DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Sebuah alat peledak meledak di sebuah bus yang membawa personel Pasukan Keamanan Internal Suriah di wilayah pedesaan Damaskus pada Sabtu (22/8/2026), menyebabkan enam personel keamanan terluka. Ledakan terjadi di ruas Maarounah–Al-Tall, sementara aparat Suriah langsung membuka penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku.
Dilansir Anadolu Agency (23/8), bom pinggir jalan tersebut menyasar bus yang sedang membawa anggota Pasukan Keamanan Internal. Beberapa personel mengalami luka, meskipun laporan awal tidak merinci tingkat keparahan seluruh korban. Sumber keamanan mengatakan aparat sedang mengejar pihak yang bertanggung jawab atas pemasangan alat peledak tersebut.
Sumber resmi yang dikutip Qatar News Agency (QNA) menyebut jumlah korban luka mencapai enam orang. Bus tersebut sebelumnya dilaporkan berada di lokasi dan menjadi sasaran alat peledak yang kemudian meledak. Aparat terkait telah dikerahkan untuk mengamankan lokasi serta mengusut bagaimana perangkat itu dipasang.
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Karena itu, motif maupun identitas pelaku belum dapat dipastikan. Pernyataan mengenai kemungkinan keterlibatan kelompok tertentu juga belum dapat diverifikasi secara independen.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan melalui kementeriannya mengecam serangan tersebut dan menyatakan dukungan Riyadh terhadap pemerintah serta rakyat Suriah. Arab Saudi menyebut insiden itu sebagai “serangan teroris” dan menyatakan solidaritas penuh kepada Suriah dalam menghadapi ekstremisme dan terorisme.
Dalam pernyataan terpisah, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi juga mengecam ledakan tersebut. Yordania menyatakan menolak segala bentuk kekerasan dan terorisme yang dapat mengancam keamanan serta stabilitas Suriah, sekaligus menegaskan dukungan terhadap keamanan, kedaulatan dan integritas wilayah negara tersebut.
“Kami menolak segala bentuk kekerasan dan terorisme yang bertujuan merusak keamanan dan stabilitas Suriah,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Yordania yang disampaikan atas nama pemerintah Yordania.
Serangan tersebut terjadi ketika pemerintahan baru Suriah masih berupaya mengonsolidasikan keamanan setelah perubahan politik besar di negara itu. Pemerintah Suriah sebelumnya berulang kali menuding sisa-sisa jaringan rezim Bashar al-Assad berupaya menciptakan kekacauan dan mengganggu proses transisi, meskipun tuduhan tersebut tidak berarti kelompok tersebut terbukti berada di balik ledakan kali ini.
Insiden ini juga bukan ledakan pertama yang menyasar kendaraan di kawasan sekitar Damaskus dalam bulan ini. Pada awal Agustus, sebuah alat peledak yang ditempatkan di dalam minibus di Jaramana, pedesaan Damaskus, menyebabkan korban tewas dan luka-luka. Dalam kasus tersebut, aparat juga melakukan penyelidikan mengenai pihak yang memasang bom.
Hingga laporan terakhir, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab, sementara penyelidikan masih berlangsung. Karena itu, penyebutan insiden sebagai “serangan teroris” dalam berita ini merujuk pada istilah yang digunakan pemerintah Arab Saudi dan Yordania, bukan kesimpulan independen mengenai pelaku maupun motif serangan. (hanoum/arrahmah.id)
