menghadapi 'Israel'. Araghchi menyatakan bahwa berkas keamanan Lebanon secara eksplisit akan dimasukkan ke dalam draf Nota Kesepahaman (MoU) 14 poin yang sedang digodok bersama Amerika Serikat.

"Penghentian perang harus mencakup Lebanon dan seluruh front perlawanan lainnya. Lebanon adalah bagian tak terpisahkan dari penyelesaian komprehensif apa pun untuk mengakhiri perang di Timur Tengah," tegas Abbas Araghchi.

Invasi militer 'Israel' ke Lebanon sejak 2 Maret telah mencatatkan rekor penyerangan darat terdalam sejak 2000. Dampak dari agresi tersebut sangat mematikan bagi warga sipil, di mana korban jiwa yang berjatuhan telah menembus angka lebih dari 3.710 warga Lebanon tewas serta mengakibatkan belasan ribu lainnya mengalami luka-luka.

Dari sudut pandang taktis di lapangan, kedalaman penetrasi darat militer 'Israel' (IDF) dilaporkan telah merangsek maju hingga lebih dari 10 kilometer menembus ke dalam wilayah kedaulatan Lebanon, yang menandai manuver serta penetrasi militer terjauh dan terdalam mereka sejak penarikan mundur total pasukan 'Israel' dari wilayah Lebanon Selatan pada 2000 silam.

Dengan terus bergeraknya tank-tank 'Israel' melampaui batas zona penyangga internasional, para analis militer menilai 'Israel' tengah berupaya mengamankan keuntungan teritorial sebanyak mungkin sebelum tekanan diplomatik regional memaksa mereka menghentikan operasi militer secara permanen. (zarahamala/arrahmah.id)