DAMASKUS (Arrahmah.id) -- 'Israel' melancarkan serangan pesawat nirawak ke sebuah kendaraan di Beit Jinn, wilayah pedesaan barat daya Damaskus, Suriah, Sabtu (22/8/2026). 'Israel' menyatakan serangan itu menargetkan seorang yang disebutnya “teroris”, sementara pemerintah Suriah mengatakan yang diserang adalah kendaraan sipil dan menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Suriah. Sejumlah warga dilaporkan terluka dan televisi pemerintah Suriah menyebut sedikitnya satu orang mengalami luka.
Militer 'Israel' mengatakan, seperti dilansir Reuters (23/8), target serangan merupakan seseorang yang aktivitasnya dianggap menimbulkan ancaman langsung terhadap pasukan 'Israel'. Dalam pernyataannya, militer 'Israel' mengklaim orang tersebut sedang berada pada tahap akhir persiapan serangan teror. Israel tidak menjelaskan secara rinci identitas target maupun jenis senjata yang digunakan dalam operasi tersebut.
Versi Damaskus berbeda. Kementerian Luar Negeri Suriah menyatakan sebuah pesawat nirawak 'Israel' menghantam kendaraan sipil di jalan dekat Desa Beit Jinn dan menyebabkan korban dari kalangan warga sipil. Pemerintah Suriah menilai serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian serangan 'Israel' terhadap wilayah Suriah.
“Serangan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah Suriah, serta pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.” Pernyataan tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri Suriah, yang juga meminta komunitas internasional dan Dewan Keamanan PBB mengambil langkah untuk menghentikan serangan Israel.
Lokasi serangan, Beit Jinn, berada sekitar 55 kilometer dari Damaskus, dekat kawasan Jabal al-Sheikh dan tidak jauh dari Dataran Tinggi Golan. Menurut laporan Al Jazeera, kendaraan yang terkena serangan merupakan truk kecil yang digunakan untuk mengantarkan barang. Seorang sumber medis menyebut seorang korban berada dalam kondisi stabil dengan luka pada tangan kanannya.
Serangan itu terjadi hanya beberapa hari setelah 'Israel' melakukan serangkaian serangan udara terhadap pangkalan udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah utara. Serangan terhadap pangkalan tersebut menambah ketegangan antara Israel, Suriah dan Turki. Utusan khusus Amerika Serikat untuk Suriah dan Irak sekaligus Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, sebelumnya menyebut serangan terhadap pangkalan itu sebagai eskalasi yang tidak perlu.
Barrack bahkan mengatakan terdapat kemungkinan serangan terhadap Abu al-Duhur dimaksudkan untuk memancing Turki.
“Salah satu teorinya adalah mereka hanya sedang memancing Turki,” kata Barrack dalam wawancara yang dikutip Al Jazeera.
Ia juga mengatakan 'Israel' tidak memberi pemberitahuan kepada Amerika Serikat sebelum serangan terhadap pangkalan tersebut. Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz kemudian membantah pernyataan Barrack dan menyebutnya penuh ketidakakuratan.
Ketegangan Israel-Suriah kini berlangsung di tengah upaya Damaskus mempertahankan jalur diplomasi. Seorang sumber diplomatik Suriah mengatakan pemerintah Suriah masih berkomitmen pada deeskalasi dan berusaha mencapai pengaturan keamanan dengan 'Israel' melalui mediasi Amerika Serikat, dengan mengacu pada Perjanjian Pelepasan Pasukan 1974.
Dari sisi regional, Qatar turut mengecam serangan tersebut. Kementerian Luar Negeri Qatar menyebutnya sebagai agresi yang tidak dapat diterima dan pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah. Doha juga memperingatkan bahwa tindakan 'Israel' terhadap negara-negara di kawasan merupakan eskalasi berbahaya dan bertentangan dengan prinsip hukum internasional.
Serangan terbaru ini menunjukkan bahwa ketegangan di Suriah selatan belum mereda setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Reuters melaporkan pasukan Israel masih beroperasi di wilayah selatan Suriah dan Israel menguasai sejumlah wilayah di barat daya Suriah yang direbut setelah pergantian pemerintahan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
