Memuat...

'Israel' Ancam Pembunuhan dan Pengosongan Permukiman Gaza sebagai Respons terhadap Layang-Layang

Zarah Amala
Senin, 24 Agustus 2026 / 12 Rabiulawal 1448 10:47
'Israel' Ancam Pembunuhan dan Pengosongan Permukiman Gaza sebagai Respons terhadap Layang-Layang
Media 'Israel' melaporkan bahwa layang-layang diluncurkan dari Gaza (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan 'Israel' Yisrael Katz mengancam akan melakukan pembunuhan terarah serta mengosongkan sejumlah kawasan di Gaza sebagai respons terhadap dugaan peluncuran layang-layang dan balon dari Jalur Gaza menuju permukiman 'Israel' di sekitar wilayah tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, media 'Israel' melaporkan adanya sejumlah layang-layang yang disebut diterbangkan dari Gaza menuju permukiman yang berbatasan dengan wilayah Palestina. Media 'Israel' menyebut layang-layang tersebut tidak membawa bahan peledak.

Kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan mengatakan 'Israel' akan mengosongkan wilayah tempat balon, drone, dan layang-layang diluncurkan dari Gaza. 'Israel' juga mengancam akan meningkatkan serangan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab apabila Hamas tidak segera menghentikan peluncuran tersebut.

Netanyahu menegaskan 'Israel' tidak akan kembali pada situasi sebelum 7 Oktober 2023 dan tidak akan membiarkan pihak mana pun di Gaza mengancam permukiman 'Israel' maupun keamanan negara tersebut.

Netanyahu dan Katz menggelar pertemuan bersama para pimpinan militer 'Israel' untuk membahas apa yang disebut kantor perdana menteri sebagai ancaman drone dan layang-layang dari Gaza.

Katz mengatakan dirinya telah memerintahkan militer 'Israel' untuk bertindak keras terhadap peluncuran balon, layang-layang, dan drone dari Gaza menuju permukiman di sekitar wilayah tersebut.

Menurutnya, langkah tersebut mencakup penargetan para pemimpin Hamas yang dianggap bertanggung jawab atas peluncuran, para pelaku, serta pengosongan kawasan tempat peluncuran dilakukan.

'Israel' juga disebut akan menargetkan infrastruktur yang mereka klaim berkaitan dengan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.

Katz menyebut setiap peluncuran layang-layang sebagai tindakan perang dan mengancam akan mengejar siapa pun yang mengorganisasi, melakukan, ataupun mengizinkan peluncuran tersebut.

"Balon seperti layang-layang, layang-layang seperti drone, baik membawa bahan peledak maupun tidak," kata Katz.

Ia kembali menegaskan 'Israel' tidak akan membiarkan situasi kembali seperti sebelum 7 Oktober 2023 dan bahwa siapa pun yang terlibat dalam peluncuran akan ditindak segera dan dengan ketegasan maksimal.

Hamas menilai pernyataan kantor Netanyahu menunjukkan adanya niat untuk melanjutkan serangan terhadap Gaza serta menjalankan rencana pengusiran warga Palestina dengan menggunakan alasan yang dibuat-buat.

Hamas mengatakan ancaman untuk menyerang Gaza hanya karena layang-layang merupakan upaya untuk membenarkan agresi dan mengancam anak-anak Palestina.

Kelompok tersebut menyerukan kepada Amerika Serikat dan para mediator agar memaksa 'Israel' menjalankan peta jalan menuju gencatan senjata yang nyata di Gaza.

Hamas juga meminta Washington dan para mediator menjalankan tanggung jawab mereka dengan menghentikan tindakan 'Israel' serta mengecam eskalasi yang dilakukan.

Media penyiaran 'Israel' sebelumnya mengutip sumber militer yang mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir ditemukan 10 layang-layang tanpa bahan peledak di permukiman sekitar Gaza.

Sumber tersebut mengatakan pihak 'Israel' sedang menyelidiki kemungkinan bahwa Hamas menggunakan layang-layang tersebut untuk mengamati kondisi di wilayah sekitar perbatasan.

Surat kabar Yedioth Ahronoth juga mengutip sejumlah sumber yang mengatakan bahwa saat ini layang-layang tersebut "hanya layang-layang", tetapi pada masa mendatang bisa digunakan untuk membawa kamera atau bahan peledak.

Sejumlah media 'Israel' bahkan menyebut fenomena tersebut sebagai teror layang-layang, meskipun layang-layang yang ditemukan tidak mengandung bahan peledak.

Istilah tersebut merujuk pada peristiwa 2018 ketika layang-layang dan balon pembakar diluncurkan dari Gaza dan menyebabkan kebakaran di lahan pertanian permukiman 'Israel' di sekitar Gaza. Peristiwa itu berlangsung bersamaan dengan aksi Great March of Return yang dimulai pada Maret 2018.

'Israel' melancarkan perang di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 yang, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip dalam laporan tersebut, telah menewaskan 73.420 warga Palestina dan melukai 174.369 lainnya.

Meskipun gencatan senjata disepakati pada Oktober 2025, laporan tersebut menyebut 'Israel' masih melakukan serangan yang menyebabkan jatuhnya korban hampir setiap hari. (zarahamala/arrahmah.id)